Friday, May 10, 2019

✔️Vampire Bat | Menulis Dapat Menghasilkan Karya



"Ayo.... Dorong keluar... Ambil nafas dalam-dalam lalu dorong..." Arahan ibu bidan. "Sedikit lagi,,, ayo Linda,,, kamu pasti bisa." Lanjut ibu bidan menyemangati.

Dari dalam kamar tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi.

"Alhamdulillah,, anakku sudah lahir." Dibalik tirai Asep sang suami mengucapkan syukur tiada terkira. Dia lalu masuk dan rasa kaget serta ketakutan dimulai. Bau darah menyeruak dimana-mana.




"Begitulah kejadiannya broh, anak ibu Linda dimangsa kelewar jadi-jadian. Katanya sih disana kelelawar itu disebut kelelawar vampir. Dan tahu tidak, kepala ibu bidan harus dijahit 12 jahitan akibat melawan kelelawar itu!" Edi kembali bercerita. Yap, Edi sahabatku yang penuh dengan cerita mistis serta makhluk-makhluk khalayannya itu. Tahu kan, dia bahkan menceritakan kisah-kisah menyeramkan berbeda setiap hari. Cerita itu juga diceritakan selama sehari penuh hingga kisahnya tamat. Ya, begitulah Edi.

"Emang kejadian ini nyata ya Ed?" Tanya Siska, teman sekelasku yang juga hobi dan maniak dengan horor. Dia bahkan disebut-sebut sebagai ratu horor disekolahku. Kenapa dijuluki demikian? Begini ceritanya. Suatu hari sekolah kami menampilkan drama horor, dan semua orangtua datang untuk menonton pertunjukan anak-anak mereka semua. Kalian tahu apa yang diusulkan untuk perannya, "Saya ingin menjadi kuntilanak". Lalu apa yang terjadi saat pentas drama, para ibu-ibu ketakutan bahkan ada yang lari terbirit-birit akibat ketakutan melihat Siska dengan kostum menyeramkan dirinya.

"Iya Sis, ini kisah nyata. Kejadiannya ada dikampung nenekku," jelas Edi.

"Ohh" Siska hanya ber-oh ria didepan Edi.

"Kamu percayakan Vin?" Tanya Edi padaku.

"Emm,,, bagaimana ya!" Gumamku. "Aku akan percaya kalo aku melihat dengan mataku sendiri!" Bisikku menoleh kearah pintu kelas.

***

Pak Iwan kini ada didepan mata, dia mengajar mata pelajaran sejarah. Ocehannya tidak membuat para siswa menatap kearah lain. Mereka tetap menuju padanya.

"Ayo kita ke rumah nenekku besok siang, besok dan lusa kan libur. Sekalian kita bisa buktikan kalo kelelawar jadi-jadian itu ada," bisik Edi disela-sela ocehan pak Iwan.

"Ok, siap,".

***
Malam yang gelap di desa nenek Edi. Rumah dengan dinding dari papan membuat kami yang ada dalam rumah itu dapat melihat seisi jalanan diluar sana. Tidak ada satu pun yang tertutup. Tempat tidur saja tidak memiliki pintu, hanya tirai sebagai penutupnya. Sungguh pedesaan yang masih bisa dikatakan sebagai desa yang kuno dan tradisional. Bahkan didesa ini tidak memiliki listrik, dan hanya mengandalkan obor dan lentera.

"Untung saja aku membawa powerbank." Ucapku pada Edi saat kami sedang duduk-duduk di kursi depan rumah.

"Hahaha, aku lupa memberitahukanmu kalau disini pedesaan yang masih menjunjung rasa tradisional, bukan modern seperti di kota tempat tinggal kita." Edi hanya terkekeh lalu mengeluarkan handphone miliknya.

"Kalian sedang apa?" Tanya nenek Edi.

"Eh nenek, kami hanya duduk-duduk menikmati malam ini nek. Udara disini sangat sejuk dan menyegarkan." Ucapku sambil tersenyum pada nenek Edi.

Nenek Edi orangnya sangat baik. Saat kami sampai saja dia langsung membawa kami untuk makan makanan yang telah disiapkannya. Bahkan menceritakan kejelekan cucunya dihadapanku sendiri. "Edi sering mengompol waktu kecil. Dia bahkan menangis saat mainannya direbut Siti tetangga sebelah. Dia sangat cengeng," ceritanya pada waktu makan siang tadi. Edi hanya menunduk malu dan mencoba menutup mulut nenek kesayangannya itu. Hahahaha.

"Nek, ceritakan dong tentang Kelelawar Vampir," kata Edi menatap nenek.

"....."

"Ayolah nek, aku ingin mendengarnya sekali lagi," rengek Edi.

"Baiklah, tapi kita ceritakan itu didalam rumah, tidak baik untuk menceritakan hal ini diluar rumah."

Kami bertiga pun masuk kedalam rumah dan duduk diatas kursi.

"Cerita ini sebenarnya masih menjadi misteri dan kami semua tidak tahu apakah ini nyata atau tidak. Tapi semua kejadian yang ada pun membuktikan kenyataannya bahwa ini memang ada," ucap nenek Edi lalu memperbaiki kursi yang didudukinya lalu melanjutkan ceritanya, "Saat itu, anak pak Kades sedang mengandung dan malamnya akan melahirkan. Semua orang termasuk nenek datang kesana. Memang kebiasaan orang-orang dikampung ini saat ada keluarga besar di kampung yang akan melahirkan maka kami semua akan datang kesana untuk menjemput bayi yang akan menjadi salah satu bagian kami. Apalagi ini adalah anak kepala kampung jadi semua orang datang kesana. Malam itu bagaikan pesta perkawinan, makanan ditaruh dimeja makan, minuman dengan berbagai rasa dan warna dihidangkan, kue-kue manis pun turut dinikmati," nenek Edi lalu mengambil nafas panjang. Biasa kalau sudah nenek-nenek, nafasnya nggak terlalu panjang lagi, hahaha. "Saat itu jam setengah dua belas malam. Orang-orang sedang menunggu diluar ruangan. Ibu bidan sedang mengurus anak pak Kades yang sedang melahirkan. Suaminya pun turut menunggu dan was-was dengan anaknya yang akan lahir ini. Lalu..... " ucapan nenek terhenti begitu saja.

Tiba-tiba.....

Nenek pingsan.

TAMAT

***

No comments:

Ads

loading...