Friday, May 10, 2019

☑️Nature | Menulis Dapat Menghasilkan Karya



Kelabang itu menertawakan sang serigala yang tersedak tikus mungil dimulutnya. Saking kerasnya tawa kelabang, sehingga membangunkan monyet yang berjarak 3 km jauhnya. Serigala hanya melompat tak karuan lalu jatuh ketanah dan meminta air untuk diminumnya. Namun, kelabang masih saja menertawakan serigala malang itu.

Lain halnya di seberang jalan raya. Anak ayam yang sudah sejam tadi masih saja berdiri dipinggir jalan menatapi induknya yang dari tadi mengarahkan untuk menyeberang. Bulu-bulunya tertiup angin dari beberapa roda mobil dan motor yang tidak ada henti-hentinya berlalu-lalang. “Ayo kemari...” panggil sang induk, namun karena ketakutan, anak ayam itu masih berdiri tak berpindah tempat sedikitpun dari tempat dia berdiri.

Di tempat lain, kodok beradu mulut dengan jangkrik. Mereka mempermasalahkan “Siapa yang lebih merdu suaranya”. Dalam gelapnya malam, suara lantunan teriakan mereka berdua terdengar indah saling bergantian satu sama lain. Apalagi yang menengahinya adalah burung hantu. Menambah kesan merdu bak pemain band terkenal.

Berbeda dengan tanah dan air yang saling beradu memperlihatkan keunggulan masing-masing. Tanah mengandalkan daya hisap dan kokohnya digunakan untuk menopang sebuah rumah batu diatasnya. Sedang Air memamerkan indahnya lautan serta dinginnya air hujan yang menetes dan memperlihatkan keajaiban setelah hujan berhenti. Ya, dia menciptakan tujuh warna indah yang disebut pelangi. Api yang disana menatapi mereka berdua mendekat, dia cemburu dengan sifat tanah dan air. Dia memperlihatkan warna-warna menyala membara pada dirinya. Dengan menggunakan tubuhnya, dia dapat men-debu-kan kertas. Angin tidak ingin kalah,dengan tiupannya saja, semua yang berdiri dapat runtuh karenanya. Udara lebih hebat lagi. Tanpanya semua akan mati.

***

No comments:

Ads

loading...