Friday, May 10, 2019
☑️Fear | Menulis Dapat Menghasilkan Karya
Aku berjalan ke arah kamar mandi. Tampaknya, seseorang mengikutiku dari belakang. Aku yakin itu. Aku berhenti untuk mencoba meyakinkan diriku ini. Ternyata sekelebat bayangan terlintas kearah belakang tembok lalu menghilang. Dalam pikiranku ini pasti teman-temanku ingin mengerjaiku dan menakut-nakutiku. “Hahaha kalian ingin bermain-main denganku ya,!!!” ucapku dalam hati. Aku lalu melanjutkan perjalanku ke dalam kamar mandi. Aku berhenti dan mencoba mendengar apa yang akan mereka lakukan padaku. Terdengar suara cekikikan sangat ringan dibalik pintu kamar mandi. Entah beberapa orang yang berada dibalik pintu seberang. Aku tidak perlu tahu itu.
Beberapa menit kemudian, kudengar sebuah langkah kaki yangberjalan-jalan diluar pintu. Langkah kaki yang agak biasa-biasa saja kini berganti dengan langkah kaki yang terasa berat. Bahkan seakan kaki itu tengah diseret. Aku berfikir untuk mengintipnya dibalik lubang dari bawah pintu. Dan aku lakukan itu. Kulihat, beberapa kaki sedang melangkah dan ada sepasang kaki yang tampak lesu, dan seakan pemilik kaki lainnya menyeret tubuh sang pemilik kaki ini. Aku kaget, mungkin terjadi sesuatu pada seseorang diluar. Dengan cepat kubuka pintu dan apa yang kulihat ini. Segumpal darah segar memenuhi lantai didepan pintu dan tidak ada seorang pun disana.
“Tidak mungkin...!!! Tidak mungkin... Ini cuma hanya hayalanku saja” ucapku berulang-ulang. Disana pun tampak tak seperti tadi. Ruangan itu sudah kotor. Sampah berserakan dimana-mana. Tembok retak dan tampak kusam. Cahaya diluar membias masuk kedalam kamar mandi. Ternyata langit sudah gelap. Aku ketakutan bahkan ingin berlari keluar dari ruangan yang sangat aneh ini. Namun, kakiku tidak bisa kugerakkan. Kakiku seperti batu raksasa yang tidak bisa aku angkat. Aku mencoba sekuat tenaga, namun sangat susah sekali. Kucoba sekali lagi dan lagi hingga akhirnya aku bisa mengangkatnya dan berlari keluar dari kamar mandi menyeramkan itu.
Aku hampir kehabisan nafas saat berlari sekuat tenaga menjauhi ruangan itu. Aku keluar dari tempat yang mengerikan dan hampir menabrak seseorang. “Kamu kenapa?” tanyanya. Seorang kakek tua dengan kantong plastik di tangan kanannya. Dia menatapiku dengan wajah kebingungan. dia lalu menatap dari mana aku datang tadi. Dia tersenyum lalu berkata, “mungkin kau telah ditakuti oleh anak-anak nakal ditempat itu,” tunjuknya. Aku hanya menoleh dan menatap rumah yang berantakan tak karuan didepan mataku itu. lalu kembali menghadap kakek tua tersebut. Namun, kakek tua itu tidak ada. Dia menghilang. Aku lalu lari terbirit-birit meninggalkan tempat aneh itu.
***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Ads
loading...
No comments:
Post a Comment