Friday, May 10, 2019

☑️Misteri Dibalik Kematian Sinta | Menulis Dapat Menghasilkan Karya



Sinta, seorang penari yang diketemukan tewas setelah menengguk sebotol air soda di bar. Dia ditemukan oleh cleaning service didalam wc dalam keadaan tergeletak tak bernyawa dengan mulut berbusa-busa. Tubuhnya berwarna biru dengan kondisi mata melotot dan ditangannya memegang sebuah kertas.

"Aku berjalan masuk ke WC dan melihatnya tergeletak. Aku kira dia pingsan dan hendak menolongnya tapi setelah kulihat mulutnya berbusa-busa pikirku mungkin dia overdosis dan aku langsung memanggil petugas," jelas sang cleaning service yang bekerja pada bar tersebut.

Pihak polisi masih dalam penyelidikan hal ini. Jenazah Sinta kemudian di otopsi dan hasilnya menyatakan bahwa Sinta telah meminum racun sianida. Entah itu berasal dari air soda yang diminumnya atau air minuman lain yang dia minum setelah meminum air soda tersebut.

Air soda pun diamankan dan diperiksa jejak tangan siapa dan apa yang terkandung didalamnya. Dan hanya jejak tangan Sinta pada botol minuman miliknya. Saksi-saksi dikumpulkan untuk ditanya bagaimana Sinta sebelumnya. Bahkan cctv pun di cek dan terlihat Sinta sedang bersama seorang pria sambil bersulang seakan merayakan sesuatu. Disana Sinta tampak seperti biasa-biasa saja. Lalu sinta berpamitan ke WC. Dan di WC itulah Sinta diketemukan tewas.

***

Marni, ibu dari Sinta. Dia sehari-hari bekerja sebagai dosen. Suaminya sedang keluarga negeri. Sesaat setelah mendengar kematian putrinya, Marni shock hingga pingsan beberapa kali. Dia tidak henti-hentinya menangis sambil memeluk foto anaknya tercinta.

"Mata dibayar mata, gigi dibayar gigi, nyawa dibayar nyawa, aku ingin pembunuh anakku mati... Aku ingin dia merasakan apa yang dirasakan anakku.. Akkkhhh,,, lepaskan,,,.lepaassssskkkkkaaaaaannnnnn,,,," histeris dan teriak Marni saat melihat jenazah Sinta didepan matanya.

***

Wendra, ayah Sinta yang terburu-buru pulang dari luar negeri karena mendengar kabar buruk ini. Dia bahkan histeris melihat jenazah anak satu-satunya dimasukkan ke liang lahat tempat peristirahatan terakhirnya. Dia bersumpah, akan membunuh pembunuh Sinta.

***

Ben, pria yang bersama Sinta saat Sinta meminum air soda di bar. Dia mengatakan bahwa dirinya sedang merayakan keberhasilan Sinta yang telah naik jabatan di perusahaan tempat dia bekerja. Dia juga mengatakan bahwa Sinta baik-baik saja saat minum-minum bersamanya. Bahkan Sinta berpamitan ke WC untuk mencuci mukanya.

"Aku adalah teman baik Sinta. Dia baik-baik saja ketika kami minum bersama di bar itu," jelas Ben.

Namun yang patut untuk dicurigai pada Ben yaitu mengapa Ben tidak mencari Sinta setelah beberapa menit dia tidak kembali bersamanya. Bahkan Ben meninggalkan Sinta yang sudah tewas disana.

"Aku kira dia sudah pergi setelah mencuci muka, lantas aku juga pergi setelah kutunggu dia hampir 30 menit dan dia tidak kembali," ungkapnya pada pihak kepolisian.

***

Jack, si cleaning service sekaligus saksi yang menemukan Sinta tergeletak tak bernyawa dalam WC. Dia awalnya membersihkan meja, namun terkena air soda dipakaiannya oleh pengunjung bar. Dengan niat membersihkan pakaiannya itu Jack menuju ke WC dan mendapati mayat Sinta disana. "Aku mencoba menyentuh dan membangunkannya tapi setelah kulihat mulutnya berbusa-busa aku langsung kaget dan memanggil petugas,".

***

Lucas, petugas yang dipanggil oleh Jack. Dia mendapati mayat Sinta tergeletak dengan mulut berbusa-busa serta sebuah kertas pada genggaman tangan Sinta.

"Ditangannya ada kertas yang tertulis sebuah angka dan nama, tapi aku tidak tahu maksud angka itu apa dan siapa pemilik nama itu. '021-Edi', ini tertulis dikertas itu."

***

Dix, teman petugas Lucas. Dia juga melihat kertas itu. Bahkan dia yang menghubungi polisi terdekat. Dia mengatakan bahwa dia dan Lucas dipanggil oleh Jack yang tergesa-gesa datang menemui mereka berdua. Setelah mendengar penjelasan dari Jack bahwa ada mayat di WC maka pergilah mereka mengecek mayat itu.

***

Alex, polisi pertama yang datang ketempat dimana mayat Sinta tergeletak. Dia mengatakan bahwa mayat Sinta tertelungkup dengan kepala menoleh ke kanan dan mulutnya berbusa-busa. Dia juga mengecek nadi Sinta dan pada saat itu Sinta masih dalam keadaan bernyawa. Tapi dalam perjalanan ke rumah sakit, Sinta tak dapat tertolong.

***

Edi, pacar Sinta yang dicurigai sebagai dalang kematian Sinta. Tapi Edi mengelak, bahkan dia berani bersumpah tidak pernah melakukan hal yang gila seperti itu pada pacarnya. Diapun menuduh Ben yang telah membunuh Sinta karena pada saat kematian Sinta, Ben-lah yang bersamanya di bar.

Hal yang perlu dicurigai pada Edi yaitu terdapat nama dirinya pada kertas yang digenggam Sinta. Tapi, apalah artinya kertas itu. Itu tidak membuktikan Edi pembunuhnya. Apalagi Edi tidak terlihat di cctv pemilik bar. Dan pada tiga angka itu masih menjadi pertanyaan publik, angka apakah itu?

Setelah diselidiki sedalam dalamnya, diketahuilah bahwa tiga angka yaitu 021 adalah angka nomor kamar Sinta di hotel tempat tinggalnya.

***

Felix, hakim yang akan memutuskan siapa yang bersalah di pengadilan Sinta. Pihak polisi telah menentukan siapa yang menjadi tersangka, yaitu Ben. Saksi pada pengadilan ini yaitu Jack, petugas Dix dan Lucas, serta Alex.

Sistem pengadilan kini berlangsung. Dan hasil akhir pada pengadilan yaitu Ben dinyatakan tidak bersalah.

Keluarga Sinta histeris, bahkan berteriak mengatai Ben sebagai seorang pembunuh. Ibu Sinta hanya menangis sejadi-jadinya. Sedang ayah Sinta memberontak bahkan memukuli Ben. Namun, semua sudah ditetapkan oleh hakim. Tidak ada lagi yang harus dipermasalahkan. Saksi dan bukti tidak bersangkut paut dengan Ben. Disana Ben tersenyum tanpa terlihat oleh orang-orang. Bukan senyum licik, tapi senyum kesenangan karena tidak masuk dalam masalah yang sangat serius. Memang Ben tidak pernah melakukan hal keji ini pada sahabat karibnya itu.

Masalah selesai.

***

Namun tahukah kalian, siapa otak dibalik kematian Sinta?

Baiklah, akan aku jelaskan.

Andi. Inilah panggilanku. Aku biasa bekerja setiap hari di bar itu. Melayani orang-orang peminum alkohol, bahkan melerai perkelahian jika terjadi hal kacau seperti ini. Namun karena keteledoranku, seseorang meninggal disana. Tepat di WC bar. Aku tidak sengaja menumpahkan bubuk sianida yang akan kugunakan untuk membunuh pemilik bar yang sering mengataiku dengan kata-kata yang luar biasa ditelingaku. Aku bahkan tidak berfikiran untuk membunuh orang lain selain pemilik bar yang tua itu. Namun, hal ini sudah terjadi. Aku hanya diam membisu dan tak mengungkap kebenarannya. Mulutku kini terkunci akan ketakutanku.

Dan tahukah kalian arti kertas bertuliskan 'EDI-021' yang digenggam Sinta. Edi itu adalah nama kecil pemilik bar yang ingin aku singkirkan dan hanya aku saja yang tahu ini, serta 021 adalah kode rahasia yang digunakan Edi untuk menyimpan uang didalam brankas miliknya. Sangatlah aneh bukan? Kenapa nama Edi dan angka rahasia 021 itu ada pada genggaman Sinta. Apakah ini cuma kebetulan ataukah ada dalang di dalam semua kejadian ini. Entahlah. Hanya Allah SWT. yang tahu itu.

***

No comments:

Ads

loading...