Friday, May 10, 2019
☑️Knife | Menulis Dapat Menghasilkan Karya
Aku memegang sebuah pisau ditanganku. Pisau yang berlumuran darah merah kental yang menetes membasahi lantai.
Aku takut?
Aku menatap seseorang yang tergeletak di lantai dengan darah mengucur dari dadanya.
"Apa yang telah aku lakukan?"
Tanganku bergetar saat kutatap pisau ditanganku dengan mata pisau yang mengilap akibat pantulan sinar lampu. Aku melemparnya jauh-jauh. Aku bahkan tidak ingat apa-apa tentang ini semua.
Aku mundur untuk menjauh lalu....
"Akkhhh,,," seseorang menusukku dari belakang. Pedang panjang menembus perutku. Tubuhku kaku. Kutatap cermin yang tetap berada di depanku dan melihat diriku ditusuk oleh bayangan hitam yang tersenyum ke arah cermin.
EYANG
Kata eyang aku harus beristirahat penuh hari ini karena aku akan kedatangan tamu spesial. Masalahnya yaitu darimana eyang akan tahu kalau aku akan kedatangan tamu hari ini. Jika kutanya maka jawabannya tetap sama, "kamu akan tahu sendiri nanti,". Kelihatannya eyang menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku tak bisa tidur walau sekejap. Memikirkan siapa kira-kira tamu spesial yang akan datang. Mungkin kerabat jauh, mungkin sahabat lama, atau mungkin tante Gina yang katanya akan kembali dari Eropa. Entahlah.
Aku menunggu setiap jam, menit, detik namun tidak ada tanda-tanda akan datangnya seorang tamu. Kini hampir sore, namun tidak ada satupun ketukan pintu. Eyang pasti salah, tamu itu tidak pernah datang. Namun, mungkin saja kata eyang itu benar. Aku tetap menunggu tamu itu datang.
"Kamu tidak perlu menunggunya, dia akan datang menemuimu," bisik eyang padaku setelah makan malam selesai. Aku hanya diam mendengarkan kata eyang yang sangat aneh itu. Bahkan kata-kata eyang membuat bulu kudukku berdiri.
Kini menjelang tengah malam. Suara kicauan burung hantu dibalut dengan nyanyian katak mulai terlantunkan secara bergantian menciptakan sebuah nada. Aku masih memikirkan tamu yang dikatakan eyang padaku. Tiba-tiba lampu kamar mati, sontak aku berteriak keras. Aku memanggil ayah dan ibu, namun tidak ada balasan. Semua gelap gulita. Kusinari jalanku dengan cahaya dari layar handphoneku.
Aku berjalan ke kamar ayah dan ibu. Dan ditengah perjalan aku menemukan seseorang yang terbaring. Cepat kulihat dan akkhh, itu ternyata ayah yang bersimbah darah. Aku menangis dengan kerasnya. Kusinari disekitarku dan kutatap ibu disana sama kondisinya dengan ayah. Aku takut. Dan hanya menangis yang bisa aku lakukan.
7 menit berlalu. Tiba-tiba suara seseorang berjalan kearahku. Dia melangkah dengan sangat pelannya. Aku hanya meringkuk takut tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Mungkinkan tamu yang dikatakan eyang padaku adalah tamu yang akan mengambil nyawa kami sekeluarga.
"Klik", lampu tiba-tiba menyala dan kulihat disana sudah berdiri dua orang yang sangat kukenal. Dia adalah ayah dan ibu dengan kue tar di tangannya. Disana juga eyang tersenyum manis padaku. Sahabat, dan teman-teman lainnya juga berdiri disana. Oh ya, baru aku mengingatnya kalau hari ini aku ternyata ulang tahun. Ternyata itu adalah kerjaan keluargaku. Mereka sengaja menakut-nakutiku.
Setelah beberapa menit, eyang membisikkan bahwa dia akan pulang ketempatnya. Aku melarangnya tapi kata eyang dia harus pergi. Jadi aku tidak bisa melarang eyang untuk tidak pergi.
Dikeramaian malam ini tiba-tiba seseorang masuk kerumah dengan tergesa-gesa. "Diluar ada mobil polisi...!!!" ucapnya secara lantang. Kami semua keluar dan melihatnya.
"Ada apa Pak...???" tanya Ayah.
"Anda keluar eyang Mirna...??" balas pak Polis.
"Iya, saya anaknya, ada apa dengan ibu," ayah kembali bertanya.
"Eyang Mirna mengalami kecelakaan saat akan kemari, jenazahnya kini dibawa kerumah sakit untuk diotopsi," jelas pak Polis.
Ucapan pak polisi itu membuatku kaget. Mana mungkin eyang kecelakaan, kan waktu makan malam tadi dia bersama kami, lagipula eyang ada disini di pesta ulang tahunku dan baru saja pulang. "Mana mungkin? Eyang baru saja pergi, dan tadi waktu makan malam dia bersama kami,". Orangtuaku terkejut. Eyang bersama kami..??? Kata ayah, waktu makan malam aku bertingkah aneh dan tidak ada eyang disampingku.
***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Ads
loading...
No comments:
Post a Comment