Kuterbangun dari tidurku. Kulihat disudut sana, boneka itu tampak tersenyum kepadaku.
Akhir-akhir ini memang, aku merasakan keanehan boneka milik kakakku itu. Boneka itu tampak sedih, senang, bahagia jika kulihat-lihat. Memang aku yang saat ini menempati kamar kakakku karena perintah ayah.
Entah aku sering memikirkan kakakku yang terbaring dirumah sakit, atau pikiranku mulai kemana-mana, aku tidak tahu itu. Yang hanya aku rasakan, boneka itu sering memperhatikanku.
Hari ini, kami sekeluarga akan menjenguk kakakku yang sedang dirawat dirumah sakit. Sebelum pergi, semua barang-barang kakakku kurapikan terutama boneka kesayangannya itu. Terlihat dari wajah boneka itu merenung sedih,
sangat sedih, tatapannya hanya menatap kebawah. Tapi, dia hanya boneka, aku tidak peduli padanya.
sangat sedih, tatapannya hanya menatap kebawah. Tapi, dia hanya boneka, aku tidak peduli padanya.
Kulangkahkan kakiku keluar kamar kakakku. "Ayu!" terdengar panggilan yang tidak asing ditelingaku, suara ini seperti suara kakakku. "Siapa?" tanyaku. Tapi tidak ada siapa-siapa dikamar itu. Aku meninggalkan kamar itu kemudian pergi ke rumah sakit dimana kakakku dirawat.
Kulihat boneka milik kakakku sudah ada dimeja dekat dengan kakakku. Entah siapa yang membawanya kemari.
"Ma, siapa yang membawa boneka kakak kemari?" tanyaku kepada mama.
"Mama kira kamu yang membawanya? Bukannya kamu yang kekamar kakakmu tadi?" jawab mama.
"Iya, tapi aku tidak membawa boneka kakak." balasku.
"Ya sudah, mungkin ayahmu yang membawanya. Kamu 'kan tahu, boneka itu adalah boneka kesayangan kakakmu!" perjelas mama.
Kakak belum siuman juga. Sudah dua bulan kakak terbaring dirumah sakit ini. Kakak mengalami kecelakaan bersama suaminya saat datang kepesta ulangtahunku.
Suami kakakku tak henti-hentinya menjaga kakakku setiap harinya.
Malamnya dikamarku, kurasakan sesuatu bergerak-gerak di dalam selimutku. Kubuka, "Kakak, kok kakak ada disini? Bukannya kakak..." tanyaku.
"Ssttt, iya kakak tahu. Tapi kakak rindu kamu Yu', boleh kakak tidur malam ini denganmu."
"Tentu bolehlah kak,".
Malam ini aku tertidur dengan nyenyaknya bersama kakak.
Paginya, "Kakak, kakak dimana? Kak..." tapi tidak ada suara balasan dari kakak. Kupanggil terus, tapi tidak ada jawaban.
Kulihat boneka kesayangan kakak berada dibalik selimutku. Aku menangis, "semalam itu hanya mimpi," kataku sambil terisak-isak.
Mama datang menghampiriku dan memelukku erat, "apa yang terjadi?" tanya mama.
"Semalam Ayu bermimpi, kakak datang kemari dan tidur bersama Ayu disini," kataku sambil terisak-isak meneteskan air mata.
Mama mulai menenangkanku, "Itu hanya mimpi!".
"Tapi, mimpi itu sangat nyata maa," elakku.
"Sudah-sudah, cup-cup, sebentar kita kerumah sakit jenguk kakakmu." kata mama menenangkanku.
Dua jam kemudian mama membawaku kerumah sakit. Kulihat boneka itu masih ada ditempat yang sama saat kemarin aku kesini. "Maa, kok bonekanya ada disini, jelas-jelas bonekanya ada dirumah. Mama lihat 'kan tadi bonekanya ada diatas ranjangku." kataku kepada mama.
"Mama juga tidak tahu, iya mama tadi lihat. Sudahlah jangan dipikirkan soal boneka, kita kesini menjenguk kakakmu." kata mama.
"Iya maa."
Malamnya dirumah sakit, aku bermimpi aneh. Kulihat kakakku berjalan menghampiriku membawa boneka kesayangannya.
"Ayu, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku ini. Kamupun tidak akan percaya apa kata-kataku. Lihat boneka ini, aku ada didalamnya. Aku bersemayam didalamnya Yu'. Tolong aku Yu', tolong aku, aku tidak ingin disini selamanya. Tolong aku...".
Aku terbangun dari mimpi buruk itu. "Hah, apakah itu benar-benar nyata?" aku bertanya-tanya dalam pikiranku.
Aku pulang kerumah saat pagi. Kupandangi boneka itu. Kulihat boneka itu mulai menampakkan senyum manisnya kearahku. Aku tidak percaya akan hal yang baru-baru saja aku alami. Boneka itu tersenyum padaku. "Oh tidaakk, apakah aku sudah mulai agak gila," pikirku.
Aku mulai menangis dan mulai terlelap dari tidurku.
"Ini nyata adikku, ini nyata. Tolong aku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa ada dalam boneka itu. Tolong aku. Kembalikan aku ketubuhku." kata kakakku.
"Aku tidak tahu kak harus bagaimana?" kataku.
"Kamu coba tanya mama dan papa, mungkin mereka tahu."
"Tapi kak,"
Bayangan kakak mulai menghilang dari pandanganku dan lenyap seketika.
"Kakak..." panggilku bersamaan ketika aku terbangun.
Mama datang menghampiriku, "ada apa?".
"Aku bermimpi bahwa kakak ada dalam boneka maa, kata kakak kita harus mengembalikannya!"
Mama hanya terdiam termenung. "Maa, Mamaa, apa mama mengetahui sesuatu?". Mama tersontak kaget saat aku mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Ayu, mungkin ini saatnya kamu mengetahuinya!" kata mama.
"Mengetahui apa maa!" kataku bingung dan cemas.
"Sebelumnya maafkan mama, mama yang bersalah atas hal ini. Mama telah membuat janji terhadap dukun yang memberikan boneka itu. Awalnya mama sangat sedih ketika saat itu mama dianggap mandul oleh dokter. Jadi mama ke dukun untuk meminta agar diberikan anak. Tapi dengan syarat, boneka itu harus diberi sesajien setiap malam jum'at. Tapi mama tidak pernah melakukannya lagi. Mama mulai berfikiran bahwa melakukan itu sama saja dengan syirik. Maafkan mama Yu'!" kata mama kepadaku.
"Astagefirullahaladzim, kenapa mama melalukan itu. Apa mungkin, aku ini juga dari..." kata-kataku dipotong oleh mama.
"Tidak Yu', tidaak.. Kamu tidak sama dengan kakakmu." jelas mama.
"Bagaimana kalau kita bawa boneka ini ke pak ustadz, mungkin kita dapat solusi mengembalikan kakak ketubuhnya." kataku.
"Iya, benar juga katamu Yu'," kata mama kepadaku.
Besoknya, aku dan mama membawa boneka itu ke pak ustadz yang tahu akan hal yang begituan. Dia mengatakan bahwa hanya dengan izin Allah SWT. saja yang dapat mengembalikan tubuh kakak.
Kemudian pak ustadz kami bawa kerumah sakit dimana kakak dirawat disana. Boneka itu ditaruh disamping kanan kakakku.
Kulihat mulut pak ustadz berkomat-kamit mengucapkan ayat-ayat suci alquran sambil memegang boneka itu dan menyentuh tangan kakakku.
"ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR." kata pak ustadz mengakhiri bacaannya. "ALHAMDULILLAH." lanjut pak ustadz.
Sesaat kulihat jari tangan kakak mulai bergerak-gerak. Segera kupanggil dokter.
"Alhamdulillah, ini mukjizat Allah, kakak kamu sudah siuman. Mungkin sebentar lagi akan sadar." kata dokter kepadaku.
"Alhamdulillah, terima kasih dok." balasku.
"Pak ustadz, terima kasih pak, ini ada sedikit rezeki mohon diterima." kata mama sambil memberikan uang dalam sebuah amplop.
"Terima kasih bu, saya ikhlas melakukannya. Maaf bu, saya harus pergi, ada urusan lain yang harus aku kerjakan." kata pak ustadz berpamitan.
"Iya pak, sama-sama. Terimakasih pak." kata mama kepada pak ustadz.
Tak lama kemudian kakakku sudah dapat membuka matanya. Kulihat wajah kakak masih lesu.
"Ayu?" panggil kakak.
"Iya kak, aku disini." jawabku.
"Terimakasih ya." balas kakak.
"Iya kak, sama-sama. Kakak tidak perlu banyak bicara, keadaan kakak masih lemah." kataku sambil memegang tangan kakak yang dingin.
"Maafkan mama nak, mama mengaku salah, maafkan mama." tangis mama sambil memegang tangan kakak.
"Tidak ada yang salah ma? Semua sudah terjadi tidak perlu diingat lagi. Yang penting kita akan tetap bersama lagi." kata kakak.
Dua minggu kemudian kakak sudah bersama kami lagi. Kami hidup bahagia bersama seperti dulu lagi.
No comments:
Post a Comment