Monday, May 6, 2019

☑️In Memoriam... | Menulis Dapat Menghasilkan Karya



"Lucas, dimana kamu?" teriakku.

Aku berjalan menghampiri seorang yeng berdiri membelakangiku.

"Apakah itu kau, Lucas?" ucapku sambil menghampirinya. Aku memegang bahunya lalu dia berbalik.

"Maaf, aku salah orang." kataku sambil tersenyum kearahnya.

"Tidak apa-apa." balasnya kemudian dia pergi meninggalkanku.

"Lucas, where are you?" teriakku kembali.

"Hei, aku disini?" ucap seseorang dibelakangku. Aku berbalik dan melihat seseorang menatapku. Dia adalah Lucas.

"Dari mana saja kamu? Aku mencarimu kemana-mana tapi kamu tidak ada." tanyaku pada Lucas.

"Oh, maaf ya, aku pergi membeli ini?" dia mengangkat tangannya dan memperlihatkan sebuah gelang cantik padaku.

"Wah?" aku hanya mengagumi gelang cantik itu.

"Coba berikan tanganmu?" tatap Lucas padaku.

Aku lalu menyodorkan tangan kananku padanya. Lalu dia memasang gelang itu pada pergelangan tanganku.

"Sangat serasi bukan?" ucapnya padaku sambil memperhatikan pergelangan tanganku terbalut gelang yang baru saja dibeli Lucas.

Aku hanya tersenyum lebar.

"Terima kasih Lucas." ucapku.

"Iya, sama-sama. Apapun akan kuberikan padamu." kata Lucas lalu memelukku.

Aneh, Lucas tidak pernah seperti ini padaku. Tapi, ini memang yang aku inginkan.

Lucas pun mengantarku ke rumah. Diperjalanan aku hanya dapat tersenyum mengingat kejadian tadi.

Lucas menurunkanku di depan rumahku. Aku berjalan masuk kerumah namun dihentikan oleh Lucas. Dia turun dari motornya lalu berlari kearahku dan memeluk diriku.

'Kenapa...? Ada apa...?? Kenapa dia seperti ini padaku...???'

"Aku harap aku dapat mengingatmu selamanya, dan sebaliknya seperti itu juga. Aku sangat menyayangimu. Aku sangat mencintaimu." ucapnya lalu dia mengecup keningku. "Jangan pernah melupakan aku Kelly.".

"Iya, aku tidak akan pernah melupakanmu," balasku.

***

Air mata ini menetes ketika mengingat kejadian beberapa hari lalu sebelum kepergian Lucas. Aku bahkan tidak pernah menyangka sikap Lucas yang berbeda itu adalah sebuah pertanda bahwa dia akan pergi meninggalkanku selamanya.

Tubuhku bahkan tak bisa kugerakkan saat kudengar kabar buruk itu. Sesak nafasku dan tetesan air mata mengalir begitu saja.

Wajahnya, sifatnya, perilakunya, tak dapat aku hilangkan dari pikiranku.

Oh Tuhan... Kenapa harus seperti ini?

Oh Tuhan... Kenapa aku harus ditinggalkannya?

Aku bahkan rela mati karenanya....

Kenapa semua ini terjadi...

Gelang pemberiannya masih kutatap. Aku menatapnya sambil memikirkan wajah Lucas.

Tubuhku lemas dan hanya tangisan yang selalu kulakukan untuk mengenangnya.

***


No comments:

Ads

loading...