Friday, May 3, 2019

✔️Kursi Goyang | Menulis Dapat Menghasilkan Karya



"Tidaaakkk,, jaanggaann..!!!". Teriakan Isma membangunkan semua anggota keluarganya di rumah kayu besar bertingkat dua itu. Mereka semua berlarian mendatangi kamar Isma yang berada di tingkat dua tersebut.

"Ada apa..? Apa yang terjadi..?" tanya ayah Isma heran melihat ketakutan anaknya itu. "Ada apa nak..? Ayo beritahukan ibu..??" tanya sang ibu sambil memeluk anak kesayangannya itu.

"Jauhkan kursi itu, jauhkan..!! Buang..!!" teriak Isma histeris seperti baru saja melihat setan.

"Ada apa dengan kursi itu, kenapa harus dibuang..??" tanya sang ibu kembali dengan menatap anaknya yang ketakutan itu dipelukannya.

"Buang kataku,, buang,, jauhkan dariku..!!" bentak Isma kepada ibunya.. Isma lalu terkulai lemas pingsan dipelukan ibunya.

Keesokan paginya, kursi goyang yang dimaksud Isma dipindahkan dari kamarnya. Entah apa yang terjadi dengan kursi goyang itu, akan tetapi, Isma sering menggunakannya dulu. Sinar terik matahari menyelip dibalik celah-celah dinding jendela Isma. Cahaya itu mengenai pas diwajahnya. Dia terbangun memperhatikan kamarnya lalu berjalan ke dapur untuk meneguk segelas air di pagi hari itu. Beberapa tegukan membasahi kerongkongannya yang nyaris kering itu dan memberikan kesegaran baginya. Lalu, Isma berjalan ke depan halaman rumahnya untuk merasakan udara segar dipagi hari itu. Kedua tangannya diangkat keatas dan mulai menghirup udara segar yang belum tercampur polusi itu. Segar rasanya. Akan tetapi, ketika membalikkan tubuhnya menghadap rumahnya yang bertingkat, Isma terpaku dan mulai kaku dengan wajah ketakutan. Cucuran keringat mulai membasahi tubuhnya. Dipandanginya jendela kamar kakaknya. Disana tergeletak sebuah kursi goyang dengan sosok nenek tua diatasnya. Nenek tua dengan wajah keriput, mata yang hitam pekat, serta taring putih berkilau tersenyum padanya dengan tatapan yang menyeramkan.

"Aaaaahhh...,, jaangaan...,, Pergiii...!!!" teriak histeris Isma berlutut dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Isma, bangun nak.. Bangun..!!" ucap ibu Isma sambil menggerak-gerakkan tubuh anaknya yang sedang mengigo itu dalam tidurnya.

Isma langsung terbangun dari mimpi buruknya, "Bu..!! Isma takut bu...??" ucap Isma memeluk ibunya dengan erat. Lalu, ekspresi Isma mulai berubah, "Kursi goyangnya mana bu..!! Kursi goyangnya mana..??" tanya Isma sambil menggoyang-goyangkan tubuh ibunya itu. "Jawab Isma bu.., dimana kursi goyang itu...??" lanjut Isma menatap ibunya tajam.

"Kursi goyang itu sudah dipindahkan ke kamar kakakmu..," jawab sang ibu dengan suara lembut.

"Kursi itu harus dibuang bu...!! Harus dibuang..!!" ucap Isma ketakutan dan mulai memperlihatkan tingkah aneh. Matanya melirik kesana kemari serta tubuhnya bergetar dan giginya terpelatuk. Isma beranjak dari duduknya lalu berkata, "Aku yang akan membuangnya sendiri..,".

Sontak ibunya kaget dan menahan kepergian anaknya itu dan berkata, "Jangan Isma, jangan.." tangis sang ibu sambil memegang pakaian tidur anaknya itu. "Jangan kamu buang kursi itu,, itu satu-satunya peninggalan nenek kamu.." lanjut sang ibu.

"Tapi...!!! Kursi itu berhantu bu..? Isma takut.. Dia sering menakuti Isma bu.. Seram sekali wajahnya...," ucap isma meyakinkan ibunya.

Dua hari setelahnya, kursi goyang itu di jual kepada seorang penggemar barang antik. Dia membeli murah kursi goyang itu. Namanya adalah Ibrahim yang sudah berkeluarga dan punya seorang anak laki-laki berumur 8 tahun. Kursi itu dipajang di ruang tamu rumahnya.

Disuatu hari, Ibrahim mendengar suara tawa anak-anak dari arah ruang tamu. Di dalam pikirannya, mungkin anaknya sedang bersama ibunya sambil bercanda di ruang tamu. Tapi, tidak ada suara lain kecuali suara tawa nyaring anaknya itu. Dengan rasa penasaran, dia menuju ke ruang tamu. Ibrahim kaget melihat anaknya sedang tertawa memandangi kursi goyang yang dibelinya itu sendirian tanpa ditemani ibunya. Ibrahim langsung menggendong anaknya itu dan bertanya, "Ade' kok ketawa sendirian. Ibu di mana..?". Lalu anaknya berbicara, "Nenek... Lucu...". "Nenek mana...?" tanya Ibrahim. "Itu...," tunjuk sang anak ke arah kursi goyang tersebut.

Setelah kejadian itu, kursi goyang itu dibuangnya ke tempat sampah. Lalu diambil oleh seorang pemulung bernama Bejo. Di rumah, Bejo sering meluangkan waktunya berada di atas kursi goyang itu. Bahkan kerjaan sehari-harinya diluangkan untuk menikmati kursi goyang itu. Dia tidak lagi bekerja. Dia hanya menggoyangkan tubuhnya bak berayun-ayun ke depan dan ke belakang. Hingga suatu hari, Bejo diketemukan tewas di atas kursi goyang tersebut dengan mata terbelalak seperti melihat sesuatu yang mengerikan.

Kursi itu diambil oleh teman sepemulungnya dan dijual ke sebuah toko kursi. Pemiliknya bernama Joko. Joko adalah seorang pengusaha kursi yang terkenal dengan kedermawaannya.

Disuatu malam, seorang pekerja yang lembur di dalam toko Joko mendengar sesuatu yang gaduh di tempat penyimpanan kursi yang akan dijual. Lantas dia mengecek akan kegaduhan yang didengarnya itu. Tapi tidak ada yang aneh, semua tetap dalam keadaan sebelumnya. Setelah tiga menit dari tempat yang didatanginya tadi, suara kegaduhan itu muncul kembali, suara ini lebih keras dari suara sebelumnya, bahkan diiringi suara tawa nenek-nenek. Diceknya kembali, tapi tetap tidak ada apa-apa ditempat itu. Tapi dia merasa aneh dengan sebuah kursi. Kursinya berpindah tempat. Ditatapnya kursi itu, lama-kelamaan kursi itu mulai bergerak ke depan-belakang. Pekerja ini sangat kaget dan ingin berlari. Akan tetapi, tubuhnya tidak bisa digerakkan. Kursi itu perlahan berbalik menghadap ke pekerja ini. Dan terlihatlah sosok nenek tua yang menakutkan.

Keesokan paginya, pekerja ini ditemukan tewas diatas kursi goyang itu.

Dalam satu tahun, kursi goyang itu sudah berganti tangan sebanyak 80_an kali. Bahkan ada yang meninggal dengan kondisi yang tidak sewajarnya. Matanya terbelalak lebar seperti melihat sesuatu yang sangat mengerikan.

Kursi goyang itu membawa teror... Hingga saat ini, kursi itu masih berpindah-pindah tangan...

Entah siapa lagi yang akan mendapatkan nantinya...

Mungkin saja Anda....

Jadi, berhati-hatilah....

***

No comments:

Ads

loading...