Friday, May 10, 2019
✔️Forbidden Book - Anathema a Library Book | Menulis Dapat MenghasilkanKarya
Cahaya matahari menembus melewati atap yang berlubang dan tepat mengenai wajah seseorang yang sedang tertidur lelap dibawahnya. Dia adalah seorang mahasiswi di kota Bulukumba.
"Maya, bangun. Kamu tidak mau kuliah?" teriak seorang mahasiswi lainnya yang sedang bersiap-siap menuju kamar mandi.
"Ah, Mila, jangan berisik, ssttt!!!" ucap Maya lalu membuka mata dan menutup kembali matanya mencoba melanjutkan tidur nyenyaknya.
"Hei, bangun. Kamu tahu pak Seno, dosen tergalak dikampus kita, dia yang akan mengajar kita sebentar?"
Setelah mendengar nama pak Seno, mata Maya terbelalak memandangi Mila yang baru saja memasuki kamar mandi. Maya langsung berlari untuk ikut mandi bersama Mila.
***
Dengan mengendarai sepeda motor, Maya dan Mila kini menuju kampus mereka. Jejeran mahasiswa dan mahasiswi sudah memenuhi jalan masuk kampus itu. Setelah memarkirkan motornya. Mereka lalu menuju kelas mereka berdua.
"Hei, Maya!!! Mila!!!" sapa seorang mahasiswa dari arah belakang mereka berdua.
"Hai David, pagi?" ucap Maya dengan memamerkan senyum manis pada David yaitu sahabat mereka berdua.
"Hei, sekarang ada hal yang menghebohkan," gosip David pada Maya dan Mila.
"Apa itu?" tanya Mila dengan wajah penasaran.
"Pak Seno ada dibelakang, lariii!!!" bisik David lalu berteriak pada kata 'lari' dan berlari meninggalkan Maya dan Mila.
"Hei, tunggu," teriak Maya dan Mila lalu mengejar David yang sudah mendahuluinya.
***
Kelas selalu saja riuh dengan suara-suara bahkan ocehan para mahasiswa/i dalam kelas Maya.
"Pak Seno...!!! Pak Seno...!!!" teriak seorang mahasiswa berlari memasuki ruang kelas.
Maya dan Mila duduk bersama dibangku urutan tiga dari depan. Sedang David duduk dikursi terakhir di pojok.
"Tulis dan kerjakan tugas ini, minggu depan kalian kumpul," ucap pak Seno menunjuk layar besar didepan mahasiswa. Jam menunjukkan tepat jam 11.40 yang berati perkuliahan harus dihentikan. Waktu yang pas untuk pemberian tugas kepada mahasiswa. Sebelum kelas dibubarkan, semua mahasiswa menulis tugas yang diberikan pak Seno. Ada yang hanya memoto tugas dilayar besar itu lalu pergi meninggalkan yang sedang sibuk mencatat tugas dari dosen tergalak di kampus itu.
"Kalian sudah selesai?" tanya David pada Maya dan Mila.
"Iya, tinggal nomor terakhir, tunggu kami dulu," balas Mila mulai mempercepat tulisan tangannya.
"Tinggal sedikit lagi," Maya juga membalas apa yang ditanyakan David.
Mereka berdua selesai mencatat tugas pak Seno. David lalu mengajak mereka berdua menuju sebuah tempat.
"Kemana kita akan pergi," tanya Maya.
"Tidak perlu banyak bicara, ayo, aku akan tunjukkan ke kalian hal yang menghebohkan yang aku katakan tadi'?"
"Aku kira hal yang menghebohkan itu pak Seno tadi'!!!" ucap Mila.
"Bukan, aku cuma ingin menakuti kalian saja tadi'," ucap David sambil tertawa kecil.
"Awas kau yah,!!!" jitak Maya.
"Eh, eh, kita sudah sampai," kata David.
Seketika itu Maya tidak jadi menjitak kepala David. Maya hanya menatap ruangan kosong yang hanya dipenuhi debu didalamnya. Mila mencoba melirik kedalam ruangan berdebu itu tapi debunya membuat Mila batuk-batuk.
"Ruangan apa ini?" tanya Maya.
"Inilah hal yang menghebohkan itu," balas David.
"Apanya yang menghebohkan, malah hanya membuat penyakit saja," bentak Mila lalu terbatuk-batuk.
"Hahahaha," tawa David.
"Hei, jangan ketawa, apa yang heboh itu, cepat perlihatkan pada kami," ucap Maya penasaran.
"Kalian penasaran?"
"Iya apa itu," Mila pun ikut penasaran.
"Tutup mata kalian dan lihat baik-baik," ucap David menatap mereka berdua.
"Jangan bercanda yah, nanti kujitak loh," ancam Maya.
"Iya-iya, tidak akan kok," ucap David dengan rasa takut.
Mereka berdua menutup mata sekejap lalu membuka kembali mata mereka. Tetapi tidak ada satupun hala-hal yang terjadi.
"Mau kujitak loh, mana yang kamu katakan heboh itu?" Maya mulai emosi dengan canda David yang mulai berlebihan.
"Iya nih, mana hal yang menghebohkan itu?" Mila juga mulai ikut emosi.
"Heh, tunggu dulu, coba kalian kesini," ajak David.
David mengajak Maya dan Mila kedepan cermin disamping ruangan tadi. "Coba kalian lihat wajah kalian dalam cermin itu," ucap David. Alangkah kagetnya mereka melihat kecermin itu. Mereka tidak melihat apa-apa disana. Bahkan bayangan diri mereka tidak nampak sama sekali. Apa ini, apa ini hal yang menghebohlan yang akan dinampakkan David pada mereka...!!!
"Apa ini, kenapa aku tidak nampak didalam cermin," Mila hanya berkata terbata-bata.
"Apa ini lolucon?? Ini tidak nyata 'kan?" Maya mulai merasa khawatir.
David hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi pada merka berdua. Kenyataannya sudah dia ungkapkan pada kedua sahabatnya itu.
"Jawab Dav, ini tidak nyata 'kan?" Maya hanya mengguncang-guncang tubuh David yang menundukkan kepala dari tadi.
"Apa kita ini?" Mila mulai menangis, dia lalu menghampiri David dan Maya. "Apa ini Dav, apa yang terjadi pada kami berdua. Tolong jelaskan??" isak tangis Mila dan Maya.
"Itu bukan hanya terjadi pada kalian, tapi aku juga," ucap David menatap cermin didepannya.
"Ini gila, tidak mungkin," teriak Maya.
Maya dan Mila hanya menangis tersedu-sedu. Sedang David hanya menundukkan kepalanya ke lantai.
"Apa kita sudah mati?" ucap Maya yang sedang menangis mengagetkan Mila dan David.
"May, jangan berkata begitu?" tangis Mila.
"Tidak, tidak mungkin, kita pasti belum mati? Kita hanya tersesat pada dunia ini, perasaanku mengatakan seperti itu," ucap David mantap. "Tubuh kita pasti ada dirumah sakit atau tempat lain, kalian tidak perlu cemas, kita hanya cukup mencari tubuh kita lalu kita dapat kembali ke tubuh kita seperti semula," lanjut David.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Mila.
"Entahlah," kata David.
Maya dan Mila sudah tidak menangis lagi. Mereka bertiga mulai berfikir untuk mencari cara menemukan tubuh mereka bertiga dan kembali kedunia yang sebenarnya. Mereka mulai menciptakan keheningan.
"Tapi, apa sebenarnya yang terjadi pada kita bertiga, kenapa tubuh dan roh kita terpisah begini?" Maya mulai memecah keheningan.
"Itu mungkin gara-gara hari kemarin? Iya, aku yakin itu?" ucap David lalu menjelaskan masalah kemarin yang mereka alami bersama.
***
(FLASHBACK)
Pagi yang cerah untuk melakukan aktivitas perkuliahan di kampus itu. David duduk di kelas sambil menulis sesuatu di secarik kertas putih polos. Dua nama tertera disana, Maya dan Mila. Tulisan yang diukir dengan perasaan itu menampakkan lekukan indah dibalik setiap hurufnya. Jauh disana, dua orang sedang berjalan mendekati David yang sedang asyik meluangkan karyanya pada kertas putih polos didepannya.
"Hei," sapa salah seorang dari dua orang itu.
"Ah, kamu toh, ayo duduk, sini aku perlihatkan coretan indahku?" David mulai menyombongkan diri.
"Hahaha, sombong sekali kamu David, aku juga bisa menggambar kalo cuma seperti ini saja," Ledek orang yang satunya.
"Hah, iya kamu bisa? Tulisan kamu saja mirip cakar ayam tuh kulihat, apalagi kalo menggambar seperti ini.
"Dasar kau yah, kujitak nih?" ucap Maya lalu mengangkat tangannya seraya ingin memukul kepala David.
"Mila, tolong! Monster!" David lalu bersembunyi di belakang Mila.
"Hei hei, sudah-sudah. Cukup hari ini bercandanya, pak Seno sudah datang ayo kita ke kursi kita Maya, tinggalkan orang malas ini yang kerjaannya cuma cari masalah," ucap Mila berlalu didepan David.
Siang itu, mereka semua sedang beristrahat. Ada yang menulis, ada yang gosip, bahkan ada yang kerjaannya melempar-lempar buku. Maya sedang menulis catatan yang tidak sempat dia catat kemarin dikarenakan dia sedang sakit demam. Tapi, tiba-tiba.....
"Awww," ucap Maya kesakitan saat terkena lemparan buku dari seorang temannya. Dia mengusap-usap kepalanya.
"Maaf yah May? Aku tidak sengaja," ucap temannya itu.
"Iya iya, tidak apa-apa kok, tapi kalo main lempar buku jangan di kelas, banyak yang bisa jadi korban kalo salah lempar," saran Maya pada teman satu kelasnya itu.
"Iya, sekali lagi maaf yah Maya," ucap kembali temannya dengan penuh rasa penyesalan.
"Iya, tidak apa-apa kok," balas Maya.
Maya lalu kembali melanjutkan catatannya. Mila yang baru saja dari perpustakaan datang menghampiri Maya.
"Maya, coba lihat, aku pinjam buku apa?" Mila lalu membolak balikkan cover buku itu didepan mata Maya.
"Ah Mila, tunggu dulu aku sedang menyelesaikan catatan kemarin, jika sudah selesai baru aku melihatnya," jelas Maya.
"Baiklah kalo begitu," ucap Mila lalu membuka tiap lembar halaman buku yang baru saja dipinjamnya itu.
Beberapa menit kemudian datang seorang laki-laki tinggi, putih, tampan dengan gaya rambut yang sedang trend sekarang. Dia adalah mahasiswa yang terkeren bagi setiap mahasiswi di kampus itu. Bahkan ada wanita yang sangat tergila-gila padanya hingga mengemis akan cintanya. Tetapi dia diacuhkan dan hanya mendapat penolakan dari lelaki tampan ini.
"Hei, sedang baca apa? Serius amat?" ucap lelaki tadi.
"Oh, kamu Dav, ini nih, aku baca buku yang baru saja aku pinjam di perpustakaan tadi," jawab Mila.
"Tentang apa?," ucap David penasaran.
"Ini nih baca sendiri," Mila lalu memberikan buku yang baru saja dia baca ke David. David mulai membaca cover buku itu, "TAWAMU BAHAGIAMU, TAWAMU PENDERITAANKU", lalu dia mengutak-atik isi buku tadi seraya mencoba mencari hal menarik dalam buku itu.
"Wah, menarik juga nih buku," ucap David merasa kagum dengan buku yang baru saja diutak-atiknya.
Beberapa menit kemudian, Maya sudah menyelesaikan buku catatannya. Dia lalu menoleh kearah David dan Mila yang tertawa terbahak-bahak sedang membaca buku yang akan diperlihatkan Mila tadi padanya. Dengan rasa penasaran, Maya mulai mendekati mereka yang tidak henti-hentinya terkakak-kakak memandangi buku yang sangat tebal itu.
"Hei, boleh ikut?" ucap Maya.
"Ayo May, lucu deh isi buku ini, ayo baca sama-sama," balas Mila.
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak membaca buku tersebut. Sampai mereka membuka halaman ke 303, mata mereka menatap tajam ke halaman itu. Sebuah tulisan dengan cat tinta merah terpapar disana. "JANGAN BACA INI, LEWATI... JIKA KAMU MEMANG INGIN SELAMAT!!!" tulisan besar itu mengandung ancaman.
"Apa maksudnya?" ucap Maya bingung.
"Maksudnya, kita tidak boleh baca ini, ini tulisannya jelas mengatakan seperti itu,!" jelas David.
"Kau 'kan baru saja membacanya Dav?" ucap Mila.
"Hehehe, iya, tapi lihat ini, masih ada tulisan dan eh, tertutup sebuah kertas. Mungkin maksudnya jangan baca tulisan yang ada dalam kertas ini?" ungkap David.
"Tapi kok tidak boleh dibaca," Maya mulai merasa penasaran.
"Daripada kalian penasaran, ayo kita baca sama-sama," ucap David memandang mereka berdua.
Dengan perlahan David merobek kertas yang menutupi tulisan yang hendak dibacanya. "Jika kalian membaca ini, maka kalian tidak akan kembali, tinggallah kalian disini. Kalian bagaikan udara".
"Maksudnya,?" ucap Mila.
"Aku juga tidak tahu," David juga tidak mengerti dengan rangkaian kata yang terdapat pada buku itu.
Setelah beberapa menit kemudian mereka berfikir, maka David melanjutkan buku ini. Mila mengusulkan untuk langsung saja ke halaman terakhir, sehingga cepat mengetahui akhir dari cerita ini.
"KALIAN TIDAK AKAN KEMANA-MANA. JANGAN LARI DARI SINI, CUKUP BERDIAM DIRI SAJA. KALIAN AKAN HANYA TAMPAK SEBAGAI UDARA SAJA."
"Apa ini?"...
(END FLASHBACK)
***
"Mungkin seperti itu, kita telah melanggar apa yang kita baca hari itu?" ucap David.
"Jadi kita harus bagaimana," ucap Maya dengan rasa takut.
"Tenang May, semua akan baik-baik saja," Mila mulai menenangkan maya.
"Harus tenang bagaimana La, kita ini tiada hanya sebagai udara saja, pantas ketika aku berteriak memanggil Ardi tadi dia tidak menoleh padaku. Jadi aku harus seperti ini terus," Maya mulai terisak dan meneteskan air mata.
Mereka semua mulai berfikir, hingga malamnya. Mereka semua sudah lelah dan lapar.
"La, aku lapar, kita harus makan apa Li, apa kita harus keluar mencari manusia dan menghisap darahnya dan memakan dagingnya." ucap Maya.
"Apa kamu gila May, kita bukanlah hantu, kita hanya terpisah dari tubuh kita. Mungkin saja tubuh kita sekarang ada dirumah sakit dan koma," Mila mulai menenangkan Maya. "Oh, aku baru ingat, aku memasukkan beberapa roti di tasku dan beberapa air minum, aku ambil dulu yah," lanjur Mila.
"Hah, kita bisa makan!!!, tapi kita kan...." kata Maya yang langsung dipotong oleh David.
"Udah-udah, tidak usah dipikirin, yang penting kita kenyang,"
"Iya, betul tuh Dav, yang harus kita fikirkan, bagaimana cara kita kembali ketubuh kita," dukung Mila.
Setelah mereka memakan roti tadi, ada hal yang aneh terjadi. Terdapat suara jeritan keras di lantai atas.
"Apa itu?" ucap Maya mulai takut.
"Entahlah, ayo kita cek," balas David.
Dengan berbekal keberanian yang hanya sedikit, mereka mencoba mencari tahu apa yang berteriak tadi. Mereka mendapatkan seorang perempuan seumuran mereka sedang menangis disana.
"Siapa?" ucap David perlahan mendekati perempuan tadi.
Jika dilihat dari pakaiannya yang biasa dengan jas almamater merah yang membalutnya, jelas pasti dia adalah mahasiswi di kampus itu. Sebab jas alamamater merah itu hanya kepunyaan kampus mereka bertiga.
"Siapa kamu?" ucap David kembali.
Perempuan itu hanya menangis tersedu-sedu. David lalu menyentuh pundaknya, dan bleess 'tembus'. Perempuan itu hilang dalam sekejap didepan mata mereka bertiga.
Maya dan Mila sangat ketakutan melihat akan hal ini. Bahkan malam itu mulailah bermunculan suara-suara aneh yang belum pernah didengar mereka bertiga sebelumnya.
"Hei kalian?" ucap seorang laki-laki bersama dengan sorang perempuan cantik mendekati mereka bertiga.
"Kalian melihatku?" ucap Maya.
"Iya, sebab kita sama, aku juga tersesat disini dan entah aku tidak terlihat oleh semua mahasiswa/i disini. Untung saja aku bertemu dia yang sudah tersesat sebelum aku," ucap laki-laki itu. "Oh ya, aku Ben, dan ini Siska," lanjutnya lagi.
"Siska dan Ben yang hilang tanpa jejak 3 tahun yang lalu?" ucap Mila.
"Iya, itu kami,?" balas Siska.
"Jadi, kalau begitu? Kita juga sudah menghilang dan mungkin tidak akan ditemukan," ucap Maya frustasi.
"Tidak!!! Kalian masih hidup, DIA hanya memisahkan tubuh dengan roh kalian, tubuh kalian ada dirumah sakit. Untung saja ada orang yang melihat kalian tergeletak begitu saja setelah membaca buku itu? Tapi, jika kalian tidak kembali besok pagi sebelum matahari terbit ke tubuh kalian, mungkin selamanya kalian tidak akan kembali lagi dan mungkin kalian akan bersama kami disini dan menunggu korban selanjutnya," jelas Ben.
"Kami mengatakan tadi 'DIA', sebenarnya siapa dia itu?" ucap Mila penasaran.
"DIA yang membuat permainan tak masuk akal ini, DR. Johnson sang penganut ilmu hitam," jelas Siska.
"Dia sebenarnya dosen di kampus kita ini, tapi setelah dikeluarkan dari kampus ini gara-gara diduga melecehkan seorang mahasiswi disini, dia berjanji akan membuat orang yang tertawa melihatnya akan sengsara, lalu ada kiriman satu truk buku untuk perpustakaan. Mereka berfikir itu dari pak Wakil Gubernur karena terdapat tandatangan serta surat yang menyatakan itu dari dia. Dan mereka semua menerimanya dengan senang hati," sambung Ben.
"Jadi bagaimana selanjutnya," ucap Maya penasaran.
"Banyak yang menjadi korban, ada yang meninggal di tempat, ada yang hilang, ada yang masuk rumah sakit, ada yang kecelakaan dan ada pula yang bunuh diri setelah membaca cerita yang bercat merah darah dibuku itu," lanjut Ben.
"Jadi, dimana roh mereka semua?" ucap Maya.
"Sudah ditumbalkan kepada iblis, DR. Johnson sudah menjadi pengikut iblis, dia ingin melihat semua menderita sampai orang yang menemukan buku terakhir itu, dan kalian bertigalah penemu buku terakhir itu?" ucap Siska.
"Jadi, dia akan datang malam ini juga untuk mempersembahkan kita kepada iblis," ucap David mengambil kesimpulan.
"Iya, benar. Kita hanya menunggu bulan purnama terbit menyinari kampus ini dan kita semua akan mati, DR. Jhonson akan mengambil paksa kita. Tidak akan ada yang kembali," lanjut Siska.
"Apa tidak ada cara untuk mencegah ini semua?" kata David.
"Iya, dengan begitu kita akan selamat dan tidak akan dikorbankan," sambung Mila.
"Iya, ada, dengan cara membuat DR. Jhonson sadar, tapi kemungkinan cara ini tidak akan berhasil, banyak yang sudah mencobanya tapi tetap saja tidak membuahkan hasil. Malah, DR. Jhonson makin gila dan antusias dengan keinginannya itu," ucap Ben.
"Tapi, ada satu cara lagi?" lanjut Ben.
"Apa itu?" Maya penasaran dengan cara itu.
"Kita harus membunuhnya,"
"Caranya?"
"Dengan belati merah ini," ucap Ben menunjukkan belati yang tajam itu ditangannya. "Tusuk pas dijantungnya, maka dia akan mati, dan kita tidak akan dikorbankan kepada iblis itu. Kalian juga bisa kembali hidup. Tapi, jika ada yang mati sebelum DR. Jhonson terbunuh, maka kalian akan benar-benar mati total."
***
Malam itu, mereka menyusun rencana untuk membunuh DR. Jhonson. Mereka lalu bersembunyi didalam lemari besar tempat penyimpanan buku di ruang perpustakaan. David, Maya, Mila, Siska, dan Ben siap melawan DR. Jhonson yang sudah menjadi budak iblis. Lima menit kemudian, terdengar suara teriakan dan panggilan dari arah pintu perpustakaan.
"Keluarlah, aku datang untuk menjemput kalian," teriak seseorang.
"Tidak perlu bersembunyi, ayo kemari, kita pergi bersama-sama, kalian akan mendapat kebahagian kalian, ayo keluar," lanjut orang itu.
Didalam lemari itu, mereka semua menutup mulut mencoba untuk tidak mengeluarkan suara dari mulut mereka.
"Apa yang harus kita lakukan," bisik Maya.
"Ssttts," gerakan jari telunjuk yang dilakukan Ben secara vertikal menutupi bibirnya.
Mereka semua diam dan mencoba mendengarkan apa lagi yang akan dikatakan DR. Jhonson pada mereka semua untuk mencoba menarik perhatian mereka lalu menampakkan diri dihadapan doktor gila itu.
"Aku tahu kalian bersembunyi di dalam lemari itu, jadi keluarlah sebelum aku menyeret kalian secara paksa," ucap DR. Jhonson sambil mengeram.
"Apa yang harus kita lakukan, dia tahu kita disini," ucap Mila.
"Baik, kita akan keluar, dan kalian harus tahu apa yang akan kita lakukan 'kan, tusukkan belati ini tepat pas dijantungnya," ucap Ben mengangkat dan memperlihatkan belati didepan wajah mereka semua.
Mereka semua lalu keluar dari tempat persembunyiannya. DR. Jhonson tertawa kegirangan melihat mereka semua. Mereka hanya membawa takdirnya pada kematian mereka, pikir DR. Jhonson.
"Apa mau mu?" bentak David.
"Apa mauku? Aku hanya ingin kalian datang bersamaku ketempat yang paling indah, mungkin tempat terakhir kalian ada didunia ini," ucap DR. Jhonson.
"Tidak, kami tidak akan ikut bersama iblis sepertimu," teriak Maya.
"Kamu harus sadar DR. Jhonson, iblis sudah mempengaruhimu, kamu harus sadar dan membebaskan kami," ucap Maya memohon.
"Kalian berani mengataiku iblis, dasar anak kurang ajar,"
DR. Jhonson lalu mengejar mereka semua. Siska yang pertama kali ditangkapnya dan langsung dilahap habis iblis yang datang bersama doktor gila itu. Perlawanan kini terjadi antara doktor gila itu dengan empat roh lagi. Kali ini Ben yang mencoba menusukkan belati itu di jantung DR. Jhonson. Darah mengalir membasahi belati itu, tapi DR. Jhonson sangatlah kuat sehingga Ben kalah dan menjadi santapan iblis bertanduk merah itu. Ben melempar belati itu pada Maya dan tersenyum untuk terakhir kalinya pada mereka beetiga.
Tinggal Maya, Mila, dan David. Mereka bersembunyi dengan rasa takut yang sangat. Tangan David genetar memegang belati yang penuh dengan darah DR. Jhonson.
"Kita harus berhasil sekarang, tidak boleh gagal," ucap David dengan mulut yang terlatuk-latuk.
Tiba-tiba DR. Jhonson datang didepan mereka memegang sebuah pedang panjang dengan mata yang sangat mengilap serta tipis. David mengambil sebuah besi yang tergeletak dilantai. "Kalian minggir, aku akan menghadapi doktor gila ini," ucap David. Setelah mengatakan hal itu dia lalu mencoba memukul DR. Jhonson dengan besi tadi. Pertarungan yang sengit terjadi hingga darah menetes dimana-mana. David mengerang kesakitan saat pedang panjang itu menembus perutnya. Darah meleleh keluar seketika. Iblis disana sudah siap menelan korban baru.
"Kalian lari, cepat, ambil ini," ucap David lalu melemparkan belati itu pada Maya.
Maya dan Mila bersama-sama melarikan diri dari doktor dan iblis itu. DR. Jhonson lalu mengejar mereka berdua. David sudah menjadi santapan iblis. Sedang Maya dan Mila lari bersembunyi dari iblis itu.
"Apa yang harus kita lakukan," ucap Maya. Mereka berdua bersembunyi dalam sebuah ruangan.
"Kalian cepat keluar, lalu serahkan diri kalian," bentak DR. Jhonson dari luar pintu. Dia lalu membuka paksa pintu yang dikunci dari dalam oleh mereka berdua. Suara tumbukan terdengar dari luar. Pintu sudah tidak berbentuk lagi.
"Hahaha, kalian mau kemana lagi," ucap DR. Jhonson tertawa setelah melewati pintu yang baru saja dirusaknya.
"Hiiiaaaa," Mila lalu menerobos dan menusuk pas jantung DR. Jhonson. Tetesan darah mengalir, Mila tertusuk paku yang diarahkan kepadanya sebelum menusuk jantung doktor itu. Tetapi DR. Jhonson masih tetap bergerak. Mila lalu menahan doktor gila itu walaupun dia tidak akan mungkin tetap bertahan.
"Maya, cepat tusukkan lebih dalam kejantungnya," ucap Mila terbata-bata.
Maya lalu menusukkan lebih dalam dan sangat dalam kedalam jantung DR. Jhonson. Doktor itu berteriak kesakitan lalu roboh jatuh didepan mereka berdua. Iblis itu kesakitan dan menghilang. Mila sudah bermandikan darah merah segar. Sengatan bau amis tercium dimana-mana. Maya hanya menangis melihat semua kejadian ini.
"Maya, kamu harus hidup dan kembali, selamat tinggal," Mila lalu menghilang menjadi butiran-butiran dan tersebar setelah ditiup angin.
"Tiiidddaaaakkk!!!" teriak Mila.
"Ini tidak boleh terjadi, aku tidak ingin kehilangan kalian bertiga," lanjut Maya menangis dan menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba bayangan David dan Mila sudah ada didepannya. "Kamu tidak harus menangis Maya, kami sudah bahagia kamu bisa selamat," ucap David.
"Jangan menangis, hapus air matamu, ayo sini, aku akan selalu bersamamu disini," ucap Mila menyentuh hatinya.
Maya lalu mengusap air matanya, dan mulai terlelap dipangkuan Mila yang mengusap-usap rambutnya.
***
Maya terbangun dari tidurnya. "Dimana ini," ucapnya dalam hati. "Apa tadi itu, apa itu hanya mimpi, tapi terlihat sangat nyata," lanjutnya.
"Bangun, besok pagi kamu akan kuliah, ibu sudah mendaftarkan kamu ke kampus di Bulukumba, ayo makan dulu, baru kamu persiapkan apa yang kamu akan bawa besok ke kampusmu," ucap Ibu Maya.
"Iya bu'," ucap Maya merasa malas.
Malamnya Maya sudah mempersiapkan apa-apa saja yang akan dipakai dikampus barunya itu. Pakaian, buku, pulpen, penggaris, pensil, dan lainnya yang berupa ATK dipersiapkannya lalu disimpannya kedalam tas.
Maya memang sering berpindah-pindah sekolah. Dan sekarang ini dia harus berpindah-pindah kampus karena pekerjaan ayahnya yang biasa dipindah-pindah tugaskan diberbagai tempat. Kuliah kemarin, Maya kuliah di Jakarta dan sekarang di Bulukumba. Sudah berapa kampus yang pernah dimasukinya? Jangan bertanya kalo kamu fikir hanya dua atau tiga, tetapi sudah ke 8 kalinya dan ini akan menjadi kampus ke 9.
***
Pagi indah untuk melakukan kuliah perdana. Maya datang ke kampus diantar oleh Pak Ilham sopir pribadi keluarganya. Diperjalanan Maya menutup mata dan mulai memikirkan teman-teman khayalannya itu. Teman-teman yang pernah muncul di mimpinya. David, Mila, Ben, dan Siska, teman khayalannya.
Maya mencoba membuka mata ketika mobil dihentikan. Tatapan mata Maya sangat antusias. Dia menerawan setiap sudut dan detail kampusnya itu.
"Ini kan kampus...." belum selesai menyelesaikan ucapannya, pak sopir telah memotong ucapan Maya.
"Yah, ini adalah kampusmu Maya. Ayo, bapak antar menemui dosen disini," ucap pak sopir.
Maya merasa heran akan kampus ini, semua yang ada dikampus ini sangat mirip dengan kampus dalam mimpinya semalam. "Apa ini semua, aku pernah kuliah disini sebelumnya," ucapnya dalam hati. Dia meneliti semua peralatan, bahkan semuanya sangat persis. Bahkan tidak ada sedikitpun yang berubah."Apa ini hanya mimpi?" pikir Maya. Lalu dia mencubit pipinya, "Aww, sakit. Ini bukan mimpi, ini nyata, tapi..." ucapnya berhenti ketika melihat dari jauh seorang mahasiswa dan nahasiswi berteriak-teriak pada semua mahasiswa lainnya. Tapi, tidak ada yang mempedulikannya, semua seakan tidak melihatnya. "Apa ini juga nyata," lanjutnya lagi. "Aku bisa gila kalau begini terus," ucapnya lalu menghampiri sopir yang mengantarnya yang sedang berbicara pada seseorang.
"Pak Seno?" ucap Maya pada seorang dosen yang sangat dikenalnya itu dalam mimpinya.
"Iya, saya Pak Seno. Kamu siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" balas dosen itu.
"Maya, kamu mengenal Pak Seno?" ucap pak sopir merasa bingung. Maya tidak pernah kemana pun tanpa ditemani sopirnya itu. Bahkan ke rumah temannyapun perlu pak sopir untuk memgantarnya walaupun dia sudah pintar mengendarai mobil. "Apa dia pernah bertemu dosen ini sebelumnya? Tapi, setiap kemana-mana aku yang ditemaninya?" pikir pak sopir.
"Eh, em, itu... Iya-iya maaf pak. Saya melihat wajah bapak disana, dan ada nama bapak juga. Jadi saya mengenal bapak ketika melihat wajah bapak," ucap Maya gugup mencari alasan. "Tapi, apa yang sebenarnya terjadi, mimpi itu nyata. Apa David dan Mila juga ada disini?" tanya Maya dalam hati.
"Oh ya pak, apa bapak kenal mahasiswa disini yang bernama David dan Mila, jurusan Ekonomi," lanjut Maya.
Pak sopir mulai merasa aneh. Sejak kapan Maya punya kenalan dikampus ini. Dia biasanya hanya berteman dengan teman-teman lamanya, atau mungkin dia mengenalnya dari sosial media. Pak sopir mulai bertanya-tanya dalam hati.
"Em, bapak tidak tahu. Disini kan banyak mahasiswa yang bapak tidak kenal karena banyaknya mahasiswa dikampus ini, mungkin saja dia diantaranya," ucap Pak Seno.
"Oh, iya pak," balas Maya memberi senyuman manis.
"Oh ya pak, ini mahasiswa pindahan itu, dia Maya," ucap pak sopir.
"Oh dia, wah, kamu pasti akan punya banyak teman dan sahabat kalo kamu seperti ini, kamu belum kuliah saja sudah tahu beberapa orang apalagi sudah bertemu teman-temanmu," ucap Pak Seno kagum lalu memperlihatkan senyumnya lagi.
"Maya, kamu baik-baik yah kuliah, bapak pulang dulu, bapak jemput sebentar pukul 02.15," ucap sang sopir.
"Baik pak, jangan sampai terlambat jempunya," ucap Maya pada sopir itu yang lama kelamaan menghilang dibalik lorong-lorong.
***
Pertemuan itu sedikit demi sedikit mengungkapkan semua mimpi Maya. Dia lalu diajak oleh Pak Seno berkeliling kampus untuk memperlihatkan semua fasilitas kampus itu. Semua yang dilihat Maya sangat-sangat persis dalam mimpinya. "Apa mimpi itu adalah masa depan yang diperlihatkan kepadaku," pikir Maya. Maya tersentak kaget ketika memasuki ruang perpustakaan. Didalamnya sangatlah luas. Mungkin ratusan bahkan ribuan buku dapat ditampungnya. Maya melirik sebuah buku. Buku yang membawa teman-temannya dan dirinya dalam masalah besar. Yah, buku "TAWAMU BAHAGIAMU, TAWAMU PENDERITAANKU", maya lalu mengambil buku itu dan membuka halaman yang sangat terlarang untuk dibaca itu.
"Yaa, benar, buku ini adalah sumber masalah, buku pengambil nyawa, buku iblis yang mengambil nyawa teman-temanku," ucap Maya berbicara sendiri.
"Hei, apa yang kamu lakukan," ucap Pak Seno menghampiri Maya.
"Pak, boleh pinjam buku ini?" ucap Maya menunjukkan buku iblis itu.
"Em, maaf yah Maya, jika kamu ingin meminjam buku, maka kamu harus punya kartu perpustakaan," balas Pak Seno.
"Ayo kita ke ruang kuliahmu? Sudah cukup melihat kampus ini, kamu juga akan lebih tahu kampus ini kok nantinya," lanjut pak Seno.
Mereka berdua meninggalkan perpustakaan itu dan menuju ruang kuliah yang akan ditempati maya. Sesampainya dalam ruangan itu, Maya dipimpin oleh pak Seno memasuki ruang kuliah itu. Para mahasiswa yang sedari tadi asyik bercerita langsung diam dan cepat-cepat kembali ketempat duduknya. Maya tahu pasti sebab itu. Pak Seno adalah dosen tergalak dikampus itu, jadi para mahasiswa takut pada pak Seno.
"Perkenalkan, ini Maya. Siswa pindahan dari Jakarta. Semoga kalian semua dapat berteman baik dengan Maya," ucap Pak Seno kepada semua mahasiswa dalam kelas itu.
"Baik pak," jawab serentak mahasiswa itu.
***
(Dirumah)
"Bagaimana kuliahmu?" tanya ibu pada Maya yang sedang asyik menonton sinetron kesukaannya.
"Lancar bu'," jawab Maya yang sedang fokus menatap layar tv didepannya.
"Pak Ris tadi bertanya-tanya pada ibu, sebab kamu aneh tadi katanya," ucap ibu sambil memotong-motong cabai didapur.
"Aneh bagaimana bu?" Maya mulai menghadap ke arah ibunya.
"Katanya kamu seakan mengenal pak Seno dosen disana, dan juga kamu tahu dua orang mahasiswa disana. Kan kita baru kemari dua hari lalu. Apalagi ibu kan yang mendaftarkanmu kuliah disana tanpa kamu ketahui," jelas ibu Maya.
"Emm, ibu mau dengar cerita Maya, tapi ibu mungkin tidak akan percaya pada cerita Maya," ungkap Maya pada ibunya.
"Cerita apa,?" ibunya penasaran dengan Maya.
Maya lalu menghampiri ibunya yang sedang asik mengolah bahan-bahan makanan untuk makan malam nanti.
"Ibu benar ingin dengar,?" tanya Maya sekali lagi.
"Iya, kalau itu bisa menjelaskan keanehanmu tadi," balas ibu.
Maya lalu menceritakan mimpi yang dialaminya itu. Dia menceritakan semua mimpinya tanpa ada yang tersisa. Mulai dari teman-temannya, tempat kuliahnya, serta dosen-dosen yang ada dalam mimpinya itu.
"Begitu bu, mimpi Maya itu nyata. Bahkan aku mengenal pak Seno dari mimpi Maya itu bu," jelas Maya setelah menceritakan semuanya.
Ibu Maya hanya tertegun mendengar cerita anaknya itu. "Tapi, apa mimpi bisa jadi nyata? Apa yang dikatakan Maya itu benar. Maya tidak mungkin berbohong, apalagi kepada ibunya sendiri," pikir ibu Maya.
"Ibu percaya 'kan sama Maya?" ucap Maya.
"Iya, ibu percaya padamu nak, oh ya bantu Ibu dulu masak untuk makan malam nanti," ibu Maya lalu mengambil peralatan dapur dan mempersiapkan makan malam dibantu oleh Maya.
***
Pagi ini Maya kembali kuliah. Maya yang saat itu berjalan menuju kelasnya mulai merasa ada yang mengikutinya pas melewati kantor pusat. Maya mulai merasa khawatir. Mungkin saja itu teman-teman yang iseng padanya. Maya mulai mempercepat jalannya dan berbelok memasuki WC.
"Ada orang?" ucap Maya. Setelah dia diam dan tidak terdengar suara apa-apa yang berarti di tempat itu tidak ada seorang pun. Dia lalu bersembunyi di dalam kamar mandi. Suara langkah kaki terdengar ditelinga Maya. "Siapa yang ingin coba bermain denganku?" kata hati Maya. Suara iti semakin dekat dengan tempat Maya bersembunyi. Dan dengan sengaja Maya membuka sedikit pintu tempat persembunyiannya itu. Suara itu melewati tempatnya dan tapi tidak ada sosok siapapun yang berjalan. Hanya suara langkah laki.
"Siapa itu?" ucap Maya lantang.
"Siapa itu? Jangan coba menakut-nakutiku. Aku tidak takut dengan kelakuan tidak masuk akalmu itu?"
Suara langkah kaki itu tetap saja terdengar. Pintu kamar mandi pun semakin terbuka lebar dan tidak ada seorang pun disana. Maya lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan mencari-cari siapa orang yang sedang menakut-nakutinya.
"Hei, kamu cepatlah keluar, aku tidak ingin bermain-main petak umpet denganmu! Ayo cepat keluar!" teriak Maya. Tetapi tidak suara apapun disana. Ruang itu kosong. Maya lalu berteriak lagi namun semuanya nihil, tidak ada seorang pun disana. "Pasti dia bersembunyi di antara ruang kamar mandi ini?" pikir Maya lalu membuka setiap pintu kamar mandi. Tapi memang tidak ada seorang pun disana. Lama Maya mencari tapi hasilnya tetap nol. Dia lalu beranjak keluar dari ruang itu, langkahnya terhenti pada suara tetesan air yang menetes dari dalam sebuah kamar mandi yang kosong tadi. Maya yang penasaran dengan suara tetesan itu mencoba mendekati sumber suara yang berasal dari kamar mandi paling ujung. Dia lalu menoleh masuk kekamar mandi itu. Dia menemukan seorang perempuan didalamnya yang membelakanginya.
"Ah, maaf. Aku tidak sengaja. Pintunya tidak dikunci sih," ucap Maya dengan pipi memerah.
"Ah, tidak apa-apa kok," ucap perempuan itu lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Maya.
Maya yang melihat wajahnya terbelalak kaget, wajah itu mirip sahabat dalam mimpinya yaitu Mila.
"M.....i....la...," ucap Maya gagap.
"Ya, ini aku. Apa kabar," ucap Mila.
"Tapi... Apa ini nyata, aku tidak bermimpi kan," ucap Maya dengan lantang.
"Tidak, kamu tidak bermimpi," balas Mila.
"Tapi, kamu kan hanya ada dalam mimpiku," kata Maya.
"Memang, aku dan David sangat butuh bantuanmu. Aku tidak ingin terkurung disini terus. Aku ingin cepat bebas, tidak tersiksa seperti ini," jelas Mila.
"Kami disini hanya sebagai roh yang terkurung, aku sangat membutuhkanmu, hanya kamu yang bisa membantu kami," ucap Mila.
"Tapi..."
"Tolong kami, aku mohon, kami sudah meminta tolong pada semuanya, tapi mereka tidak sekalipun melihat kami. Bahkan jika kami menyentuhnya, pasti tembus. Mereka hanya menganggap kami angin bahkan udara," jelasnya.
"Baik, aku akan membantu kalian, apa yang harus kulakukan,"
"Kamu hanya perlu mengambil dan membakar buku kutukan itu. Kamu tahu buku itu kan,"
"Iya, baik, aku akan mencobanya. Tapi, dimana David?"
"Ayo, kita pergi menemuinya,"
Maya pun pergi bersama roh Mila. Mereka pergi ke dalam ruangan berdebu. Disana terdapat sebuah cermin besar, dan anehnya hanya cermin itu yang tanpa debu sedikitpun.
"David," kata Maya saat melihat seorang laki-laki dalam cermin itu.
"Hai Maya, bagaimana kabarmu?" ucap David.
"Aku baik. Kenapa kamu ada didalam cermin," ucap Maya.
"Hahaha, aku memang biasa tinggal disini,". David menghilang lalu berdiri disamping Maya.
"Aku mohon padamu, bebaskan kami," mohon David.
"Baik-baik," ucap Maya.
"Tapi harus malam ini juga,"
"Hah, kenapa harus malam ini?" ucap Maya kaget.
"Karena malam ini, kita berdua akan ditumbalkan kepada iblis," ungkap David.
"Kamu tahu kan yang kumaksudkan," lanjut Mila.
"Iya, aku tahu itu," balas Maya.
***
Malam yang gelap. Maya sudah ada di kampus. Tapi sebelumnya dia telah memberitahukan ibunya untuk menyelesaikan masalah ini, tapi ibunya menolak karena mengkhawatirkan Maya. Tapi, Maya tetap bersikeras akan menyelesaikannya malam ini juga.
"Maya, lewat sini, disitu digembok," ucap Mila saat Maya akan memasuki pagar kampus.
Maya lalu mengikuti Mila. Mereka pun sampai didepan perpustakaan. Disana sudah ada David yang menunggu.
"Kita harus lewat mana?" tanya Maya.
"Ayo lewat sini!" seru David.
Ternyata pada ruangan perpustakaan itu terdapat jalan rahasia untuk memasuki perpustakaan itu tanpa melewati pintu yang tergembok itu. Mereka lalu mencari buku terkutuk itu.
"Maya, disini?" panggil Mila.
Maya dan David langsung menuju ke arah Mila. Mereka bertiga telah menemukan buku yang selama ini mereka cari.
"Cepat ambil dan bakar," ucap David.
"Tunggu.... Kenapa kita tidak membunuh DR. Jhonson saja dengan belati," ungkap Maya.
"Jangan, itu bisa membawamu juga kedalam masalah ini, kamu akan bernasib seperti kami. Dan jika buku itu tetap ada disini, pasti akan memakan korban lagi. Sebenarnya ada satu cara lagi untuk membuat semua seperti semula, dengan membakar buku ini. Kita tidak boleh mengorbankan DR. Jhonson, dia adalah orang baik yang hanya ingin balas dendam. Iblis yang mempengaruhinya. Yang harus dihancurkan bukan dirinya, tetapi iblis dalam tubuh DR. Jhonson." jelas David.
"Oh, begitu," Maya hanya ber-oh-ria.
Korek api dinyalakan. Pancaran sinar merah menyilau didepan mereka. Seseorang berlari dari depan mereka. Dia adalah DR. Jhonson.
"Jangan bakar buku itu," teriak DR. Jhonson.
"Tiiiiddddaaaakkkkkk," DR. Jhonson merasa kesakitan saat buku itu terbakar didepannya. Dia bagai ikan yang kekurangan air. Menggelepar-gelepar. Lalu sadar dengan tubuh tanpa pengaruh dari iblis itu.
"Apa yang terjadi, kenapa aku ada disini?" ucap DR. Jhonson sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Bapak baik-baik saja," tanya Maya.
"Iya, kamu siapa?" tanya balik DR. Jhonson.
"Saya Maya. Mahasiswa dikampus ini, saya yang baru saja membakar buku kutukan yang bapak buat!"
"Buku kutukan?? Buku apa??"
Maya lalu menceritakan semuanya pada DR. Jhonson. DR. Jhonson baru menyadari semua itu. Dia lalu menangis karena telah melakukan kesalahan terbesarnya itu.
***
David dan Mila mengucapkan terima kasih pada Maya. Maya hanya tersenyum melihat mereka berdua. Mereka berdua mulai menghilang dari pandangan mata Maya. Maya lalu tersenyum dan kembali ke rumahnya dengan merasa senang telah menyelesaikan ini semua.
***
END
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Ads
loading...
No comments:
Post a Comment