Monday, April 29, 2019

Analisis Kinerja Alat Penyulingan Minyak Nilam (Pogostemon cablin) Dengan Sistem Vakum

ANALISIS KINERJA ALAT PENYULINGAN MINYAK NILAM (Pogostemon cablin) DENGAN SISTEM VAKUM


SKRIPSI


OLEH :

SYAMSUL BAHRI
1422060137





PROGRAM STUDI AGROINDUSTRI
JURUSAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP
2018
HALAMAN PENGESAHAN

ANALISIS KINERJA ALAT PENYULINGAN MINYAK NILAM (Pogostemon cablin) DENGAN SISTEM VAKUM

SKRIPSI

OLEH:

SYAMSUL BAHRI
14 22 06 01 37


Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Menyelesaikan Studi Pada Program Studi Agroindustri Di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep


Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh:

Pembimbing I       Pembimbing II

Dr. Andi Ridwan Makkulawu, ST., M.Sc Rahmawati Saleh, S.Si., M.Si
NIP. 19750626 200112 1 001 NIP. 19710112 199903 2 001

Diketahui oleh:

Ketua Jurusan Ketua Program Sudi


Ir. Nurlaeli Fattah M.Si Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, SP., MP
NIP. 19680807 199512 2 001 NIP. 19760810 200912 2 002

Direkur


Dr. Ir. H. Darmawan, MP
NIP. 19670202 199803 1 002

Tanggal Lulus :
HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI

Judul : Analisis Kinerja Alat Penyulingan Minyak Nilam
(Pogostemon cablin) Dengan Sistem Vakum
Nama Mahasiswa : Syamsul Bahri
NIM : 14 20 06 01 37
Program Studi : Agroindusri D-IV
Jurusan : Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan

Disahkan Oleh :
Tim Penguji

  1. Dr. Andi Ridwan Makkulawu, ST., M.Sc (…………………….)

  1. Rahmawati Saleh, S.Si., M.Si (…………………….)

  1. Ir. Tasir, M.Si (…………………….)

  1. Ilham Ahmad, ST., MT (…………………….)
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan dibawah ini,
Nama mahasiswa : Syamsul Bahri
NIM : 14 20 06 01 37
Program Studi : Agroindustri D-IV
Perguruan Tinggi : Politeknik Pertanian Negeri Pangkep

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tugas akhir yang saya tulis dengan judul “Analisis Kinerja Alat Penyulingan Minyak Nilam (Pogostemon cablin) Dengan Sistem Vakum”, adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri, dan bukan merupakan pengambilan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tugas akhir ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Pangkep, 15 Juli 2018
Yang menyatakan


Syamsul Bahri
RINGKASAN

SYAMSUL BAHRI (14 22 06 01 37). Analisis Kinerja Alat Penyulingan Minyak Nilam (Pogostemon cablin) Dengan Sistem Vakum dibimbing oleh A. Ridwan Makkulawu, dan Rahmawati Saleh.

Nilam (Pogostemon cablin Benth) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan sama (minyak nilam). Tumbuhan nilam berupa semak yang bisa mencapai satu meter.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kinerja alat penyulingan minyak nilam menggunakan sistem vakum serta membandingkan rendemen, laju distilat, banyaknya bahan bakar yang digunakan, dan lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu dari proses penyulingan minyak nilam.
Perlakuan penyulingan minyak nilam menggunakan dandang biasa dan dandang modifikasi. Bahan baku yang digunakan berupa nilam kering. Setiap dandang memiliki 3 perlakuan yaitu tanpa bahan baku, bahan baku 6 kg, dan bahan baku 7 kg. Rendemen terbanyak yaitu pada proses penggunaan dandang modifikasi sebanyak 6,05% dengan hasil distilat berupa minyak mentah sebanyak 363 ml (bahan baku 6 kg). Laju distilat yang dihasilkan dandang modifikasi lebih cepat yaitu 3 jam 48 menit dengan jumlah distilat sebanyak 17272 ml (bahan baku 7 kg). Waktu yang tercepat untuk mencapai suhu 100ºC pada proses penyulingan dengan menggunakan dandang modifikasi yaitu hanya memerlukan waktu 1 jam 12 menit saja (bahan baku 7 kg). Energi yang dihasilkan bahan bakar terbanyak yaitu 1053358,32 kJ menggunakan bahan baku 7 kg.


Kata Kunci : Nilam, Penyulingan, Minyak Atsiri, Rendemen Minyak Atsiri.
SUMMARY

SYAMSUL BAHRI (14 22 06 01 37). Performance Analysis Of The Tool Of Patchouli Oil (Pogostemon Cablin) With The Vacuum Systems guided by A. Ridwan Makkulawu, and Rahmawati Saleh.

Patchouli (Pogostemon cablin Benth) is a tropical shrub that produces a type of essential oil which is named the same (patchouli oil). Patchouli plants are shrubs that can reach one meter.
This study aims to analyze the performance comparison of patchouli oil refining equipment using a vacuum system and compare the yield, distillate of rate, the amount of fuel used, and the time taken to reach the temperature of the patchouli oil refining process.
Patchouli oil refining treatment using ordinary cormorant and modified cormorants. The raw material used is dry patchouli. Each cormorant has a 3 treatments, without raw materials, 6 kg of raw materials and 7 kg of raw material. The highest yield is in the process of using modified cormorant as much as 6.05% with distillation in the form of crude oil as much as 363 ml (6 kg of raw material). The rate of distillation produced by the modified starch is faster at 3 hours 48 minutes with the amount of distillate as much as 17272 ml (7 kg of raw material). The fastest time to reach a temperature of 100ºC in the distillation process using modified cormorants which only takes 1 hour 12 minutes (7 kg of raw material). The most fuel produced energy is 1,053,358.32 kJ using 7 kg of raw material.


Keywords: Patchouli, Distillation, Essential Oils, Essential Oils yield.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul “Analisis Kinerja Alat Penyulingan Minyak Nilam (Pogostemon Cablin) Dengan Sistem Vakum”.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Laporan Tugas Akhir ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Terima kasih banyak kepada kedua orang tua, adik, dan keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan, semangat serta doa yang bermanfaat bagi penulis. Terima kasih juga kepada Bapak Dr. A. Ridwan Makkulawu, ST., M.Sc selaku pembimbing pertama, dan Ibu Rahmawati Saleh, S.Si., M.Si selaku pembimbing kedua yang telah membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan skripsi ini. Penulis juga menyampaikan banyak ucapan terima kasih kepada yang terhormat :
  1. Dr. Ir. H. Darmawan, MP, selaku direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.
  2. Zulkifli, S.Pi. M.Si, selaku  pembantu direktur bidang kemahasiswaan beserta Wahyuni SE, Wahida SE, Irawan S.Pi, M.Si, Ahmad Daud S.Pi selaku staf bidang kemahasiswaan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.
  3. Ir. Nurlaeli Fattah M.Si, selaku ketua jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan.
  4. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, SP., MP, selaku ketua Program Studi Agroindustri.
  5. Seluruh rekan seperjuangan dan seangkatan jurusan Agroindustri atas kebersamaan serta dukungan kepada penulis, serta semua pihak yang tak dapat disebut namanya satu persatu yang ikut membantu menyelesaikan laporan magang industri ini.
Penulis sangat berharap semoga laporan tugas akhir ini dapat memberikan manfaat ilmu dan informasi kepada segenap pembaca. Penulis menyadari bahwa laporan tugas akhir ini masih banyak kekurangan, dengan demikian kritik, saran masukan yang membangun sangat diharapkan dalam penyempurnaan laporan ini.


Pangkep, 17 Agustus 2018


Penulis

DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN iv
RINGKASAN v
SUMMARY vi
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xii
  1. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang 1
    2. Rumusan Masalah 2
    3. Tujuan 2
    4. Manfaat 3


  1. TINJAUAN PUSTAKA
  1. Tanaman Nilam 4
2.1.1. Klasifikasi Ilmiah 4
2.1.2. Jenis-jenis Tanaman Nilam 6
  1. Minyak Atsiri 10
2.2.1. Pengertian Minyak Atsiri 10
2.2.2. Penggolongan Minyak Atsiri 12
2.2.3. Penyulingan Minyak Atsiri 12
  1. Peralatan Penyulingan 17
2.3.1. Ketel Suling 18
2.3.2. Pendingin (Kondensor) 20
2.3.3. Pemisah Minyak (Separator) 23
  1. Kehilangan Energi pada Proses Penyulingan 24
2.4.1. Konduksi 24
2.4.2. Konveksi 25
2.4.3. Radiasi 25


  1. METODOLOGI
  1. Waktu dan Tempat 26
  2. Alat dan Bahan 26
3.2.1. Alat 26
3.2.2. Bahan 26
  1. Metode Penyulingan 26
  2. Perhitungan Rendemen 28
  3. Parameter yang Diuji 28
  4. Diagram Alir Proses Penyulingan Minyak Atsiri 29

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
    1. Penelitian Pendahuluan 30
    2. Laju Distilat 31
    3. Rendemen Hasil Penyulingan Minyak Atsiri 33
    4. Konsumsi Bahan Bakar 35
    5. Waktu yang Dibutuhkan Untuk Mencapai Suhu 37

  1. PENUTUP
  1. Kesimpulan 40
  2. Saran 40

DAFTAR PUSTAKA 41
LAMPIRAN 43
RIWAYAT HIDUP 46
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 4.1. Penelitian Pendahuluan Tanpa Bahan Baku 30
Tabel 4.2. Laju Distilat Tanpa Bahan Baku 31
Tabel 4.3. Laju Distilat Bahan Baku 6 kg 32
Tabel 4.4. Laju Distilat Bahan Baku 7 kg 32
Tabel 4.5. Rendemen penyulingan Dandang Biasa 34
Tabel 4.6. Rendemen Penyulingan Dandang Modifikasi 34
Tabel 4.7. Energi yang Dihasilkan Bahan Bakar 35
Tabel 4.8. Lama Waktu yang Dibutuhkan Untuk Mencapai Suhu 37

DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 2.1. Daun Nilam 4
Gambar 2.2. Prototipe Ketel Suling 19
Gambar 2.3. Dandang Biasa 20
Gambar 2.4. Dandang Modifikasi 20
Gambar 2.5. Kondensor 22
Gambar 2.6. Alat Proses Penyulingan Minyak Atsiri 23
Gambar 3.1. Alur Proses Penyulingan Minyak Nilam 29
Gambar 4.1. Rendemen 35
Gambar 4.2. Konsumsi Bahan Bakar 36
Gambar 4.3. Waktu Yang Dibutuhkan Bahan Baku (0 kg) Untuk Mencapai Suhu 38
Gambar 4.4. Waktu Yang Dibutuhkan Bahan Baku (6 kg) Untuk Mencapai Suhu 38
Gambar 4.5. Waktu Yang Dibutuhkan Bahan Baku (7 kg) Untuk Mencapai Suhu 39


I. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara dengan biodiversitas tinggi yang menyimpan berbagai jenis minyak atsiri yang kemudian banyak dikembangkan dan akan menjadi komoditas khas negara Indonesia. Seorang pakar aromaterapi bahkan menyatakan bahwa di Indonesia terdapat 900 jenis tanaman potensial sebagai penghasil minyak atsiri. Oleh karena itu, tidak tertutup kemungkinan  bahwa masih banyak jenis atsiri baru khas Indonesia yang bisa digali dan dikomersilkan. Dari 150 jenis minyak atsiri yang selama ini diperdagangkan didalam pasar internasional, 40 jenis diantaranya dapat diproduksi di Indonesia. Di Indonesia jenis minyak atsiri dikatagorikan menjadi 3 kondisi yaitu sudah berkembang, sedang berkembang dan potensial dikembangkan. Tanaman penghasil minyak atsiri yang sudah berkembang seperti nilam, akar wangi, seraiwangi dan kenanga yang pengembangannya diarahkan pada peningkatan volume produksi dan peningkatan mutunya dengan menggunakan benih-benih yang unggul dan cara pengolahan (penanganan bahan tanaman dan penyulingan) yang tepat.
Minyak atsiri lazim juga dikenal dengan nama minyak mudah menguap atau minyak terbang. Minyak atsiri merupakan senyawa, yang pada umumnya berwujud cairan, yang diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang, daun, buah, biji maupun dari bunga dengan cara penyulingan dengan uap. Meskipun kenyataan untuk memperoleh minyak atsiri dapat juga diperoleh dengan cara lain seperti dengan cara ekstraksi dengan menggunakan pelarut organik maupun dengan cara dipress atau dikempa dan secara enzimatik (Sastrohamidjojo, 2004).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu proses penyulingan dengan uap dan air atau dengan cara dikukus. Bahan yang digunakan yaitu tanaman nilam kering. Karena alat penyulingan yang digunakan adalah hasil modifikasi, maka dilakukanlah penelitian tentang analisis alat penyulingan minyak atsiri dengan menggunakan dandang biasa dan dandang modifikasi sebagai pembanding serta membandingkan antara bahan sebanyak 5 kg, 6 kg, dan 7 kg pada tiap masing-masing dandang yang digunakan. Bahan bakar yang digunakan yaitu berupa tabung LPG.

  1. Rumusan Masalah
Bagaimanakah perbedaan laju distilat, rendemen yang dihasilkan, bahan bakar yang digunakan, serta berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu pada proses penyulingan minyak nilam menggunakan dandang biasa dan dandang modifikasi.

  1. Tujuan
Untuk mengetahui perbedaan laju distilat, rendemen yang dihasilkan, bahan bakar yang digunakan, serta berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu pada proses penyulingan minyak nilam menggunakan dandang biasa dan dandang modifikasi.





  1. Manfaat
Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan untuk proses penyulingan minyak nilam dengan menggunakan dandang biasa dan dandang modifikasi. Serta menjadi pembanding, apakah penggunaan dandang biasa yang paling baik digunakan ataukah dandang modifikasi yang lebih baik digunakan dalam proses penyulingan minyak nilam dengan menggunakan sistem vakum.
II. TINJAUAN PUSTAKA

  1. Tanaman Nilam
  1. Klasifikasi Ilmiah
Klasifikasi ilmiah tanaman nilam yaitu :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledone
Ordo : Libiatales
Famili : Libiatae
Genus : Pogostemon
Spesies : Pogostemon cablin Benth
E:\1270100_b04fd544-c211-447d-aa0b-9c734ad5d1f2.jpgE:\tanaman-nilam-660x330.jpg
Gambar 2.1. Daun Nilam

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan sama (minyak nilam). Dalam perdagangan internasional, minyak nilam dikenal sebagai minyak patchouli (dari bahasa Tamil patchai (hijau) dan ellai (daun), karena minyaknya disuling dari daun). Aroma minyak nilam dikenal 'berat' dan 'kuat' dan telah berabad-abad digunakan sebagai wangi-wangian (parfum) dan bahan dupa atau setanggi pada tradisi timur. Harga jual minyak nilam termasuk yang tertinggi apabila dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya.
Tumbuhan nilam berupa semak yang bisa mencapai satu meter. Tumbuhan ini menyukai suasana teduh, hangat, dan lembap. Mudah layu jika terkena sinar matahari langsung atau kekurangan air. Bunganya menyebarkan bau wangi yang kuat. Bijinya kecil. Perbanyakan biasanya dilakukan secara vegetatif.
Beberapa jenis nilam yang dikenal adalah Pogestemon cablin Benth (nilam aceh), Pogestemon hortensis Benth (nilam jawa atau dikenal juga dengan nilam sabun) dan Pogestemon heyneasus Benth (nilam kembang). Diantara ketiga jenis nilam tersebut, nilam aceh adalah nilam yang memiliki kadar minyak yang tinggi yakni sekitar 2,5 - 5% dan juga memiliki komposisi minyak yang baik. Nilam jawa dikenal juga dengan nilam sabun karena seringkali digunakan untuk proses pembuatan sabun. Kadar minyak nilam jawa tergolong rendah yaitu sekitar 0,5 - 1,5%, selain itu komposisi kandungan minyaknya juga tidak baik (Santoso, 1990).
Tanaman nilam yang tumbuh dan terpelihara dengan baik, sudah dapat dipanen pada umur 6 sampai 8 bulan setelah penanaman. Pemanenan dilakukan dengan memangkas atau memotong cabang-cabang, ranting-ranting dan daun-daun tanaman nilam (Sudaryani dan Sugiharti, 1998).





  1. Jenis-Jenis Tanaman Nilam
Jenis-jenis tanaman nilam antara lain :
a). Pogostemon cablin Benth
Pogostemon  cablin Benth disebut juga dengan Pogostemon  patchouli atau Pogostemon mentha. Pogostemon cablin sering juga disebut nilam Aceh. Jenis tanaman ini termasuk famili Labiate, yaitu kelompok tanaman yang mempunyai aroma yang mirip satu sama lain. Diantara jenis nilam, yang diusahakan secara komersial adalah varietas Pogostemon cablin Benth yang sebenarnya berasal dari Filipina,  yang kemudian berkembang ke Malaysia, Madagaskar,  Paraguay, Brazilia dan Indonesia (Sudaryani, dkk, 1998).
Di Indonesia banyak ditemukan di Aceh dan Sumatera Utara. Nilam jenis ini jarang berbunga, oleh karena itu kandungan minyaknya tinggi yaitu 2,5-5%, disamping itu, minyak nilam memiliki sifat-sifat yang diinginkan dalam perdagangan (Nuryani, dkk, 2005).
b). Pogostemon heyneanus
Pogostemon  heyneanus sering  juga dinamakan  nilam jawa atau  nilam hutan. Jenis  ini berasal dari India,  banyak tumbuh liar di hutan  pulau Jawa dan pada umumnya berbunga, oleh karena itu kandungan minyaknya rendah yaitu 0,5-1,5%. Ciri-ciri spesifik yang dapat membedakan nilam Jawa dan nilam Aceh secara visual yaitu pada daunnya. Permukaan daun nilam Aceh halus, sedangkan nilam Jawa kasar. Tepi  daun nilam Aceh bergerigi tumpul, pada nilam Jawa bergerigi runcing, ujung daun nilam Aceh runcing, nilam Jawa meruncing. Nilam jawa lebih toleran terhadap nematoda dan penyakit layu bakteri dibandingkan nilam Aceh (Nuryani, dkk, 2005).
c). Pogostemon hortensis
Pogostemon hortensis disebut juga nilam sabun, karena bisa digunakan untuk mencuci pakaian. Jenis nilam ini hanya terdapat di daerah Banten. Bentuk Pogostemon hortensismirip dengan nilam Jawa, tetapi tidak berbunga. Kandungan minyaknya 0,5-1,5% dan komposisi minyak yang dihasilkan jelek, sehingga untuk jenis minyak nilam ini kurang mendapatkan pasaran dalam perdagangan (Sudaryani, dkk, 1998).
Minyak nilam dihasilkan oleh Pogostemon cablin Benth. Di Indonesia, nilam ditanam dengan luas tanam 9.600 ha dengan produksi sebesar 2.100 ton minyak nilam per-tahun (Subroto, 2009). Di perdagangan internasional, nilam dijual dengan nama Patchouli oil. Dari berbagai macam minyak atsiri, minyak nilam adalah yang menjadi primadona di Indonesia. Pada tahun 2005, penjualan minyak nilam mencapai 1.200 ton. Di luar Indonesia, ada berbagai negara-negara yang mengimpor minyak nilam, seperti HongkongMesirArab Saudi, dll. Amerika Serikat sendiri menempati urutan pertama penyerap minyak nilam dari Indonesia. Urutan kedua adalah InggrisPerancisSwissJermanBelanda, dan lain-lain. Pada tahun 2001 hingga 2005, terjadi peningkatan ekspor; dari 20,6 USD pada tahun 2001 sampai 43,5 USD pada tahun 2005 (Subroto, 2009). Toga Raja Manurung, Ketua Umum Asosiasi Minyak Atsiri Indonesia, menyebut bahwa produksi minyak nilam Indonesia hanya mampu menghasilkan 800 ton pada tahun 2011, padahal pada tahun yang lalu, Indonesia bisa menghasilkan 1000 ton. Kebutuhan minyak nilam dunia mencapai 1.500 ton, artinya sebanyak 70% kebutuhan minyak nilam dunia disokong oleh Indonesia (Wahyudi & Ermiati, 2012; Subroto, 2009; Halimah & Zetra, 2010/2011).
Sebelum Perang Dunia II, Indonesia mampu menghasilkan 80-90% minyak nilam yang hampir memenuhi kebutuhan dunia. Lebih dari 80% produksi minyak nilam berasal dari Daerah Istimewa AcehSumatera UtaraSumatera Barat, yang sebagian besar hasilnya diekspor ke luar negeri. Daerah lain yang menghasilkan minyak nilam adalah BengkuluLampung, dan beberapa daerah di Jawa (Subroto, 2009). Menurut kabarnya dahulu sewaktu Indonesia masih dijajah Belanda, daun daripada minyak nilam dijadikan parfum di Eropa (Heyne, 1917). Tapi, tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) ini sendiri, masuk ke Indonesia pada tahun 1895 (Sastrapradja dkk, 1981). Daerah lain yang mengembangkan minyak nilam adalah JambiSulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur (Wahyudi & Ermiati, 2012). Namun, sebagai pemasok terbesar minyak nilam, Indonesia tidak bisa mematok harga, dalam hal ini, Indonesia hanyalah price taker saja. Sebagai akibat fluktuasi di perdagangan internasional, minyak nilam ikut berubah-ubah pula harganya (Wahyudi & Ermiati, 2012). Tapi,  secara ekonomis, usaha minyak nilam menguntungkan. Menurut Toto Subroto, 2009), laba yang bisa didapat mencapai Rp 12.017.333,00.
Minyak nilam mengandung alkohol nilam (patchouli alcohol), kamper nilam (patchouli camphor), cadinenebenzaldehidaeugenol, dan cinnamic aldehyde. Di dalam minyak nilam ini, terkandung zat patchouli alcohol (disingkat PA) yang teramat berguna pada dunia internasional. Minyak nilam yang baik adalah yang mengandung PA yang mengandung 30%. Bau minyak nilam hampir mirip dengan minyak cedar, yang digunakan untuk memalsukan minyak nilam. Cara untuk membedakan keduanya, dengan cara disaring di kertas saring, simpan selama beberapa hari, sampai tercium bau minyak cedarnya. (Sastrapradja dkk, 1981; Subroto, 2009).
Daun nilam yang disimpan di antara lipatan-lipatan buku dapat mencegah kedatangan serangga (Sastrapradja dkk, 1981). Dahulu, di Semenanjung Malaya, daunnya dipakai untuk mewangikan tanaman. Dipakai pula untuk membuat parfum di Asia Selatan (Heyne, 1917). Digunakannya minyak nilam sebagai parfum, karena mempunyai aroma woodsy, untuk meningkatkan semangat. Karena punya efek menenangkan, dipakai pula untuk mengharumkan kamar tidur, yang berefek menenangkan dan membuat tidur menjadi lebih nyenyak. Minyak nilam juga dipakai untuk menghambat perkembangan jamur dan mikroba. Dalam ayurveda, minyak nila juga dipakai pertolongan pertama dalam mengobati orang yang digigit ular (Subroto, 2009). Minyak nilam juga terpakai untuk minyak rambut, anti-jerawat, obat eksem, dan anti-jamur.
Penggunaan minyak nilam yang dicampur dalam sampo herbal juga berguna dalam menyembuhkan ketombe. Untuk melindungi pakaian wol atau sutra dari ngengat, semut, dll, bisa diletakkan daun nilam dalam lemari (Subroto, 2009). Di Eropa dan Amerika, karena sifat nilam yang mengikat, bisa dipakai sebagai parfum. Air rebusan daun nilam pun bisa juga diminum untuk mengobati obat batuk dan asma. Rebusan daun juga bermanfaat untuk bisul. Akarnya dipakai untuk mengobati rematik. Daun nilam pun dipakai untuk menyedapkan makanan (Subroto, 2009).
Menurut penelitian ilmiah, senyawa α-bulnesene dalam minyak nilam mempunyai manfaat untuk anti-peradangan. Patchoulol dan α-patchoulene dipakai pula untuk anti-jamur. Selain itu pula, minyak nilam pun juga bermanfaat sebagai antidioksida. Selain itu pula, tumbuhan ini juga toksik dengan Aedes aegypti. (Halimah & Yulfi, 2011).

  1. Minyak Atsiri
  1. Pengertian Minyak Atsiri
Umumnya minyak atsiri merupakan pemberi bau yang khas, atau disebut minyak eteris, minyak menguap atau essential oil yaitu bahan aromatis alam yang berasal dari tumbuhan. Ciri minyak atsiri antara lain mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai tanaman penghasilnya dan bersifat larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Minyak atsiri pada suhu kamar berbentuk cairan berwarna kuning-kecoklatan hingga kuning muda sampai kemerahan dan mempunyai densitas lebih kecil dari air (Sumarni, 2008).
Minyak  eteris atau  minyak atsiri  adalah istilah yang  digunakan untuk minyak   yang mudah menguap dan   diperoleh dari tanaman dengan   cara penyulingan uap. Definisi ini, dimaksudkan untuk membedakan minyak atau lemak   dengan minyak atsiri yang berbeda tanaman penghasilnya. Dalam kelompok ini dicantumkan pula minyak yang mudah menguap dengan metode ekstraksi yaitu menggunakan penyulingan uap. Minyak atsiri merupakan salah satu hasil dari sisa proses metabolisme dalam tanaman yang terbentuk, karena reaksi antara berbagai persenyawaan kimia dengan adanya air. Minyak tersebut disintesis dalam sel kelenjar pada jaringan tanaman dan ada juga yang terbentuk dalam pembuluh resin, misalnya minyak terpentin dari pohon pinus (Lutony, dkk, 1994).
Minyak nilam adalah minyak atsiri yang diperoleh dari tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) dengan cara penyulingan. Pada tanaman nilam, minyak atsiri terkandung dalam semua bagian tanaman seperti akar, batang dan daun. Walaupun tidak banyak digunakan di dalam negeri, minyak nilam merupakan salah satu komoditi minyak atsiri andalan Indonesia (Sudaryani dan Sugiharti, 1998).
Minyak nilam merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang dikenal sebagai fiksatif yaitu zat yang mampu mengikat bau wangi sekaligus dapat membentuk bau yang harmonis dalam suatu campuran. Minyak nilam memiliki sifat-sifat antara lain sulit tercuci, sukar menguap dibandingkan minyak atsiri lainnya, dapat larut dengan baik dalam alkohol dan mudah dicampurkan dengan minyak atsiri lainnya. Sifat-sifat ini yang menyebabkan minyak nilam digunakan sebagai fiksatif dalam berbagi industri wewangian, kosmetik, sabun dan farmasi (Ketaren, 1985).
Minyak nilam dapat mengalami kerusakan yang disebabkan oleh panas, oksigen bebas, cahaya, air serta katalisator. Oleh sebab itu, minyak nilam harus disimpan dengan baik dalam kemasan yang baik. Kemasan minyak nilam yang baik sebaiknya terbuat dari kaca.
Mutu minyak nilam dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah jenis atau variasi tanaman nilam, umur tanaman nilam sebelum dipanen, perlakuan pendahuluan sebelum penyulingan, alat-alat yang digunakan, cara penyulingan, perlakuan terhadap minyak nilam setelah penyulingan dan penyimpanan minyak. Standar mutu minyak nilam menurut Titik Sudaryani dan Endang Sugiarti (1998), masih belum seragam di seluruh dunia. Masing-masing negara baik penghasil maupun pengimpor menentukan standar mutu minyak nilam sendiri. Standar minyak nilam Indonesia disusun dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-2385-2006.
Minyak atsiri terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang terbentuk dari unsur karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (0) serta beberapa persenyawaan kimia yang mengandung unsur nitrogen (N) dan belerang (S) (Hulan, 2004). Pada umumnya komponen kimia dari minyak atsiri terdiri dari campuran hidrogen dan turunannya yang mudah menguap dan diperoleh dari tanaman dengan  cara penyulingan uap mengandung oksigen disebut dengan terpen atau terpenoid. Terpen merupakan persenyawaan hidrogen tidak jenuh dan satuan terkecil dari molekulnya disebut isoprene (Guenther, 1987).
  1. Penggolongan Minyak Atsiri
Minyak atsiri mengandung bermacam-macam komponen kimia yang berbeda, namun komponen tersebut dapat digolongkan kedalam 4 kelompok besar yang dominan dalam menentukan sifat minyak atsiri, yaitu: (Guenther, 1987).
1. Terpen, yang ada hubungan dengan isopren atau isopentana.
2. Persenyawaan berantai lurus, tidak mengandung rantai cabang.
3. Turunan benzen.
4. Bermacam-macam persenyawaan lainnya.
  1. Penyulingan Minyak Atsiri
Penyulingan dapat didefinisikan sebagai proses pemisahan komponen-komponen suatu campuran yang terdiri atas dua cairan atau lebih berdasarkan perbedaan tekanan uap atau berdasarkan perbedaan titik didih komponen-komponen senyawa tersebut. Titik didih didefinisikan sebagai suhu pada tekanan atmosfer atau pada tekanan tertentu dimana suatu cairan berubah menjadi uap. Suatu cairan yang terdiri dari beberapa senyawa atau komponen maka masing-masing memiliki titik didih yang berbeda, maka cairan tersebut memiliki kisaran titik didih. Proses penyulingan sangat penting diketahui oleh penyuling minyak atsiri. Pada dasarnya terdapat dua jenis penyulingan, yaitu :
  • Penyulingan suatu campuran yang berwujud cairan yang tidak saling bercampur, hingga membentuk dua fasa atau dua lapisan. Keadaan ini terjadi pada pemisahan minyak atsiri dengan uap air yang sering disebut juga hirdrodestilasi.
  • Penyulingan suatu cairan yang tercampur sempurna hingga hanya membentuk satu fasa. Pada keadaan ini pemisahan minyak atsiri menjadi beberapa komponennya, sering disebut fraksinasi tanpa menggunakan uap air (Sastrohamidjojo, 2004).
Ada tiga macam cara penyulingan yang dapat digunakan untuk memperoleh minyak atsiri yaitu :
a). Penyulingan dengan air
Penyulingan dengan air (water destillation), ini merupakan cara yang paling sederhana  karena sampel yang akan disuling dimasukkan  kedalam drum, kemudian ditambahkan air dan dipanaskan, setelah itu uap yang terjadi dialirkan melalui kondensor dan minyak atsiri  yang terbentuk ditampung dalam tempat penampung atau botol (Sudaryani, dkk, 1998).
Pada penyulingan ini, bahan berhubungan langsung dengan air yang mendidih.  Bahan yang disuling direbus dengan air yang ada di dalam ketel (tangki) penyulingan. Uap air akan menguap dengan membawa uap minyak atsiri yang dikandung oleh bahan yang disuling. Uap ini kemudian dialirkan melalui sebuah  pipa yang berhubungan dengan kondensor (pendingin), sehingga uap berubah menjadi air kembali. Cairan campuran antara minyak dan air ditampung pada sebuah bak pemisah cairan. Pada bak pemisah inilah terjadi pemisahan antara air dan minyak, hal ini disebabkan karena perbedaan berat jenisnya. Pada penyulingan cara ini kurang tepat, karena bahan yang tersuling bercampur antara daun  dan ranting-ranting yang menyebabkan bahan sulit bergerak dalam air mendidih. Keadaan ini menyebabkan penyulingan tidak sempurna, sehingga rendemen minyak yang dihasilkan menjadi rendah (Sudaryani, dkk, 1998).
Penyulingan air mempunyai beberapa keuntungan yaitu alatnya yang cukup praktis dan dapat mengeksraksi minyak dari bahan yang berbentuk bubuk dan bahan yang mudah menggumpal. Selain itu penyulingan dengan air juga mempunyai kelemahan yaitu ekstraksi tidak dapat berlangsung sempurna walaupun dirajang dan komponen minyak yang bertitik didih tinggi dan bersifat larut dalam air tidak dapat menguap secara sempurna, sehingga minyak yang tersuling mengandung komponen tidak lengkap (Guenther, 1947).
b). Penyulingan dengan uap dan air
Menurut Tan (1962), penyulingan minyak atsiri untuk jenis tanaman semak dan daun sebaiknya dilakukan dengan metode penyulingan uap dan air (water and steam distillation). Cara penyulingan uap dan air merupakan penyulingan dengan tekanan uap rendah yang tidak menghasilkan uap dengan cepat sehingga panjangnya waktu penyulingan menjadi hal yang sangat penting, artinya hal tersebut baik jika ditinjau dari mutu dan rendemen minyak yang dihasilkan.
Pada cara ini bahan tidak  berhubungan dengan air. Bahan diletakkan di atas piringan. Piringan dibuat dari plat atau seng yang diberi lubang (seperti ayakan), dan terletak beberapa sentimeter di atas air di dalam ketel. Setelah air mendidih, uap air akan keluar melalui lubang-lubang piringan dan terus mengalir melalui sela-sela bahan. Bersama uap air ini akan ikut terbawa minyak atsiri yang terkandung dalam bahan. Uap air yang timbul disalurkan melalui pipa, dan selanjutnya masuk ke ketel pendingin. Dalam ketel pendingin ini uap air berkondensasi  menjadi air dan minyak. Campuran antara minyak dan air ditampung pada bak pemisah cairan, karena perbedaan berat jenisnya air akan terpisah dari minyak, yaitu turun ke bawah permukaan minyak, selanjutnya air dan minyak ini dipisahkan (Sudaryani, dkk, 1998).
Pada penyulingan dengan uap dan air akan dihasilkan uap dalam keadaan basah. Ketel suling harus selalu terisi oleh air, maka uap yang dihasilkan tidak mungkin berupa uap kering, tetapi merupakan uap jenuh atau basah. Air akan tercampur dalam uap pada keadaan perbandingan tertentu, sehingga terbentuk suatu campuran antara uap dan air yang disebut uap basah (Kulshrestha, 1989).
Untuk instalasi skala kecil penggunaan metode penyulingan air dan uap lebih menguntungkan karena peralatannya lebih sederhana dibandingkan dengan penyulingan uap. Sedangkan untuk instalasi skala besar (skala industri) penerapan metode penyulingan uap lebih menguntungkan, terutama untuk penyulingan minyak bertitik didih tinggi (Guenther, 1947).
Keuntungan penyulingan dengan uap dan air, yaitu uap air selalu jernih, basah dan tidak terlalu panas, bahan berhubungan dengan uap saja, tidak dengan air mendidih. Kelemahan penyulingan dengan uap dan air, yaitu tidak dapat menghasilkan minyak dengan cepat, karena tekanan uap  yang dihasilkan relatif rendah, untuk mendapat rendemen minyak yang tinggi, perlu waktu penyulingan yang panjang.
c). Penyulingan dengan uap
Penyulingan dengan uap pada dasarnya hanya dengan mengalirkan uap yang bertekanan tinggi. Pada cara ini ketel perebus air dipisahkan dari ketel penyuling,  yakni ketel yang berisi bahan. Uap air yang dihasilkan pada ketel perebus air, dialirkan pada sebuah pipa ke dalam ketel penyuling. Bahan yang disuling diletakkan  di atas piringan yang berlubang-lubang di dalam ketel. Piringan boleh lebih dari satu dan disusun secara bertingkat. Cara untuk memudahkan bergeraknya uap air ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu harus disediakan ruang kosong antara bahan yang terletak pada piringan dibawahnya dengan  piringan di atasnya, antara piringan yang terletak pada susunan yang paling bawah dan alas ketel harus ada ruang yang kosong sebagai tempat penampungan uap air yang dihasilkan oleh ketel perebus. Uap jernih yang dihasilkan (dengan tekanan lebih dari 1 atmosfir) di alirkan ke  dalam ketel penyulingan. Bersamaan dengan uap air ini, minyak atsiri akan ikut terbawa, selanjutnya pipa penyalur disalurkan melalui ketel ketiga yang berfungsi sebagai kondensor. Setelah mengalami proses kondensasi, campuran minyak dan air kemudian dicampur pada bak pemisah campuran, dengan adanya perbedaan berat jenisnya maka air dapat dipisahkan dari minyak. Penyulingan dengan cara ini akan menghasilkan minyak yang bermutu tinggi (Sudaryani, dkk, 1998).


  1. Peralatan Penyulingan
Cara penyulingan dan penanganan bahan baku dapat mempengaruhi rendemen dan mutu minyak nilam yang dihasilkan. Namun demikian bahan yang digunakan dalam pembuatan peralatan-peralatan penyulingan juga mempunyai peranan dalam mempengaruhi mutu minyak hasil sulingan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan peralatan penyulingan adalah logam yang digunakan untuk tempat bahan dan pipa pendingin (Harris, 1993).
Logam yang digunakan untuk bahan peralatan penyulingan harus tidak bereaksi dengan uap air dan uap minyak. Bila bereaksi atau bersenyawa, hasil minyak akan rusak dan tidak laku dijual. Logam yang terbukti tidak bereaksi atau bersenyawa dengan minyak atsiri adalah baja tahan karat (stainless steel) dan kaca tahan panas. Logam-logam lainnya seperti : alumunium, tembaga, timah putih, besi biasa, dan seng ada yang bereaksi dengan minyak atsiri tertentu, ada yang tidak, bergantung pada jenis minyak yang disuling (Harris, 1993). Menurut Rusli (2003), bahan konstruksi alat suling akan mempengaruhi mutu minyak terutama dalam karakteristik warnanya. alat penyulingan dari bahan plat besi tanpa galvanis akan menghasilkan minyak yang berwarna gelap dan keruh karena karat.
Menurut Ketaren (1985), peralatan yang biasanya digunakan dalam penyulingan terdiri atas : ketel uap, ketel suling, bak pendingin (kondensor) dan labu pemisah minyak (florentine flask). Penyulingan dengan sistem uap dan air tidak menggunakan ketel uap. Peralatan-peralatan inilah yang menjadi salah satu faktor penentu rendemen minyak atsiri yang dihasilkan.


  1. Ketel Suling
Ketel penyulingan berfungsi sebagai wadah atau bejana untuk menempatkan bahan tanaman yang akan disuling. Dalam ketel tersebut terdapat air atau uap yang berhubungan dengan bahan tanaman dan menguapkan minyak atsiri yang terkandung didalamnya. Ketel suling berbentuk silinder yang memiliki diameter yang hampir sama atau sedikit lebih kecil dari tingginya (Sastrohamidjojo, 2004). Pada penyulingan dengan air dan uap, sebaiknya ukuran diameter sama dengan ukuran tingginya. Hubungan antara tinggi dan diameter ketel yang digunakan tergantung dari sifat porositas bahan yang diolah. Ketel yang berukuran tinggi baik untuk bahan yang bersifat kamba, sedangkan ketel yang lebih rendah baik untuk bahan yang bersifat kompak.
Ketel suling dilengkapi dengan penutup yang dapat ditutup rapat dan saringan atau dasar semu diatas dasar ketel suling untuk penyulingan dengan uap dan air. Pada tutup dipasang pipa untuk mengalirkan uap ke kondensor (Ketaren, 1985).








Pada penyulingan yang dirancang sketsa ketel suling dapat dilihat pada Gambar 2.2. dibawah ini.


C
A    B  E
G

D


F

Gambar 2.2. Prototipe ketel suling
Keterangan :
     A : Pengukur tekanan E   : Tutup ketel
     B : Pengukur suhu F   : Kaki ketel suling
     C : Pipa penghubung ketel ke kondensor G  : Katup pengatur uap
     D : Ketel suling

Ketel suling yang digunakan terbuat dari stainless steel berbentuk silinder dengan diameter 44,5 cm dan tinggi 100,5 cm. Berat yang dapat diisikan yakni hingga 7 kg dan volume yang dapat diisikan air adalah 57 liter. Selain itu ketel suling ini dilengkapi dengan tutup ketel yang dilengkapi dengan 10 buah mur dan baut serta karet pada bagian atas ketel untuk mencegah kebocoran saat penyulingan berlangsung. Tutup ketel mempunyai pipa yang disambungkan pada kondensor. Selain itu di dalam ketel suling dipasang suatu dandang yang berada 50 cm diatas dasar ketel suling yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan bahan yang akan disuling sehingga air yang mendidih tidak kontak langsung dengan bahan yang disuling. Dandang bersifat tidak permanen sehingga bisa dilepaskan dari ketel suling untuk mempermudah pembersihan ketel suling. Saringan terbuat dari plat stainless steel yang berlubang, pada bagian tengah terdapat bagian yang menjadi tumpuan untuk mengangkat rak yang terbuat dari kawat. Dandang yang digunakan pada penyulingan ini ada dua jenis yakni dandang biasa dan dandang modifikasi, sketsa dandang yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 2.3, dan 2.4. Selain itu ketel suling dilengkapi dengan Manometer untuk mengetahui tekanan uap dan termometer untuk mengetahui suhu di dalam ketel suling.
Pipa penghubung antara ketel dan pendingin diletakkan pada bagian atas tutup ketel. Pipa yang menghubungkan ketel dan kondensor terbuat dari stainless steel dengan panjang 108,5 cm dan diameter 2,3 cm.




Gambar 2.3. Dandang biasa Gambar 2.4. Dandang modifikasi

  1. Pendingin (Kondensor)
Kondensor adalah peralatan pindah panas yang digunakan untuk mengubah uap menjadi fase cair dengan menghilangkan panas laten yang dimiliki uap. Proses pendinginan dilakukan dengan menggunakan zat cair yang lebih dingin yang disebut pendingin (McCabe, 1986). Kondensor adalah alat yang berupa bak atau tabung silinder dan di dalamnya terdapat pipa lurus atau berbentuk spiral yang berfungsi untuk menguapkan uap menjadi bentuk cair. Kondensor terdiri atas beberapa tipe yaitu : lingkaran (coil), segi empat, zigzag, dan banyak pipa (multitubular) (Rusli, 2003).
Menurut Bernasconi et al dalam Fatahna (2005), perpindahan panas yang baik pada alat-alat penukar panas dapat dicapai dengan mengatur perbedaan suhu yang besar antara bahan dan media pendingin, laju alir yang besar dari bahan dan media pendingin, permukaan penukar panas yang bersih dan luas permukaan perpindahan panas yang besar serta dinding yang tipis.
Besarnya energi panas yang dapat dibebaskan oleh uap sewaktu mengembun dapat dinyatakan sebagai berikut:
E:\Untitled.png
Harga U tergantung dari bentuk pipa. Jika pipa berbentuk coil maka nilai U-nya = 40. Bila berbentuk tubular maka nilai U-nya = 200 (Ketaren, 1985).
Cara pengembunan uap yang paling sempurna adalah dengan mengalirkan air pendingin berlawanan arah dengan aliran uap minyak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memasukkan air pendingin dari bagian bawah kondensor dan dikeluarkan dari bagian atas dengan demikian distilat yang keluar benar-benar berbentuk cairan (Harris, 1993).

Pada penyulingan yang dirancang sketsa kondensor dapat dilihat pada Gambar 2.5.:
A
D

      B            C
E
F
G
Gambar 2.5. Kondensor
Keterangan :
A : Pipa penghubung kondensor dengan ketel suling
B : Kondensor
C : Pipa uap
D : Pipa air pendingin keluar
E : Pipa air pendingin masuk
F : Pipa destilat
G : Kaki penyangga kondensor







Untuk bagian lengkap alat proses penyulingan yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 2.6. berikut.
Gambar 2.6. Alat Proses Penyulingan Minyak Atsiri

  1. Pemisah Minyak (Separator)
Menurut Lutony dan Rahmawati (1994), penampung hasil kondensasi adalah alat untuk menampung distilat yang keluar dari kondensor lalu memisahkan minyak dari air suling. Jumlah air suling selalu lebih besar dari jumlah minyak, dalam hal ini diperlukan agar air suling tersebut terpisah dengan baik dari minyak atsiri.
Pemisahan minyak dan air dapat terjadi karena perbedaan bobot jenis. Jika bobot jenis minyak lebih kecil dari satu, maka minyak akan berada di atas lapisan air sedangkan apabila bobot jenis minyak lebih dari satu, maka minyak akan berada pada bagian dasar separator. Dengan demikian perlu direkayasa alat pemisah untuk menampung hasil minyak atsiri yang lebih berat atau lebih ringan dari air. Pada penyulingan air serta penyulingan uap dan air maka air suling yang telah dipisahkan dari separator dapat dikembalikan ke dalam ketel suling untuk digunakan pada proses berikutnya. Proses penyulingan yang berkesinambungan ini disebut kohobasi (Sastrohamidjojo, 2004).

  1. Kehilangan Energi Pada Proses Penyulingan
Energi dikenal dalam berbagai bentuk, beberapa diantaranya yang dijumpai dalam bidang teknik kimia adalah : energi dalam, energi kinetik, energi potensial, energi mekanis, dan panas. Hampir semua operasi yang dijalankan untuk proses penyulingan melibatkan pembangkitan, penyerapan, dan kehilangan energi dalam bentuk panas. Energi berupa panas dapat berpindah dari dari suatu sistem ke lingkungannya atau sebaliknya. Ilmu perpindahan panas adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana energi dalam bentuk panas berpindah dari suatu zat ke zat lain yang suhunya lebih rendah (Kamil dan Pawito, 1983). Terdapat 3 tipe perpindahan panas yaitu konduksi, konveksi dan radiasi.
2.4.1.   Konduksi
Perpindahan energi panas secara konduksi adalah perpindahan energi panas melewati massa yang tidak bergerak. Elektron-elektron bebas dari atom-atom benda yang dilaluinya memegang peranan penting dalam perpindahan energi panas secara konduksi. Molekul-molekul zat yang dilewati energi panas secara konduksi tidak berpindah, maka perpindahan energi panas secara konduksi hanya terjadi dalam zat padat. Zat-zat yang banyak mengandung elektron bebas mudah dialiri panas seperti tembaga, alumunium, besi baja dan lain sebagainya (Kamil dan Pawito,1983).
2.4.2.    Konveksi
Aliran energi panas secara konveksi disertai oleh perpindahan massa zat yang dilaluinya. Perpindahan panas secara konveksi terjadi pada zat cair dan gas. Perpindahan panas secara konveksi merupakan gabungan antara perpindahan panas secara konduksi dan perpindahan massa. Cara energi panas berpindah dinamakan konveksi bebas atau sering disebut juga konveksi alami tetapi jika perpindahan panas tersebut berlangsung karena paksaan suatu alat seperti blower, kipas, pompa dan lain sebagainya, perpindahan energi panas tersebut dinamakan konveksi paksa (Kamil dan Pawito, 1983).
2.4.3.    Radiasi
Pancaran (radiasi) adalah perpindahan kalor melalui gelombang dari suatu zat ke zat lain. Perpindahan kalor radiasi terjadi dengan perantara foton dan juga gelombang elektromagnet. Apabila sejumlah energi kalor menimpa suatu permukaan, sebagian akan dipantulkan, sebagian akan diserap kedalam bahan dan sebagian akan menembus bahan. Setiap benda diatas temperatur nol absolut memancarkan energi dalam bentuk radiasi. Tingkat radiasi yang dipancarkan tergantung pada suhu benda tersebut. Konstanta ε menggambarkan kapasitas suatu benda mengabsorbsi dan memancarkan radiasi (Kamil dan Pawito, 1983).
III. METODOLOGI

  1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dimulai pada tanggal 21 Mei 2018 – 07 Juni 2018 di Workshop Agroindustri Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

  1. Alat dan Bahan
  1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mesin penyulingan minyak atsiri, mesin pompa atau penghisap air, bak silinder pendingin dan penampung air, ember dan baskom, gelas ukur besar, termometer, stopwatch, botol plastik sebagai penampung minyak, timbangan digital, timbangan analitik, alat penyaring, kompor, termometer, dan gelas pemisah.
  1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu nilam kering dan air. Nilam kering didapatkan di Kabupaten Soppeng sebanyak ±40 kg dan air sebanyak 57 liter dalam satu kali penyulingan. Terdapat juga bahan pendukung seperti gas LPG 3 kg sebagai bahan bakar.

  1. Metode Penyulingan
Metode yang digunakan yaitu metode penyulingan menggunakan sistem penyulingan uap dan air yaitu dengan cara dikukus dan tanpa udara atau vakum. Prinsip penyulingan dengan cara ini adalah dengan menggunakan tekanan uap rendah. Pada cara ini bahan tidak  berhubungan dengan air. Bahan diletakkan di atas piringan. Piringan dibuat dari plat atau seng yang diberi lubang (sepeti ayakan), dan terletak beberapa sentimeter di atas air di dalam ketel. Setelah air mendidih, uap air akan keluar melalui lubang-lubang piringan dan terus mengalir melalui sela-sela bahan. Bersama uap air ini akan ikut terbawa minyak atsiri yang terkandung dalam bahan. Uap air yang timbul disalurkan melalui pipa, dan selanjutnya masuk ke ketel pendingin. Dalam ketel pendingin ini uap air berkondensasi  menjadi air dan minyak. Campuran antara minyak dan air ditampung pada bak pemisah cairan, karena perbedaan berat jenisnya air akan terpisah dari minyak, yaitu turun ke bawah permukaan minyak, selanjutnya air dan minyak ini dipisahkan (Sudaryani, dkk, 1998).
Keuntungan penyulingan dengan uap dan air, yaitu:
  1. Uap air selalu jernih, basah dan tidak terlalu panas.
  2. Bahan berhubungan dengan uap saja, tidak dengan air mendidih.
Kelemahan penyulingan dengan uap dan air, yaitu:
  1. Tidak dapat menghasilkan minyak dengan cepat, karena tekanan uap  yang dihasilkan relatif rendah.
  2. Untuk mendapat rendemen minyak yang tinggi, perlu waktu penyulingan yang panjang

  1. Perhitungan Rendemen
Rendemen adalah perbandingan  jumlah (kuantitas) yang dihasilkan dari ekstraksi tanaman aromatik. Rendemen menggunakan satuan (%). Semakin tinggi nilai rendemen yang dihasilkan menandakan nilai minyak atsiri yang dihasilkan semakin banyak pula.
Kualitas minyak yang dihasilkan biasanya berbanding terbalik dengan jumlah rendemen yang dihasilkan. Semakin tinggi nilai rendemen yang dihasilkan maka semakin rendah mutu yang di dapatkan.
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung rendemen yaitu:
Rendemen (%) = Jumlah minyak yang dihasilkanJumlah bahan sebelum penyulinganx 100

  1. Parameter yang diuji
Parameter yang diuji dalam penelitian ini yaitu:
  1. Laju Distilat yang dihasilkan
Berapa banyak distilat yang dihasilkan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan distilat tersebut.
  1. Rendemen yang dihasilkan
Membandingkan jumlah yang dihasilkan dari penyulingan dandang biasa dengan dandang modifikasi dari volume distilatnya.
  1. Konsumsi bahan bakar
Bahan bakar yang digunakan yaitu berupa gas LPG 3 kg. Menentukan jumlah gas rata-rata yang digunakan, energi total yang dihasilkan, jumlah air yang diuapkan, serta lama waktu penyulingan.
  1. Suhu
Menentukan berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu 50ºC, 60ºC, 70ºC, 80ºC, 90ºC, 100ºC pada proses pembuatan minyak nilam menggunakan penyulingan dandang biasa dan dandang modifikasi.


  1. Diagram Alir Proses Penyulingan Minyak Atsiri


6 kg
7 kg

















Gambar 3.1. Alur Proses Penyulingan Minyak Nilam
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Penelitian Pendahuluan
Hasil penelitian pendahuluan yang didapatkan dalam proses penyulingan minyak nilam tanpa bahan baku atau menggunakan dandang kosong yaitu berada pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Penelitian Pendahuluan Tanpa Bahan Baku
Penyulingan
Distilat (ml)
Rendemen (%)
Waktu (h:mm)
Energi Bahan Bakar (kJ)
Dandang Biasa
16820
4.9181
4:49
150479.76
Dandang Modifikasi
14020
4.0994
4:34

Dari hasil Tabel 4.1, penggunaan dandang biasa lebih banyak menghasilkan distilat dan rendemen dalam waktu yang lebih lama. Banyaknya air yang digunakan sebanyak 57 liter atau 57000 ml. Distilat yang dihasilkan berupa air bening yaitu sebanyak 16820 ml dengan nilai rendemen sebanyak 4,9181 % dalam waktu 4 jam 49 menit. Sedangkan untuk dandang modifikasi hanya dapat menghasilkan sebanyak 14020 ml distilat dengan rendemen sebanyak 4,0994 % dalam waktu 4 jam 34 menit. Energi bahan bakar yang dihasilkan untuk setiap dandang yaitu sama sebanyak 150.479,76 kJ. Hal ini dikarenakan bahan bakar yang digunakan sama banyaknya yaiu satu tabung gas LPG 3 kg untuk satu kali pemakaian. Besaran energi yang dihasilkan bahan bakar (LPG) yaitu sebanyak 50.159,92 kJ/kg.



  1. Laju Distilat
  1. Tanpa Bahan Baku (0 kg)
Tabel 4.2. Laju distilat tanpa bahan baku
Dandang Biasa
Dandang Modifikasi
Waktu (h:mm)
Distilat (ml)
Waktu (h:mm)
Distilat (ml)
1:49
2360
1:00
3200
2:19
2820
1:30
3100
2:49
2860
2:00
2510
3:19
2880
2:30
2110
3:49
2980
3:00
1700
4:19
2920
3:30
1400
Jumlah
16820
-
14020
Rata-Rata
2803.33
-
2336.67

Dari Tabel 4.2. laju distilat tanpa bahan baku diatas dapat disimpulkan bahwa rata-rata distilat yang dihasilkan dari penggunaan dandang biasa lebih banyak yaitu 2805,33 ml dan dalam waktu yang cukup lama sekitar 4 jam lebih. Dan untuk penggunaan dandang modifikasi, rata-rata distilat yang dihasilkan yaitu 2336,67 ml dalam waktu 3 jam 30 menit. Penggunaan dandang modifikasi juga lebih cepat menghasilkan distilat hanya memerlukan waktu satu jam saja dibandingkan dengan penggunaan dandang biasa yang membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Hasil ini juga menandakan bahwa penggunaan dandang modifikasi lebih efektif untuk menghasilkan distilat yang lebih cepat.






  1. Bahan Baku 6 kg
Tabel 4.3. Laju Distilat bahan baku 6 kg
Dandang Biasa
Dandang Modifikasi
waktu (h:mm)
Distilat (ml)
Waktu (h:mm)
Distilat (ml)
1:19
3359
1:20
3403
1:49
2811
1:50
2980
2:19
2872
2:20
1740
2:49
3051
2:50
2820
3:19
2460
3:20
3020
3:49
2060
3:50
3000
Jumlah
16613
-
16963
Rata-Rata
2768.83
-
2827.17

Dari Tabel 4.3. laju distilat diatas dengan bahan baku sebanyak 6 kg, dapat disimpulkan bahwa rata-rata distilat yang dihasilkan dari penggunaan dandang biasa hanya 2768,83 ml lebih sedikit dari penggunaan dandang biasa yang mencapai sebanyak 2827,17 ml. Perbedaan waktunya pun hanya memiliki selisih satu menit saja. Ini memang berarti bahwa penggunaan dandang modifikasi memang sangat baik digunakan karena walaupun waktunya penyulingan yang hanya berbeda satu menit saja tetapi hasil distilat yang dihasilkan lebih banyak.

  1. Bahan Baku 7 kg
Tabel 4.4. Laju distilat bahan baku 7 kg
Dandang Biasa
Dandang Modifikasi
waktu
Dandang Biasa
Waktu
Dandang Modifikasi
1:25
2355
1:18
2610
1:55
3446
1:48
2850
2:25
2696.5
2:18
2900
2:55
2441.5
2:48
2850.5
3:25
1742.5
3:18
3227.5
3:55
1906
3:48
2834
Jumlah
14587.5
-
17272
Rata-Rata
2431.25
-
2878.67
Tabel 4.4. dengan laju distilat bahan baku 7 kg juga menunjukkan bahwa penggunaan dandang modifikasi sangat bagus dan baik. Dilihat dari waktu penyulingannya. Distilat lebih cepat didapatkan yaitu hanya membutuhkan 1 jam 18 menit daripada penggunaan dandang biasa yang mencapai waktu yang lebih lama yaitu 1 jam 25 menit. Dan rata-rata yang dihasilkan distilat dandang modifikasi pun lebih banyak yaitu 2878,67 ml hanya dalam waktu 3 jam 48 menit saja. Berbeda dengan dandang modifikasi, dandang biasa lebih sedikit menghasilkan distilat hanya 2431,25 ml dan dalam waktu yang lebih lama yaitu 3 jam 55 menit.

  1. Rendemen Hasil Penyulingan Minyak Atsiri
Rendemen adalah perbandingan jumlah hasil akhir yang didapatkan. Pada proses pembuatan minyak atsiri, kami menggunakan bahan utama berupa tanaman daun nilam kering. Berat total yang digunakan yaitu 34 kg. Penelitian ini menggunakan dua dandang yaitu dandang biasa dengan dandang modifikasi. Dandang biasa seperti dandang biasanya dengan lubang-lubang kecil ditengahnya, sedangkan untuk dandang modifikasi yaitu dandang yang sudah diubah bentuk sebenarnya.




Gambar 2.3. Dandang Biasa Gambar 2.4. Dandang Modifikasi
Dalam penelitian ini, kami menggunakan tiga berat bahan baku yang berbeda untuk setiap dandang yaitu dandang dengan bahan baku 6 kg, dan 7 kg.
Tabel 4.5. Rendemen Penyulingan Dandang Biasa
Bahan Baku (gr)
Hasil Distilat (ml)
Rendemen (%)
6000
313
5.22
7000
275
3.93

Tabel 4.6. Rendemen Penyulingan Dandang Modifikasi
Bahan Baku (gr)
Hasil Distilat (ml)
Rendemen (%)
6000
363
6.05
7000
324
4.63

Dari hasil Tabel 4.5. dan Tabel 4.6., dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan dandang modifikasi, hasil rendemen yang dihasilkan lebih tinggi dari penggunaan dandang biasa. Rendemen terbanyak dihasilkan dengan penggunaan dandang modifikasi berbahan baku sebanyak 6 kg sebanyak 6,05% dan rendemen yang sedikit dihasilkan pada penggunaan dandang biasa dengan bahan baku 7 kg sebanyak 3,93%. Dari data tabel diatas juga dapat disimpulkan bahwa berat bahan baku juga mempengaruhi nilai rendemen. Semakin sedikit berat bahan baku, maka semakin besar nilai rendemen yang dihasilkan. Sebaliknya, semakin banyak bahan baku yang digunakan, maka semakin sedikit nilai rendemen yang didapatkan. Ini dikarenakan proses penguapan bahan baku yang banyak jumlahnya memerlukan waktu yang sangat lama pula. Sedangkan proses yang dilakukan hanya memerlukan waktu sekitar 4-5 jam saja.



Grafik hasil rendemen dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut.
Gambar 4.1. Rendemen

  1. Konsumsi Bahan Bakar
Pada penelitian yang kami lakukan, kami menggunakan bahan bakar berupa gas LPG 3 kg untuk setiap dandang. Penggunaan gas LPG pada dandang biasa dan dandang modifikasi yaitu sama. Satu kali penyulingan dapat menghabiskan 1 buah gas LPG dalam waktu ±4-5 jam. Kompor yang digunakan adalah kompor bertekanan tinggi yang dapat diatur seberapa nyala api yang diinginkan.
Tabel 4.7. Energi Yang Dihasilkan Bahan Bakar
Keterangan
Dandang Biasa & Dandang Modifikasi
Bobot Nilam Kering
6 kg
7 kg
Nilai Kalor LPG 3 kg (kJ/kg)
150479.76
150479.76
Energi yang dihasilkan (kJ)
902878.56
1053358.32
Lama waktu penyulingan
± 4 Jam Lebih
± 4 Jam Lebih

Dari hasil Tabel 4.7., menunjukkan bahwa semakin banyak bahan baku yang digunakan dalam proses penyulingan maka semakin banyak pula energi yang dihasilkan bahan bakar gas LPG. Satu kilogram LPG dapat menghasilkan nilai kalor sebanyak 50.159,92 kJ/kg.
Grafik hasil total energi yang dihasilkan bahan bakar untuk kebutuhan setiap bahan baku dapat dilihat pada Gambar 4.2. berikut.
Gambar 4.2. Konsumsi Bahan Bakar









  1. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu
Tabel 4.8. Lama Waktu Yang Dibutuhkan Untuk Mencapai Suhu
Suhu (°C)
Lama Waku Yang Diperlukan Untuk Mencapai Suhu (h:mm)
Bahan Baku
0 kg
6 kg
7 kg
a
b
a
b
a
b
50
0:40
0:31
0:59
0:58
0:59
0:55
60
0:50
0:43
1:03
1:04
1:04
1:03
70
1:20
0:54
1:07
1:06
1:10
1:06
80
1:25
1:03
1:12
1:11
1:14
1:08
90
1:30
1:12
1:14
1:13
1:17
1:10
100
1:33
1:18
1:17
1:15
1:25
1:12
Keterangan:
a = Dandang Biasa b = Dandang Modifikasi

Hasil dari Tabel 4.8. menunjukkan bahwa waktu yang diperlukan untuk mencapai suhu 50ºC lebih banyak digunakan pada penggunaan dandang biasa. Sedang untuk dandang modifikasi lebih cepat mencapai suhu 50ºC walaupun hanya berbeda beberapa menit saja dari penggunaan dandang biasa. Dan untuk suhu 100ºC, waktu yang paling singkat yaitu pada penggunaan dandang modifikasi. Hal ini disebabkan karena pada dandang modifikasi mempunyai bentuk yang berbeda yaitu mempunyai pipa silinder yang dapat mempercepat proses penguapan menyebar secara menyeluruh. Uap panas yang berasal dari pemasakan air akan naik melewati pipa dan mulai menyebar hingga mencapai penutup alat penyulingan. Sedangkan pada dandang biasa tidak memiliki modifikasi sama sekali sehingga saat uap mulai naik ke permukaan bahan baku, uap akan secara bertahap menyebar menyeluruh dari bagian bawah bahan baku hingga permukaan tutup alat penyulingan.

Grafik waktu yang dibutuhkan bahan baku untuk mencapai suhu yaitu:
Gambar 4.3. Waktu yang dibutuhkan bahan baku (0 kg) untuk mencapai suhu
Gambar 4.4. Waktu yang dibutuhkan bahan baku (6 kg) untuk mencapai suhu
Gambar 4.5. Waktu yang dibutuhkan bahan baku (7 kg) untuk mencapai suhu
V. PENUTUP

  1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan adalah penggunaan dandang modifikasi sangat baik dalam proses penyulingan minyak nilam karena dapat menghasilkan rendemen yang lebih banyak dan dalam waktu yang cepat. Rendemen terbanyak yaitu sekitar 6,05% dengan hasil distilat berupa minyak mentah sebanyak 363 ml (bahan baku 6 kg). Laju distilat yang dihasilkan dandang modifikasi lebih cepat yaitu 3 jam 48 menit dengan jumlah distilat sebanyak 17272 ml (bahan baku 7 kg). Waktu yang tercepat untuk mencapai suhu 100ºC pada proses penyulingan dengan menggunakan dandang modifikasi yaitu hanya memerlukan waktu 1 jam 12 menit saja (bahan baku 7 kg). Energi yang dihasilkan bahan bakar terbanyak yaitu 1053358,32 kJ menggunakan bahan baku 7 kg.

  1. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan waktu yang agak lama dalam pengambilan hasil distilat agar dapat mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan bahan baku nilam kering untuk menghasilkan distilat yang lebih banyak hingga kandungan minyaknya habis tersuling.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Jenis Nilam dan Pengambilan Minyak Atsiri_Atsiri Magelang. Wordpress.com. URL [http://atsiri-magelang.blogspot.com/2012/05/jenis-nilam-dan-pengambilan-minyak.html] (diakses pada tanggal 20 Juni 2018)

Guenther, E. 1947. Minyak Atsiri. Diterjemahkan oleh Semangat Ketaren. 1987. Direktorat Jenderal Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Halimah, Diana Pramifta Putri; Zetra, Yulfi (2010/2011). Minyak Atsiri dari Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Melalui Metode Fermentasi dan Hidrodestilasi Serta Uji Bioaktfitasnya. Prosiding Tugas Akhir Semester Genap.

Harris, Ruslan. 1993. Tanaman Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta.

Hendartomo. Minyak Atsiri Indonesia. Wordpress.com. [https://minyakatsiriindonesia.wordpress.com/atsiri-nilam/hendartomo/] (diakses pada tanggal 20 Juni 2018)


Kamil,  Sulaiman  dan Pawito.  1983. Termodinamika  dan Perpindahan  Panas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka, Jakarta.

Kulshrestha, S. K. 1989. Termodinamika Terpakai, Teknik Uap dan Panas. Universitas Indonesia (UI Press), Jakarta.

Lutony, T. L dan Y. Rahmawati. 1994. Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta.

Mangun, H.M.S. 2008. Nilam. Penebar Swadaya. Jakarta.

McCabe, Warren L., Julian C. Smith dan Peter Harriot. 1986. Operasi Teknik Kimia Jilid 1. Erlangga, Jakarta.

Rukmana, Rahmat. 2004. Prospek Agribisnis dan Teknik Budidaya Nilam. Kanisius. Yogyakarta.
Rusli, Sofyan. 2003. Nilam, Teknologi Penyulingan dan Penanganan Minyak Bermutu Tinggi. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.

Santoso, H. R. 1990. Bertanam Nilam Bahan Industri Wewangian. Penerbit Kanisius, Bandung.
Sastrapradja, Setijati; Danimihardja, Sarkat; Soejono, Roekmini; Soetjipto, Niniek Woelijarni; Prana, Made Sri (1981). Tanaman Industri. 10. LBN-LIPI bekerja sama dengan Balai PustakaOCLC 6859333.

Sastrohamidjojo, H. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Subroto, Toto (2009). Budidaya dan Penyulingan Minyak Nilam. Bandung: PT Pribumi Mekar. ISBN 978-979-9148-67-4.

Sudaryani, T. dan Sugiharti, E. 1998. Budidaya dan Penyulingan Nilam. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tan Hong Sieng. 1962. Minyak Atsiri. Balai Penelitian Kimia PNPR. Penerbit Kantor dan Penyuluhan Deperinda, Bogor.

Uzwatania, Wina (2009). Analisis Kinerja Dan Efisiensi Energi Prototipe Alat Penyulingan Untuk Industri Kecil Minyak Nilam. Bogor. PDF [http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/11305/1/F09fuz_abstract.pdf] (diakses pada tanggal 14 Juli 2018)

Wahyudi, Agus; Ermiati (2012). Proposal Pengembanagan Industri Minyak Nilam di Indonesia. Bunga Rampai Inovasi Tanaman Atsiri Indonesia.
LAMPIRAN

  1. Penelitian Pendahuluan
Waktu (Menit)
Penyulingan Dandang Biasa
Penyulingan Dandang Modifikasi
gram
%
gram
%
30
2360
4.1404
3200
5.6140
60
2820
4.9474
3100
5.4386
90
2860
5.0175
2510
4.4035
120
2880
5.0526
2110
3.7018
150
2980
5.2281
1700
2.9825
180
2920
5.1228
1400
2.4561
Jumlah
16820
29.509
14020
24.596
Rata-rata
2803.33
4.9181
2336.67
4.0994
Diketahui ;
Volume Distilat Dandang Biasa = 16820 ml
Volume Distilat Dandang Modifikasi = 14020 ml
Berat Awal = 57000 ml
Rendemen (%) = Volume Distilat (ml)Berat Awal (gr) x 100
Rendemen (%) Dandang Biasa = 16820 ml57000 grx100 = 29,509
Rendemen (%) Dandang Modifikasi = 14020 ml57000 grx100 = 24,596







  1. Rendemen Penyulingan Minyak Nilam
  1. Bahan Baku 6 kg
Waktu (Menit)
Penyulingan Dandang Biasa
Penyulingan Dandang Modifikasi
gram (ml)
%
gram (ml)
%
30
59
0.98
103
1.72
60
11
0.18
180
3.00
90
72
1.20
40
0.67
120
51
0.85
20
0.33
150
60
1.00
20
0.33
180
60
1.00
0
0
Jumlah
313
5.22
363
6.05
Rata-rata
52.17
0.87
60.5
1.01
Diketahui ;
Volume Distilat Dandang Biasa = 313 ml
Volume Distilat Dandang Modifikasi = 363 ml
Berat Bahan Baku = 6000 gr
Rendemen (%) = Volume Distilat (ml)Berat Awal (gr) x 100
Rendemen (%) Dandang Biasa = 313 ml6000 grx100 = 5,22 %
Rendemen (%) Dandang Modifikasi = 363 ml6000 grx100 = 6,05 %

  1. Bahan Baku 7 kg
Waktu (Menit)
Penyulingan Dandang Biasa
Penyulingan Dandang Modifikasi
gram (ml)
%
gram (ml)
%
30
70
1
20
0.29
60
12
0.17
0
0
90
103
1.47
100
1.43
120
53
0.76
121
1.73
150
15
0.21
15
0.21
180
22
0.31
68
0.97
Jumlah
275
3.93
324
4.63
Rata-rata
45.83
0.65
54
0.77
Diketahui ;
Volume Distilat Dandang Biasa = 275 ml
Volume Distilat Dandang Modifikasi = 324 ml
Berat Bahan Baku = 7000 gr
Rendemen (%) = Volume Distilat (ml)Berat Awal (gr) x 100
Rendemen (%) Dandang Biasa = 275 ml7000 grx100 = 3,93 %
Rendemen (%) Dandang Modifikasi = 324 ml7000 grx100 = 4,63 %

  1. Dokumentasi Penyulingan

IMG_20180523_133330.jpgIMG_20180523_172801.jpgIMG_20180523_172959.jpg

E:\penelitian syamsul\Fix It\foto\IMG_20180523_165528.jpg
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Nipisi, Kel. Bontokamase, Kec.  Herlang, Kab. Bulukumba, Prov. Sulawesi Selatan, pada tanggal 19 Juni 1996. Anak pertama dari 3 bersaudara. Ayah bernama Bakri dan Ibu bernama Suharni. Penulis tamat pendidikan Sekolah Dasar (SD) pada tahun 2008 di SDN 131 Bontobana, Kec. Herlang, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Lalu pada tahun 2011 penulis tamat di MTS.s Tanuntung, Kec. Herlang, Kab. Bulukumba dan dinyatakan LULUS di SMA Negeri 6 Bulukumba, Kec. Herlang, Kab. Bulukumba, pada tahun 2014. Ditahun itu juga penulis melanjutkan pendidikan di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep dan lulus di Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan, Program Studi Agroindustri D-IV. Pada tahun 2017, penulis melakukan praktek Magang Kewirausahaan (KWU), dan pada tahun 2018 penulis melakukan Praktek Kerja Magang Industri (PKMI) di PT. Makassar Tene dan ditahun itu juga penulis melakukan penelitian di Workshop Agroindustri Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.yhkuk.jpg

No comments:

Ads

loading...