Friday, May 10, 2019
✔️Jejak-jejak Monster | Menulis Dapat Menghasilkan Karya
Jejak-jejak kaki aneh terlihat jelas dimata Rara. Gadis 17 tahun itu sedang mencari bukti akan adanya makhluk-makhluk monster yang ada di hutan dekat rumahnya. Tanpa ditemani seorang teman, Rara nekad menerobos malam yang gelap hanya dengan berbekalkan senter kecil dan sebuah handphone berinframerah miliknya. Tanpa sengaja, Rara menginjak ranting kayu rapuh dan tepat disitu pun ternyata adalah lubang besar. Rara pun terpelanting jatuh kedalam lubang tersebut. Darah mengalir keluar dibalik kulit pelipis Rara. "Tolong...!!! Tolong...!!!" teriak Rara. Hanya suara hewan malam yang menjawab teriakannya. Rara hanya menangis dan berdiam diri di dalam lubang itu berharap seseorang datang menolongnya.
Rara sejenak mendengar suara ranting patah-patah diiringi gesekan daun menandakan seseorang sedang berjalan di atas. Rara langsung bangun dan berteriak sekeras-kerasnya, "Tolong..!! Tolong aku..!!". Suara itu lantas lenyap ditelinga Rara. Hanya bisikan suara-suara hewan malam yang di dengarnya. Rara hanya diam membeku dan meneteskan air mata berharap malam itu tidak ada hewan buas yang memasuki lubang itu.
"Siapa di bawah!" teriak seseorang laki-laki di tepi mulut lubang itu. "Tolong aku, aku di bawah sini," teriak Rara kegirangan sambil menatap langit-langit lubang tersebut. Sebuah tali dijatuhkan seseorang di balik mulut lubang itu. "Pegang erat-erat, aku akan menarikmu," teriak laki-laki itu. Rara dapat melihat jelas wajah laki-laki muda itu di balik kegelapan malam itu dengan cahaya senter miliknya.
"Terima kasih ya atas bantuannya. Jika tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi padaku nantinya," ucap Rara dengan perasaan legah sambil menyalami laki-laki yang tidak di kenalnya itu. "Iya, sama-sama," balas laki-laki itu. "Oh ya, apa yang kamu lakukan malam-malam di sini," lanjutnya. "Oh itu, aku sedang mencari bukti," ucap Rara sambil memperhatikan wajah pemuda yang ada di depannya itu. "Bukti apa!" seru sang pemuda. "Bukti bahwa di hutan ini ada monster," kata Rara. "Memang inilah hobiku, mencari jejak-jejak makhluk monster yang ada di sekitar kita. Dari sekian pencarianku, mungkin inilah yang bisa dikatakan ada bukti walaupun belum pasti jejek ini jejak monster," lanjut Rara. Pemuda itu pun terdiam sejenak seraya memikirkan sesuatu. "Apakah kamu ingin melihat monster ini secara langsung..?" tanya sang pemuda. Ucapan pemuda itu sontak membuat Rara kaget sekaligus senang. "Apa kamu pernah melihat monster itu..??" tanya Rara dengan rasa penasaran bercampur rasa takut. "Iya, aku pernah melihatnya berkeliaran di hutan ini," balas pemuda itu dengan wajah serius. "Tapi, apa kamu memang benar-benar ingin melihatnya," tanya pemuda itu sekali lagi. "Sebenarnya aku ingin melihat monster ini, tapi aku juga merasa takut," ucap Rara ragu-ragu. "Oh ya, aku harus kembali. Sampai ketemu lagi," kata Rara berjalan menjauhi pemuda itu dan menghilang di kegelapan malam.
Keesokan paginya, Rara kembali ke hutan tersebut dan berharap mendapat bukti yang lebih lagi. Dalam hutan, Rara melihat jejak-jejak kaki monster yang dilihatnya semalam. Rara kemudian memfoto bukti tersebut. Rara berjalan lagi menyusuri hutan belantara itu hingga sampai pada sebuah gua. Gua besar dan mungkin berpenghuni menurut pemikiran Rara. Sekali lagi, Rara memfoto di mulut gua itu. Bukti-bukti sudah didapatkan Rara dan hendak kembali ke rumahnya. Rara kaget seketika menghadap kebelakang. Pemuda yang semalam itu muncul dihadapan Rara tiba-tiba. "Ah, kamu membuat aku kaget saja," ucap Rara dengan perasaan legah. "Apa yang kamu lakukan di sini..!" tegas sang pemuda dengan wajah tanpa ekspresi. "Aku hanya mencari bukti kok, dan aku juga ingin mau pulang ini," jawab Rara. "Oh ya, nama kamu siapa..??" tanya Rara. "Panggil saja aku Ken," balas Ken. "Sebaiknya kamu jangan kemari, di sini sangat berbahaya," saran Ken. "Kenapa, karena ada monster..!! Terus, kamu sendiri kok sering ada di hutan ini..??" tanya Rara. "Aku memang tinggal di hutan ini. Dulunya, aku tinggal di kampung tempat tinggalmu. Tetapi karena dulu aku punya penyakit kulit yang tak bisa di sembuhkan, aku di usir dari tempat tinggalku ke hutan ini," jelas Ken.
Hari itu juga, Rara dan Ken mulai berteman baik. "Oh ya, kamu pernah bilang ingin menunjukkan monster yang ada di hutan ini??" tanya Rara penuh harap. "Kamu memang ingin melihat monster itu. Jika ingin ikut aku..!!!" seru Ken. Rara dan Ken berjalan sangat jauh ke dalam hutan dan akhirnya sampai pada sebuah rumah kayu yang sangat terawat. "Apa ini rumahmu??" tanya Rara dengan memperhatikan Ken secara seksama. "Ia, ini rumahku," balas Ken biasa saja. "Bukannya kamu ingin memperlihatkan monster itu padaku, tetapi kenapa kamu mengajak aku ke rumahmu.?" Tanya Rara lagi. "Ia, kamu akan melihatnya nanti."
Di dalama rumah, Rara sangat terpesona dengan isi rumah kecil itu. Berbagai barang-barang antik didapatinya di setiap mata Rara memandang. Tetapi, mata Rara mulai tertuju pada sebuah lukisan berbingkaikan warna emas mengkilap. Lukisan seorang laki-laki berpegangan tangan dengan monster buas yang bergaya hendak memangsanya. Giginya yang panjang dan tajam mencerminkan betapa buasnya makhluk ini. Dari arah belakang, Rara di kejutkan oleh Ken yang menyentuh bahu Rara. "Ah, kamu sering mengagetkan aku saja. Oh ya, ini lukisan bagus sekali, siapa pembuatnya?" wajah Rara menggambarkan kekagumannya. "Oh, itu aku yang melukisnya sendiri. Lukisanku tidak mungkin sebagus itu, itu masih biasa-biasa saja," jawab Ken mengelak. "Tidak, lukisanmu memang sangat bagus, apalagi objeknya," ucap Rara dengan rasa kagum. "Laki-laki itu adalah aku, sedang monster itu Cuma khayalanku. Tetapi sebenarnya monster itu nyata dan dia ada di hutan ini,!" kata Ken.
Satu jam kemudian, sesuai dengan keinginan Rara, Ken mengajak Rara untuk bertemu langsung dengan monster yang dikatakannya itu. Tepat di mulut Goa yang di foto Rara. Ken memanggil dengan panggilan yang tidak dimengerti Rara, "Ooo puangnge, angsulukki mae, rie' tau la ara sitteki, arenna Rara, bahine. A'rakki naitte,' ucap Ken. Tidak lama kemudian dari dalam goa terdengar suara, "Pauangngi'i rolo', tala lana pau-pauja ri mange-mange, mingka nanapau'i mange-mange, kuhuno intu, paungngi pappasangku inni," balas sang monster. "Rara, dia akan keluar tapi kamu harus janji tidak akan menyebarkan ini kemana-mana, jika kamu menyebarkannya maka kamu akan dibunuhnya," kata Ken dengan wajah menakut-nakuti. "Bilang pada monster itu, aku tidak akan menyebarkan kepada siapapun," jawab Rara mantap dengan wajah yang sangat serius. "Tala lana pau-pau jaki ri mange-mange. Ansulu' maki mae," teriak Ken.
Tanah tempat Rara berpijak mulai bergetar. Suara langkah kaki dalam goa terdengar jelas di telinga Rara. Dalam pikiran Rara, makhluk monster itu berwujud mengerikan besar dan tinggi dengan kaki yang besar, gigi yang tajam panjang dan mengkilap, tubuh yang di tutupi dengan bulu yang tebal, serta kuku panjang sebagai pelengkap. Tetapi, apa yang dilihat dalam pikirannya tidak sama persis, tetapi lebih banyak perbedaan. Rara hanya tertawa geli melihat monster sekecil anak-anak umur 7 tahun dengan wajah imut-imut dan cabi, serta gigi yang belum tumbuh dan kulitnya tidak dipenuhi dengan bulu bahkan kukunya putih bersih terawat dan tidak panjang. "Apa yang kamu tertawakan," tanya monster kecil itu heran. "Bahkan suaranya saja tidak mencukupi kriteria sebagai monster. Hahaha, Apakah monster yang kamu maksud ini?? hahahaha!" tawa Rara terdengar menggema di dalam hutan itu. "Rara, jangan tertawa dulu, ini bukanlah wujud aslinya, jika ingin melihat wujud aslinya kita tunggu pada saat gelap dan malam hari," ucap Ken. Ucapan Ken menghentikan tawa Rara. Dalam pikiran Rara, "Bisa saja, 'kan dalam film begitu ceritanya.". Rara hanya terdiam kaku merasa takut. "Kamu tidak perlu takut, aku bukanlah monster pemakan daging. Dulunya aku sama sepertimu, aku juga manusia. Tetapi karena aku pernah tidak sengaja membunuh hewan kesayangan seorang penyihir, jadinya aku di kutuk menjadi monster seperti ini," jelas sang monster. "Aku akan menjadi monster pada saat aku berada pada gelapan, tetapi aku akan menjadi anak-anak kecil jika tidak pada kegelapan. Sekarang ini aku juga bisa menunjukkan kepadamu wujud asliku di dalam goa, tetapi kamu tidak akan jelas melihatku," lanjut sang monster kecil itu.
Langit mulai tampak gelap, matahari juga mulai tenggelam. Hanya beberapa sinar yang menerangi mereka di mulut gua itu. Rara hanya terpaku saat melihat perubahan wujud sang monster kecil yang ada di depan matanya itu. Anak itu mulai meregangkan tubuhnya. Bulu tebal mulai bermunculan di balik tubuh sang anak. Gigi putih nan panjang serta tajam tumbuh dengan sangat cepatnya. Wajah yang imut kini berganti menjadi wajah yang amat menyeramkan. Tubuh yang hanya beberapa jengkal dari tanah kini menjadi beberapa meter dari tanah. Rara sangat takut, merinding dibuatnya. Tubuhnya bergetar hebat, giginya terpelatuk hampir menggigit lidahnya sendiri. Tetapi Ken dengan cepat menenangkan Rara, "Jangan takut, dia tidak akan berbuat buruk kepada kita. Tenang saja, aku sudah lama kenal dengannya," Ken menenangkan Rara yang hanya kaku melihat wujud asli monster itu. Dengan adanya penenang seperti Ken, Rara mulai tidak kerasa takut lagi. Dia berjanji tidak akan memberitahukan kepada siapa pun tentang monster ini.
"Ken, aku mau pulang, kamu bisa menemani aku pulang sampai ke rumah. Aku takut," ucap Rara yang tampak jelas ketakutannya itu. "O ya Ken, nama monsternya siapa..??" lanjut Rara beranya. "Namanya Zing," balas Ken. "Ayo, aku akan mengantarmu pulang," lanjut Ken. "Zing, aku akan pulang, tapi aku akan kesini setiap hari, dan juga rahasiamu akan aku jaga selama-lamanya," ucap janji Rara. "Terimakasih Rara," kata Zing.
Pada saat itu juga, Rara mulai berhenti mencari bukti-bukti tentang monster yang ada di sekitarnya karena Rara sudah pernah melihat monster yang menakutkan tapi baik hati di depan mata Rara sendiri.
Selama ini Rara sudah merahasiakannya sampai dia memiliki anak pun tetap rahasia ini tidak bocor sama sekali. Bahkan kata "Monster" saja tidak pernah terucap dari mulutnya sekali pun setelah dia melihat sendiri makhluk itu didepan matanya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Ads
loading...
No comments:
Post a Comment