Mataku masih pekat. Tubuhku sangat lelah. Semalam aku tertidur sangat larut malam. Kutatap jam wecker di meja belajarku. Tepat jam 8.30. Untung saja hari ini libur, jadi aku bisa istirahat penuh. Kututup lagi mataku untuk melanjutkan tidurku.
Panggilan ibu kini membuatku kaget. Entah itu sangat dekat sekali ditelingaku. "Liiiaaa,, banguuunn," panggilnya.
Aku bergegas bangun dan beranjak dari tidurku. Aku tidak ingin lagi dapat omelan keras dari ibuku. Penglihatanku masih agak buram. Sesekali aku hampir menabrak barang-barang rumah. "Kamu itu kenapa? Begadang lagi semalam!" celoteh ibu saat aku baru saja menduduki meja makan. "Sebaiknya kamu pergi mandi dulu, tidak baik anak cewek mandi kesiangan." lanjut celoteh ibu.
Kuturuti apa yang ibu mau. Dua atau tiga guyuran air membasahi tubuhku. 'Bbrrrr' dingin sekali air pagi ini. Setelah mandi aku kini bersolek mendandani wajahku dengan berbagai alat make-up yang kupunya.
"Liiiaaaa, makaaann," teriak lagi ibuku. Memang ibu sering berteriak seperti itu. Mungkin dari lahir ibu sudah memiliki bakat tersebut. Jadi aku juga dapat bakat yang seperti itu. "Iya bu!" jawabku yang masih berdandan. Tatapanku masih ke arah cermin. Mulailah kukagumi diriku yang tampak cantik ini. Lamunanku kini buyar karena panggilan ibu lagi, "Liiaaa, cepaatt. Nanti dingin,".
Makanan yang dibuat ibuku memang sangat enak. Ada ayam goreng, nasi goreng, sayur bayam, sayur bening, dan ada buah-buahan segar dan makanan lain yang kini berada diatas meja makan. Makanan itu kusantap dengan sangat tenangnya. "Kakak dimana bu?" tanyaku pada ibu. "Ah, kamu kan tahu kakakmu kalau jam segini. Dia masih tidur di kamarnya,". Setelah mendengar jawaban ibu, kulanjutkan lagi makanku. Selang beberapa menit, aku telah menghabiskan makanan yang ada di depan mataku itu tanpa ada yang tersisa walaupun dibantu ibu dan Mbok Ijah dan tentu juga Si Manis kucingku. "Bu, ayah kapan pulang?" tanyaku pada ibu yang saat itu melahap makanannya. "Minggu depan," jawabnya. "Oh, kalo ayah nelpon bilang oleh-oleh untuk Lia yah bu, oh ya Lia mau belanja dulu di Mall, mungkin ibu mau nitip sesuatu?" balasku lagi. "Emm, iya, nanti ibu bilangin ke Bapak. Ibu mau sate Pak Paijo, kamu beliin ibu yah. Tapi harus cepat pulang, bantu ibu beres-beres di rumah. Hati-hati yah.".
Aku lalu menyuruh Pak Budiman yang sebagai hansip multitalent itu untuk mengeluarkan mobil yang akan kupakai ke Mall. Kuluncurkan mobil merah kesukaanku itu menuju mall yang sekitar 4 kilometer dari rumah milikku. Dijalan kulihat lampu lalu lintas berwarna merah menandakan aku harus menghentikan mobilku. Seorang anak kecil dengan wajah cemong mulai melantunkan lagu-lagu yang sekarang jadi trending topic di televisi di samping kaca mobilku. Diiringi sebuah alat yang terbuat dari kaleng-kaleng bundar yang disusun rapi sehingga menghasilkan suara 'cring criing criing'. Aku mengeluarkan uang 10 ribu dari dompetku. Kuberikan setelah dia menyelesaikan lagu yang dinyanyikannya.
Hari ini sangat macet, butuh waktu 3 jam sampai di tempat tujuan. Kulihat kesana kemari apa yang menarik perhatianku saat aku sudah ada didalam mall yang besar ini. Berbagai bahan jualan ada disini. Pakaian, sepatu, handphone, bahkan tempat bermain-main juga ada. Pandanganku tertuju pada pakaian yang ada disana. Kupilih-pilih pakaian yang paling menarik hatiku. Seseorang menepuk pundakku, sontak aku menghadap ke arah orang itu.
"Lia, kamu Lia kan," tanyanya. Kulihat sejenak wajahnya. Tampak aku mengenalnya. "Siska?" kubalas. "Iya, ini aku. Astaga, kamu dari mana saja, lama baru ketemu, apa kabar?" tanyanya kembali sambil menyalami lalu memelukku. "Baik. Aku kemarin pindah ke luar kota, kamu apa kabar?" jawabku. "Alhamdulillah baik saja," ucapnya.
Lama kami berbincang-bincang di kafe miliknya. Dia sudah menjadi orang besar di tempat ini. "Wah Sis, kamu sudah berhasil rupanya," ucapku dengan senang. Handphoneku berdering lalu kujawab. Ternyata ibu yang menelponku.
"Oh ya sis, aku harus pulang dulu. Ibu tadi menelpon kemudian menyuruhku pulang. Oh ya, aku minta nomer hapemu biar kita bisa berkomunikasi". Aku meluncurkan mobilku setelah aku permisi pamit pada Siska. Nomer hapenya sudah tercatat didalam kontak hapeku.
***
Hari ini aku kembali bekerja. Aku bekerja sebagai asisten direktur di perusahaan ayahku. Direkturnya sendiri adalah kakakku Iwan. Dia yang kini memimpin perusahaan milik ayah. "Lia, kamu sudah mengatur jadwal pertemuan manager untuk kedepannya," ucap kakakku yang saat itu sedang duduk dikursinya. "Iya kak, semua sudah beres," jawabku tegas. "Sekarang tugas kamu menyeleksi orang-orang yang melamar pekerjaan di perusahaan kita, kamu kan bisa diandalkan. Daripada aku harus menyuruh orang lain. Kamu kan tahu yang mana yang bisa bekerja dengan benar atau tidak. Kamu itu unik, kamu bisa tahu yang mana yang bisa mengembangkan perusahaan atau tidak," ucap lagi kakakku. "Iya kak," kataku.
Selepas itu, aku kini sudah ada di kantorku sendiri. Satu per satu pelamar memasuki ruanganku. Sekian banyaknya pelamar yang ku introgasi membuatku merasa lelah. Tinggal seorang pelamar lagi, kutarik nafasku dalam-dalam lalu kuhembuskan 'hufftthh'. Pelamar itu duduk didepanku. Kulihat dan kuperhatikan wajahnya. Terlihat tidak asing bagiku. "Nama kamu siapa?" tanyaku. "Lela, Nurlaela Sudirman bu!" jawabnya polos. "Lela? Ini aku Lia!" dia sontak kaget karena suaraku yang sangat kerasnya. "Hah, Lia,?" pikirnya sejenak, "Lia? Subhanallah, kamu Lia yang dulu suka sama Yogi?" katanya. "Ah, lupakan yang itu, kamu lupa kita kan sahabat kok malah bertanya yang seperti itu?" ucapku dengan nada agak kesal. "Iya-iya, maaf. Wah kamu sudah jadi asisten direktur rupanya," katanya lagi. "Iya, aku disuruh ayah untuk membantu kakakku yang sebagai direktur disini. Oh ya, kamu apa kabar?" ucapku dengan semangat. "Alhamdulillah baik, kamu bagaimana?" tanyanya kembali. "Alhamdulillah aku baik juga,". Cerita akan masa lalu kini terlantunkan pada ruanganku. Tawa akan kisah-kisah kesenangan kini terdengar jelas didalam ruanganku. "Oh ya, nanti aku akan mengabarimu lewat sms atau email tentang lamaranmu ini," ucapku sambil menjabat tangannya. "Baik, Bu!" jawabnya sambil tersenyum.
***
Malam ini aku sangat lelah dengan kegiatan keseharian tadi. Setelah makan malam, aku ke kamar tidurku untuk melepaskan lelahku yang amat sangat. Kurebahkan tubuhku. Mataku semakin berat lalu aku tertidur dengan lelapnya.
Keesokan harinya aku bangun dengan sangat cepatnya. Teleponku berdering. 'Dari siapa?' pikirku. "Siska? Ada apa dia menelponku pagi-pagi begini," lalu kujawab, "Halo Assalamualaikum, ada apa Sis?" tanyaku. "Aku ketemu Yogi, sekarang dia bersamaku. Ayo cepat kemari, nanti aku sms alamatnya." ucapnya dengan nada senang. "Tapi, aku..." panggilannya diputus begitu saja. Sms dari Siska datang selang beberapa detik setelah panggilannya terputus.
Aku kini menerjang jalan menuju tempat yang dituju Siska pada pesannya. Aku sangat senang karena akan bertemu dengan Yogi, orang yang aku sukai waktu duduk di SMA. Bagaimana sekarang dia? Apakah dia masih seperti dulu atau mungkin sudah berbeda, pikirku. Tiba-tiba turun hujan deras. Angin kini bersiul. Tatapanku kini terbatas karena kabut dari hujan ini. Tidak sengaja aku hampir menabrak seorang perempuan yang hendak melintas didepan mobil yang ku kekendarai. Aku mulai banting stir, tabrakan pun tidak dapat kuhindari lagi. Pecahan kaca terlempar ke arahku dan memenuhi wajahku. Kakiku terjepit, tanganku luka dan tergores. Darah berceceran dimana-mana. Kurasakan aku diangkat lalu dibawa oleh banyak orang, lalu aku mulai tidak sadarkan diri.
Aku mulai sadar. Tapi apa yang terjadi, gelap tanpa sinar apapun. Apakah sudah malam ataukah aku sudah... "Anakku, kamu sudah sadar, syukurlah," kata seseorang lalu kurasakan pelukan hangat kudapatkan. "Ibu, kaukah itu. Kenapa gelap sekali, apa tidak ada lampu dirumah atau mungkin pemadaman listrik," tanyaku. Hanya tangis yang kudengar. "Ada apa ini, ibu tolong jelaskan," kataku mulai merasa takut. "Kamu kini buta nak," jawab ibuku menangis. "Apa, ibu bercanda, aku tidak buta," kataku sambil tertawa walau merasa takut akan kata-kata ibu tadi. "Kamu mengalami kecalakaan, lalu mata kamu tertusuk pecahan kaca, apa kamu lupa itu?" kata ibu mengingatkanku. Aku diam lalu aku menangis dipelukan ibuku. Saat itu juga ayahku pulang dari luar kota setelah mendengar kejadian yang menimpaku ini.
Ibu dan ayahku kini mencarikan donor mata untukku. Dalam sebulan, aku hanya dapat mengelilingi dan berjalan-jalan dirumahku. Bersama para sahabatku Siska dan Lala serta Yogi yang selalu menemaniku dan sebagai petunjuk jalanku. "Lia, mungkin akulah yang menjadi penyebab hilangnya penglihatanmu, aku minta maaf Lia, aku sangat menyesal menyuruhmu datang waktu itu," ucap Siska dengan nada penyesalan yang saat itu menggandeng tanganku untuk menunjukkan jalan. "Tidak, ini bukan salah siapa-siapa. Tidak ada yang salah akan kejadian ini, jadi jangan pernah merasa bersalah. Kamu kan hanya ingin membuatku senang," kataku. "Senang apaan," kata Yogi yang saat itu tidak sengaja mendengarkan pembicaraanku dengan Siska. "Dasar kamu itu, suka nguping pembicaran orang," kata Siska pada Yogi yang mulai duduk disampingnya. "Aku tidak nguping, kalian saja yang bicaranya terlalu keras jadi semuanya kedengaran," jelas Yogi. "Siapa yang nguping?" tanya Lala mendekati kami. "Ini nih, Yogi. Dari tadi nguping pembicaraan kita?" balas Siska dengan nada bercanda. "Ih, Yogi nguping. Tidak baiklah Gi nguping pembicaraan orang," tambah Lala menasehati Yogi dengan nada seperti guru Kimia waktu di SMA kami dulu. "Iya-iya, aku nguping tadi," kata Yogi dengan terpaksa. "Hahaha, Yogi ngaku dia nguping," tawa Lala. Kami semua tertawa dan mendengar candaan mereka berdua. Walaupun aku buta, tapi aku merasa sangat senang dapat berkumpul lagi dengan sahabat-sahabatku walaupun wajah Yogi belum dapat kulihat.
***
Pagi ini aku dikagetkan dengan teriakan ibu. Teriakan yang sangat keras yang membuat gendang telingaku seakan pecah. Aku mencoba mendatangi ibu dan ayah yang sedang merasa bahagia. Dengan berbekal tongkat, aku mencoba menyentuh benda-benda yang ada didepanku yang dapat menyebabkan aku terjatuh. Ayah dan ibu memelukku bahagia. "Kamu akan dapat donor mata nak?" kata ayah padaku. "Apa? Aku dapat donor mata! Alhamdulillah," kataku sangat senang. Aku akan bisa melihat lagi, melihat dunia yang terang ini. Takkan ada kegelapan lagi. Sahabat-sahabatku merasa senang setelah kukabarkan berita bahagia ini. Lalu aku bersama ayah dan ibu pergi kerumah sakit tempat donor mata itu didapat. Pihak dokter mengatakan akan mengoperasiku dua hari kedepannya.
Hari operasi itu datang juga. Aku jadi merasa sangat gugup menjalani operasi ini. Aku dibawa masuk keruangan operasi. Aku lalu dibius dan tidak sadarkan diri.
Aku tersadar. Semua terlihat putih, bukan lagi gelap. "Ibu, ibu dimana?" panggilku. Kuberjalan dan melangkah jauh. Seorang anak kecil mendekatiku. Anak dengan kulit putih namun pucat dan terlihat manis dengan lesung pipit di kedua pipinya. "Kamu siapa?" tanyaku. Namun dia hanya tersenyum memandangiku. "Ini dimana?" tanyaku kembali. Namun dia masih tersenyum. "Mata kakak indah, sama seperti milikku," katanya padaku. Aku bingung apa maksud yang dikatakannya. "Aku harap mata kakak dijaga seperti mataku," setelah mengatakan itu dia pergi berlari sambil mengulang apa yang diucapkannya padaku tadi. "Ini dimana? Kenapa aku berada disini? Bukankah aku tengah menjalani operasi?" kataku.
Aku mulai tersadar di dunia nyataku. Mataku tertutup kain yang membalut hasil operasi tadi. Syukurlah operasinya berjalan lancar setelah kudengar Ibu menelpon kakakku yang berada di kantor. "Ibu? Ibu dimana?" panggilku. "Ibu disini Lia? Operasinya berjalan lancar nak," ucap ibu merasa senang. "Ayah dimana bu'," tanyaku pada ibu yang saat itu menggenggam tanganku. "Ayah kamu sedang mengurus administrasi pembayaran operasi kamu," jawabnya. "Teman-teman sudah datang bu'," tanyaku lagi. "Iya mereka diluar,".
***
Hari ini adalah hari yang sangat
bersejarah untukku. Hari dimana aku akan melihat segalanya. Dunia, Ibu, Ayah, Kakak, Siska, Lala, Yogi dan banyak lagi yang ingin aku lihat dengan mata baruku ini. Rasa gugup saat dokter membuka perlahan kain yang membalut kedua mataku. Dilepaskanlah kapas yang menempel pada kedua mataku. "Buka dengan perlahan-lahan," kata dokter padaku. Kucoba membuka perlahan-lahan mataku ini. Remang-remang terlihat didepanku. Seorang laki-laki memandangku. "Apa kamu melihatku," katanya. "Iya, aku bisa melihatmu," jawabku ketika mataku menatap ke arahnya. "Sekarang berapa ini," dia nenaikkan dua jarinya. "Dua," jawabku. Semua merasa sangat senang. Aku sudah bisa melihat lagi. Kutatap seseorang disana. Dia memandangiku dengan meneteskan air mata bahagia. "Ibu? Ayah? Kakak? Siska? Lala? Y-yo-Yogi?" panggilku saat kulihat wajah mereka semua. Ibu dan ayah langsung memeluk erat tubuhku. Aku sangat bahagia dan senang. Aku sudah dapat melihat lagi. Aku sudah dapat melihat orang-orang yang menyayangiku lagi. Terimakasih Tuhan. Doaku kini terkabulkan.
Aku sudah dapat kembali kerumah setelah sehari aku bisa melihat dunia sekarang. Ibu dan Ayah yang menjemputku. "Kakak dimana yah?" tanyaku saat berjalan menaiki mobil ayahku. "Dia ada rapat mendadak dan sangat penting, jadi dia menghadirinya. Dia akan pulang setelah rapatnya selesai," kata ayahku membantuku menaiki mobil mewah miliknya. "Iya, kakakmu tadi ingin sekali menjemput kamu Lia, tapi dia menerima telepon dari kantor, katanya rapatnya sangat penting," lanjut ibuku saat mobil itu melakukan tugasnya membawa kami ke tempat tinggal kami. Didalam perjalanan, aku sangat lelah dan terlelap di pangkuan ibuku.
Seorang anak kecil melambaikan tangannya padaku. Kudekati lalu kutanya kenapa dia ada disini. Dia hanya tersenyum lalu berkata, "Kita punya mata yang sama, indah bukan?" ucapnya. "Bukan, ini bukan mataku, ini mata orang lain," kataku. "Tapi sekarang itu milik kakak, mata yang sangat kukagumi, sama seperti milikku," ucapnya lagi. "Saya harap kakak dapat menjaganya dengan baik, mata itu akan memperlihatkan kakak segalanya," ucapnya lalu dia berlalu begitu saja.
"Lia, Lia, bangun nak kita sudah sampai," ucap seseorang membangunkanku dari mimpiku yang tampak nyata itu. "Iya bu',". Aku menghela nafas dalam-dalam. Kutatap pekarangan rumahku yang masih sama seperti dulu. Kulangkahkan kakiku memasuki rumah digandeng ibuku. Barangku kini dibawa ayah dibantu oleh pak Budiman. Mataku masih memandang kedalam rumah. Tatapanku tertuju pada sesuatu disana. Seseorang berdiri nenatapku dan tersenyum padaku.
"Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya sekalipun" tanyaku dalam hati. "Bu, apa ada kerabat kita yang kemari?" tanyaku pada ibu. Dengan wajah heran ibuku menjawab, "Tidak, tidak seorang pun datang kemari,". Aku lalu berfikir kemudian kualihkan pandanganku kearahnya lagi. "Hah, kemana dia?" bisikku. "Ada apa Lia?" tanya ibuku. "Tidak apa-apa bu'," jawabku. "Siapa dia? Apakah tadi nyata? Atau mungkin aku hanya berhalusinasi. Ah, mungkin saja itu halusinasiku saja. Aku tidak perlu memikirkannya," pikirku sejenak sebelum seseorang datang mendekat lalu memelukku dari belakang. "Siska? Kamu kapan datang?" tanyaku saat kulihat dibalik cermin milikku. "Aku baru saja datang. Oh ya, Lala dan Yogi menunggu kita dibawah," balasnya sambil tersenyum bahagia melihatku. Dia membawaku turun untuk bertemu dengan Yogi dan Lala. Entah apa ini, aku melihat mereka tidak duduk berdua tapi dia bersama seorang perempuan lain. Aku tersenyum ketika menghampiri mereka bertiga yang sedang duduk di sofa. "Hai," sapaku. "Kok lama sekali di atas, aku capek menunggu tau', apalagi tidak disediakan makanan atau minuman," kata Lala bercanda. Kulirik ke meja, disana banyak sekali makanan untuk tamu. Tapi Lala memang begitu, yang ada dianggapnya tidak ada, sekalian dia memang suka bercanda. Kutatap wajah perempuan itu. Dia hanya tertunduk. Mungkin tidak mau ditatap olehku jadi dia keluar dari rumahku. Mungkin saja dia malu, pikirku. Kenapa harus malu, dia kan bisa kuanggap sebagai teman juga. "Ada apa dengan temanmu itu?" tanyaku pada mereka bertiga. "Siapa? Lala maksud kamu?" jawab Siska. "Bukan, tapi yang baru saja keluar itu. Yang duduk bersama kalian? Siapa dia?" tanyaku lagi. "Siapa? Kami hanya bertiga kok, mungkin kamu salah lihat. Dari tadi hanya aku dan Lala yang duduk di sofa ini," balas Yogi. "Iya, kami cuma berdua kok yang duduk, memangnya kamu lihat apa tadi? Kok bengong begitu?" tanya Lala saat aku mencoba memikirkan hal tadi. Tidak mungkin aku salah lihat. Jelas-jelas dia duduk dan berdiri saat aku mendekati mereka bertiga disini, disofa ini.
***
Malam tanpa bintang. Aku hanya menatap langit gelap dengan tak percaya apa yang aku lihat tadi siang. Kuarahkan pandanganku ke jalan raya yang sepi itu. Aku mulai ngeri dan takut. Seorang berjalan, tapi dia tidak berkepala. Tubuhku seakan membeku melihat orang itu. Aku hanya memandanginya terus lalu dia hilang dari pandanganku. Aku lemas, tubuhku terasa sangat berat untuk kugerakkan. "Apa itu tadi, apa ini hanya mimpi, aaww, bukan,, ini bukan mimpi," kataku lalu mencubit pipiku. Aku terasa tidak bisa bergerak. Terdengar seseorang menaiki tangga menuju kamarku. Dibukanya lalu dia mendekatiku dan memeluk erat tubuhku. Oh ternyata dia ibu. "Kenapa Lia, kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa jadi begini?" tanya ibuku cemas. Aku hanya terdiam kaku. Bahkan mataku tidak bisa aku kedipkan. Setelah kejadian seperti ini, aku sering melihat makhluk yang tidak ingin aku lihat. Aku tidak pernah sekalipun ingin melihatnya. Tidak akan pernah. Ketika aku melihatnya, maka aku akan histeris dan ketakutan setengah mati. Ibu dan ayah tidak percaya akan kata-kataku setelah kuceritakan semua yang aku alami. Hanya kak Iwan yang paham akan penderitaanku ini. Dia memang pernah melihat makhluk tak kasat mata sekali saat dia masih kelas 3 SD dulu, dan kata-katanya tidak dipercayai oleh siapapun. Jadi kini dia sangat percaya padaku.
Pagi ini, Yoga datang menjengukku karena aku sedang sakit gara-gara makhluk yang sering menampakkan dirinya padaku. "Kamu sudah baikan?" katanya padaku yang terbaring di atas ranjangku. "Aku baik-baik saja kok, tidak perlu khawatir," ucapku. "Kamu kesini sama siapa?" tanyaku padanya. "Oh, aku datang sendiri. Sebenarnya aku janjian dengan Siska, tapi Siska ada urusan mendadak, jadi menyuruhku untuk menjengukmu terlebih dahulu," kata Yogi menatapku. Aku mulai menatap ke arahnya. Tapi bukan dirinya, melainkan seorang ibu-ibu dibelakangnya. Ibu-ibu itu hanya tersenyum padaku. "Ada apa? Kenapa senyum-senyum?" tanya Yoga saat melihatku tersenyum manis ke arahnya. "Tidak, aku tidak apa-apa," balasku. "Apa kamu benar-benar dapat melihat makhluk halus," tanyanya lagi lalu mendekat padaku. "Iya, sekarang ini aku melihat seseorang disana sedang tersenyum padaku, seorang ibi-ibu," bicaraku bersamaan jari telunjukku mengarah ke sosok yang aku maksud. "Dimana? Aku tidak melihatnya?" ucap Yogi penasaran. "Kamu memang tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa. Mungkin aku bisa mendekatinya lalu berkomunikasi dengannya," ucapku lalu beranjak dari tempat tidurku. Aku mencoba untuk tenang dan tidak merasa takut. Yogi ada bersamaku. "Assalamualaikum. Maaf, ibu siapa? Kok bisa ada dikamarku?" tanyaku pada sosok ibu-ibu yang berdiri di belakang Yogi. Aku tidak mendengar apa-apa. Dia tidak mengatakan sesuatu. "Siapa dia, kenapa bisa dia ada kamarku? Apa dia datang bersama Yogi," ucapku dalam hati. Dia hanya menatapku. Kini dia mendekat ke arahku. Aku merasa takut. Lalu aku mundur selangkah menjauhi makhluk ini. Kurasakan dia melewati tubuku, lalu aku tidak sadarkan diri.
Putih. Pandanganku putih. Tidak ada warna selain putih. Aku takut, aku sangat takut. Aku mencoba mencari seseorang. Tapi tidak ada seorang pun. Aku terdiam sambil memeluk lututku. Aku menangis. Tiba-tiba, suara langkah terdengar. Suara langkah kaki. Kuarahkan pandanganku pada pusat suara ini. Kulihat ibu-ibu tadi datang mendekatiku. Wajah cantik dan putihnya terlihat, membuatku merasa kagum kepadanya. "Bangunlah, aku tidak akan menyakitimu?" ucapnya membangunkanku.
"Siapa kamu?" tanyaku padanya. "Aku adalah ibu Yogi,". Aku kaget, takut, aku lalu mundur menjauhinya. "Kenapa kamu bisa menyentuhku. Bukannya kamu sudah...?" bicaraku dipotong olehnya, "Meninggal maksud kamu? Iya aku memang sudah tiada, tapi kamu harus tahu, aku masih belum bisa tenang sebelum janji yang ingin aku tepati pada anakku belum kulunasi, kamu harus membantuku, tolong aku?" katanya memohon. "Baik aku akan menolong ibu, tapi bagaimana caranya?" tanyaku. "Kamu hanya perlu mengatakan pada Yogi dan membuatnya percaya bahwa aku sangat menyayanginya bahkan lebih daripada diriku sendiri. Kamu hanya perlu mengatakan hal itu padanya. Itu adalah janjiku padanya, aku akan sangat bahagia jika dia menerima janjiku ini,". "Baiklah jika itu keinginan ibu?".
Kini pandanganku gelap. Aku mencoba membuka mata, ah, aku masih berdiri di sini, tepat dibelakang Yogi, bukankah aku mundur kebelakang tadi. "Apa yang dia katakan?" tanya Yogi mulai penasaran. Aku kembali duduk di tempat tidurku. Aku menatap kearah makhluk tadi', dia masih ada disana dan tersenyum padaku. "Dia adalah ibumu. Dia ingin mengatakan apa yang tidak bisa lagi ia sampaikan padamu lagi saat ini. Dia berjanji bahwa dia sangat menyayangimu. Bahkan lebih daripada dirinya sendiri. Hanya itu yang ingin dia katakan dan dia akan bisa tenang di alam sana," kataku pada Yogi yang saat itu terlihat sangat sedih, entah air mata itu kapan mengalir dari matanya yang agak sipit. Aku mengusap air mata yang jatuh dari pipi Yogi. "Maafkan aku harus mengatakan ini, tapi ini adalah keinginan ibumu sendiri, dia akan bisa tenang setelah kamu menerima apa yang telah aku katakan tadi,". Yogi hanya tertunduk. Kulihat kesedihan pada raut wajah Yogi. Sosok disana tersenyum bahagia lalu menghilang. Kupeluk Yogi agar dia bisa menerima semua ini, agar dia dapat lebih tenang.
***
"Lia, makan nak!" panggil ibu yang sedang mempersiapkan makan malam. "Iya bu," teriakku. Aku sekarang sudah bisa mengontrol ketakutanku pada makhluk yang biasa aku lihat itu. Beberapa makhluk halus kini menghuni kamarku. Aku sekarang sudah bisa beradaptasi dengan mereka. Tiap pagi pasti ada saja makhluk yang menggangguku. Tapi bukan karena keusilan, tapi dia ingin aku bangun lebih cepat. Dia ingin aku menyiapkan sarapan sebelum ibuku bangun. Dia memang makhluk berwujud seorang ibu-ibu rumah tangga. Ibuku sampai heran kepadaku. Tidak biasanya diriku seperti ini. Bahkan ibuku tidak pernah melihatku memasak apapun. Tapi masakan buatanku sangat berselera di lidahnya. Sangat pas kata ibuku. Bahkan ada yang biasa mengikutiku kemana-mana. Dia makhluk berwujud perempuan seumuranku. Dia mengatakan padaku bahwa dia akan melindungiku dari siapapun yang ingin mencelakaiku. Sehingga aku kini menganggapnya sebagai makhluk pelindungku. Aku bahkan sering berbicara padanya jika dikamar. Itulah mengapa orangtuaku menganggapku gila. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Awalnya dia tidak percaya, tapi setelah kukatakan bahwa mata hasil donor ini adalah mata seorang anak indigo, barulah dia mulai percaya. Aku memang mengusutnya sampai kutahu bahwa memang mata ini adalah mata dari seorang anak indigo perempuan. Anak perempuan yang pernah mengatakan agar menjaga mata ini baik-baik dan aku akan melihat segalanya. Ternyata benar aku kini melihat segalanya. Bahkan ini benar-benar bukan diriku yang dulu yang takut akan makhluk-makhluk halus yang biasa tayang di TV. Bahkan melalui cerita teman sekantor saja mengenai makhluk tak kasat mata membuatku merinding.
Aku kembali bekerja di perusahaan ayahku. Berbagai macam makhluk tak kasat mata berlalu lalang di dalam tempat kerja itu. Tapi, aku harus bersikap biasa. Aku tidak pernah mengganggunya, jadi aku tidak perlu khawatir. Makhluk pelindungku juga berada disampingku. Kulihat dari jauh, ruangan tempat khusus buatku. Kubuka perlahan pintu dan aku mulai duduk di kursi empuk yang kini tak pernah kurasakan lagi. "Kamu bahagia?" kata makhluk pelindungku. "Iya, aku sangat bahagia. Bahkan lebih sangat bahagia," ucapku. Seseorang datang lalu mengetuk pintu ruanganku, "tok... tok... tok...,". "Iya masuk!" ucapku dari dalam. "Pagi bu?" sapanya. Kulihat sorot wajahnya, dia adalah sahabatku Lala. "Pagi juga? Oh ya data perusahaan kamu sudah cek?" tanyaku padanya. "Iya bu', sudah," jawabnya. "Oh ya bu', keadaan ibu sekarang bagaimana? Sudah membaik?" lanjut Lala. Lala dan aku memang sudah sepakat jika didalam area perusahaan, sikap kami harus tetap pada pekerjaan kami. Tidak menyamakan dengan sikap persahabatan kami yang biasa kami lakukan sehari-hari.
Hari-hari kujalani dengan sangat baiknya. Aku kini sudah mulai terbiasa dengan makhluk yang biasa ada dirumahku. Akupun juga merasa terhibur jika melihat sosok makhluk anak-anak bermain-main bahkan berlari-larian didepanku. Bahkan aku sangat senang dengan kemampuanku saat ini. Kemampuanku melihat dunia yang tidak logis bagi kebanyakan orang. Aku awalnya tidak menginginkan ini. Aku cenderung bersikap menyendiri. Tapi aku yakin, inilah takdirku. Aku harus mensyukuri apa yang diberikan Allah SWT. padaku. Semua orang berfikir bahwa orang indigo itu berasal dari lahir. Tapi tidak denganku. Mata ini memberiku penglihatan. Bukan hanya itu, aku diberi penglihatan yang lebih. Aku juga tidak selalu bahagia dengan kemampuan ini. Aku juga sangat merasa tersiksa, tapi ini adalah takdirku. Aku bahkan merasa ini adalah anugerah yang diberikan sang pencipta kepadaku.
***
Tubuhku sangat lelah, bahkan mataku seakan tertutup. Remang-remang penglihatanku mulai kabur. Bayangan sesuatu terbang melayang-layang di atasku. Aku yakin, itu makhluk usil yang ingin menggangguku. Tapi aku tidak memperdulikannya lagi. Mata ini terlalu berat hingga semuanya sudah menjadi gelap.
Anak disana melambaikan tangannya padaku berharap mendatangi dirinya. Langkahku terhenti di depan anak perempuan tersebut. Wajah manis cantik dengan lesung pipit diwajahnya disuguhkan kepadaku. Kubalas dengan senyuman yang manis bagiku. "Kak? Percaya dengan hantu?" tanyanya padaku yang saat itu duduk disebuah kursi panjang disampingnya. "Iya, kakak percaya? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" balasku menatapnya. "Tidak!" ucap dari bibir imutnya. "Kakak pernah melihatnya?" lanjutnya. "Melihat apa?" tanyaku heran. "Melihat hantu?". Aku terdiam sejenak. "Aku bisa melihatnya. Berkat mata ini?". "Apa kakak ingin tidak melihat hantu lagi?". Aku terdiam lagi, lalu kujawab, "Kakak sebenarnya tidak menginginkan hal ini, tapi kakak mulai sudah terbiasa," ucapku. "Jadi kakak menginginkan hal ini," aku hanya mengangguk menandakan iya.
Aku terbangun dari mimpiku. Seorang makhluk duduk disampingku. Aku mulai berteriak histeris. Tidak pernah kulihat makhluk ini sebelumnya. Kak Iwan datang dengan tergopoh-gopoh diikuti ibu dan ayah dibelakangnya. "Ada apa?" kata kak Iwan. "Ada hantu disana, monster?" ucapku sambil menunjukkan arah letak hantu yang kumaksud. "Tidak ada siapa-siapa disana? Coba lihat sendiri," kata ibu mendekatiku lalu memelukku. Aku hanya menangis histeris.
Aku sudah mulai bisa beradaptasi dengan mereka, tetapi kali ini aku sangat takut. Monster iti sangat menakutkan. Tubuhku bergetar hebat. Bahkan aku hanya bisa menangis. Dua hari dua malam aku sering ketakutan. Aku bahkan sering melihat makhluk itu mengeluarkan lidahnya seakan diriku adalah santapan makan malamnya nanti. Kulihat makhluk pelindungku tetap siaga disana sambil tersenyum kepadaku. Makhluk-makhluk dirumahku kini bertambah banyak. Aku seakan dipojokkan oleh ratusan makhluk-makhluk itu. Ada yang bergelantungan, melayang, tertawa dan sejenis kelakuan makhluk halus tersebut.
Maya, seorang paranormal kini dipanggil untuk mengusir makhluk-makhluk yang berada dirumahku. "Aku melihat mereka semua terpancing akan mata anak ini," tunjuk Maya padaku. "Bagaimana cara mengatasi semua ini?" tanya Ibuku. "Akan aku coba mengusir semuanya dari sini" kata Maya meyakinkan kita semua. Dia mulai berkomat-kamit. Entah apa yang diucapkannya. Kulihat satu per satu makhluk itu menghilang. Setelah menyelesaian mantra yang dibacanya, dia lalu memberikan empat buah batu. Maya menyuruh ayahku untuk menguburkannya diempat sudut rumahku. Segera dilakukan ayah. Mataku masih saja bergerilya memandangi makhluk-makhluk yang sedari tadi beterbangan pergi dari rumahku. Ayah kembali setelah melakukan apa yang diperintah Maya. "Pergi kalian semua, jika tidak kalian akan hangus dan lenyap dari dalam rumah ini," gertak maya. Maya mulai berkomat-kamit lagi. Mataku kini tertuju pada sosok yang membuatku ketakutan tadi sore. Aku berteriak kerasnya. Tubuhku terasa kaku. Ada yang ingin keluar dari tubuhku. Aku merasakan makhluk itu menyentuh mataku. Ibu dan ayah mencoba menyadarkanku. Kakak Iwan memegangi kakiku. Yogi datang diikuti Siska dan Lala yang langsung memegangi tubuhku. Kuku tajam itu mulai mencoba mencongkel bola mataku. "Lepaskan!!!" teriakku. Mataku tercongkel keluar. Kurasalan ada air mengalir membasahi pipiku. Darah muncrat kemana-mana. Aku baru sadar, aku yang melakukannya sendiri. Tanganku yang mencongkel kedua mataku. Kini semua gelap. Pandanganku gelap.
"Kak, mungkin kakak tidak bisa melihat mereka lagi?" ucap anak kecil itu lagi. "Kenapa?" tanyaku. "Aku melihat kakak tersiksa akan mata itu. Jadi kakak tidak akan melihat dunia ini lagi,". "Maksud kamu kakak akan jadi buta lagi,". "Tidak, kakak hanya tidak melihat apa yang kakak sebenarnya tidak lihat, aku kembali untuk mengambil penglihatan itu, hidup kakak tidak akan seperti yang kakak alami saat ini. Kakak akan menjalani kehidupan kakak seperti biasanya,".
Aku terbangun. "Apa ini?" kataku saat memegang kain yang membungkus kedua mataku. "Lia, kamu sudah sadar?" Kamu akan bisa melihat lagi nak?" suara seorang wanita yang suaranya sangat kukenal duduk disampingku sambil memegang kedua tanganku. "Ibu, aku kan sudah bisa melihat, kenapa harus pakai penutup mata lagi. Aku kan sudah dioperasi dulu," kataku pada ibu yang tadi berbicara. "Jangan bergurau Lia, ini kan operasi pertama kamu? Kamu lupa kecelakaan waktu kamu ke tempat Siska dulu?" jawab ibu. "Tapi, aku benar-benar sudah menjalani operasi bu. Apa ibu lupa aku kini bisa melihat makhluk halus. Apa ibu lupa dengan ibu Maya, paranormal yang ayah suruh kerumah?" ucapku mengingatkan ibu soal ini. "Ah, kamu ngawur, Ibu Maya, ibu tidak mengenalnya apalagi makhluk halus yang kamu katakan itu,". "Tapi bu...". "Ah, sudah-sudah, dokternya sudah datang,". "Buka pelan-pelan," ucap dokter itu. Kubuka dengan sangat perlahannya. Remang-remang terlihat seorang lelaki berpakaian jas putih memandangiku. "Kamu bisa melihatku? Berapa ini?". "Iya, aku bisa melihatmu, dua.".
Kulihat ibu sangat bahagia dan meneteskan air mata bahagia. Ibu, Ayah, kak Iwan, Siska, Yogi, dan Lala. Aku bisa melihat mereka. Tapi, kejadian itu. Apa itu hanya mimpi. Tapi wajah Yogi sangat mirip dengannya. Apakah mungkin jika aku memiliki mata anak indigo itu, aku akan birakhir tragis seperti yang pernah kulihat itu.
Sebuah perjalan gaib pernah kualami. Aku merasakan aku sudah melakukan perjalanan gaib itu selama dua tahun. Tapi didunia hanya beberapa hari saja. Mungkin ini seperti yang ada dalam kitab suci alqur'an bahwa, dikubur kita melewati 100 hari, tapi dibumi 100 hari itu hanya terjadi dalam sehari. Oh... Inikah yang dinamakan menjelajahi dimensi lain..
Sungguh inikah kehidupanku.
Apa aku mungkin tersesat pada dunia lain.
Aku tidak dapat membedakan duniaku dengan dunia dimensi lain.
Tapi aku sangat bahagia, aku kini berkumpul lagi dengan para sahabat serta keluarga tercintaku.
"Emm, mungkinkah itu masa depan yang diperlihatkan anak kecil itu padaku jika aku memiliki kemampuan melihat," pikirku. Aku termenum memikirkan semua ini diteras rumahku. Kulirik, seorang anak perempuan kecil manis dengan lesung pipit tersenyum manis kearahku. Lalu kubalas senyumnya.
"Itu kan, anak perempuan yang....".
-END-
No comments:
Post a Comment