Friday, May 10, 2019
☑️Belpoin | Menulis Dapat Menghasilkan Karya
“Aduh, kok bisa-bisanya habis sih,” aku menggoncang-goncangkan belpoin yang ada ditanganku. Kucoret kembali pada kertas lain namun tak meninggalkan bekas coretan sedikit pun. Kubuka penutupnya dan ternyata tintanya sudah habis tak tersisa.
Aku membuka tas yang biasa kugunakan sehari-hari ke sekolah, berharap ada pulpen lain terselip dibalik kantongnya walaupun aku pikir itu tidak akan mungkin karena aku hanya menggunakan satu buah belpoin saja. Kutelusuri setiap kantong dengan cara merabanya dan berharap aku memegang benda panjang kecil dengan ujung runcing mengeluarkan cairan hitam.
“Ketemu...” aku menemukan sesuatu yang aku rasa itu adalah belpoin. Kutarik keluar tanganku dan melihat sebuah belpoin cantik dengan pahatan mendetail serta lekukan indah dengan warna gold. Body belpoin itu berpahat naga dengan singa bersayap dan berparuh elang yang sedang bertarung. “Darimana belpoin indah ini berasal?” aku masih bertanya-tanya. Tidak mungkin temanku iseng memasukkan benda miliknya kedalam tasku. Atau ada teman yang memang menyembunyikan belpoin cantik ini namun tak tahu dimana tempat persembunyian yang tepat sehingga memasukannya kedalam tasku. Pikirku panjang. “Akh, mending aku menyelesaikan tugasku dulu.”.
Kucoret pada kertas, warna emas mengalir di kertas. Tampak cantik dan berkilau. Aku menyentuh bekas coretanku. Dan kutatap lalu kuraba. Yap, coretan itu menimbulkan bekas. Bekas yang dapat kita rasakan saat merabanya. Aku terhanyut dengan bekasnya sehingga untuk lebih merasakannya lagi aku menutup mata. Didalam penglihatanku pada saat menutup mata, aku dapat membaca beberapa rangkai kata yang barusaja aku tulis. Aku mengejanya satu per satu.
“E-N-Y-A-H D-A-R-I H-A-D-A-P-A-N-K-U”. Aku terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan. Kubuka mataku dan melihat darah memenuhi tanganku. Kertas itu penuh dengan darah merah segar. Disana tertulis “DIE”.
Aku mati rasa. Tubuhku melemah. Nafasku tercekat. Jantungku seakan tidak berdetak lagi. Wajahku mulai memerah. Urat-urat pada mataku terlihat. Aku tak bisa bernafas. Dua orang bersayap datang menjemputku. Dia tersenyum lalu membawaku terbang.
***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Ads
loading...
No comments:
Post a Comment