MAKALAH
MATA
KULIAH : AGROINDUSTRI TANAMAN PANGAN
DAN HORTIKULTURA
DOSEN : ZULFITRIANY DWIYANTI
MUSTAKA, S
OLEH:
KELOMPOK
1
PROGRAM STUDI DIV-AGROINDUSTRI
JURUSAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL
PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP
2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah mengenai produk olahan tanaman padi. Kami sangat berharap makalah
ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita tentang
cara pembuatan produk olahan dari tanaman padi.
Kami
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang diharapkan. Untuk itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi diri kami sendiri maupun
orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun
demi perbaikan di masa depan.
Wassalam….
Mandalle, 04 Februari 2017
Penulis
DAFTAR
ISI
SAMPUL........................................................................................................................... i
DAFTAR
ISI.................................................................................................................... ii
KATA
PENNGANTAR.................................................................................................. iii
BAB
I PENDAHULUAN................................................................................................ 1
A. LATAR
BELAKANG........................................................................ 1
B. RUMUSAN
MASALAH..................................................................
4
BAB
II PEMBAHASAN................................................................................................. 5
A. SINGKONG....................................................................................... 5
B. TEPUNG
MOCAF............................................................................. 8
C. PROSES
PEMBUATAN TEPUNG MOCAF................................... 8
D. ANALISIS
FERMENTASI MOCAF...............................................
9
BAB
III PENUTUP.......................................................................................................
20
A. KESIMPULAN...............................................................................
20
B. SARAN............................................................................................
20
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................................
21
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Ketika Indonesia
telah dapat mandiri dan tidak terikat dengan negara lain dalam menentukan
kebijakan panganya guna menjamin hak atas pangan bagi rakyatnya dengan sumber
daya lokal, maka pada saat itu telah tercapailah kedaulatan pangan yang
sesungguhnya.
Kebijakan
pemerintah terhadap pangan menjadi topik yang menarik dan seakan tidak pernah
selesai untuk dibahas. Mulai dari masalah ketersediaan pangan dalam memenuhi
kebutuhan setiap individu, produksi pangan dalam negeri, kenaikan harga pangan,
kualitas pangan, serta tentunya impor pangan. Semua permasalahan tersebut perlu
ditangani secara serius karena manyangkut hal krusial dalam pemenuhan kebutuhan
pokok manusia yang pertama yaitu kebutuhan pangan.
Impor pangan menjadi salah satu ironi di negara ini yang dikatakn
memiliki lahan luas dan subur. Berdasarkan El Hida (2013), bahan pangan yang
diimpor oleh negara sepanjang tahun 2012 seperti beras mencapai 1,8 juta
ton senilai US$ 945,6 juta, jagung mencapai 1,7 juta ton (US$ 501,9 juta),
kedelai 1,9 juta ton (US$ 1,2 miliar), gula pasir mencapai 91,1
ribu ton (US$ 62 juta), garam sebanyak 2,2 juta ton (US$ 108 juta), gandum 6,3
juta ton (US$ 2,3 miliar), dan terigu 479,7 ribu ton (US$ 188,8 juta).
Menurut Tambunan (2008), ada 3 alasan harus melakukan impor, pertama karena
produksi dalam negeri terbatas sedangkan kebutuhan domestik tinggi, kedua impor
lebih murah dibandingkan dengan harga dalam negeri, ketiga dilihat dari sisi
neraca perdagangan (atau neraca pembayaran), impor lebih menguntungkan karena
produksi dalam negeri bisa untuk ekspor dengan asumsi harga ekspor di pasar
luar negeri lebih tinggi daripada harga impor yang harus dibayar.
Gandum atau lebih sering dijumpai dalam bentuk tepung terigu merupakan
bahan pangan nabati sumber karbohidrat. Tanaman gandum merupakan tanaman yang
tumbuh di negara subtropis sehingga Indonesia yang merupakan negara tropis
terpaksa harus mengimpor setiap tahunnya untuk memenuhi permintaan tepung
terigu. Impor gandum oleh Indonesia telah dilakukan pada masa orde baru yang
pada awalnya bertujuan untuk diversifikasi pangan selain konsumsi terhadap
beras yang merupakan bahan pangan sumber karbohidrat utama bagi Indonesia.
Menurut Syafputri (2012) impor gandum oleh Indonesia mendapatkan bantuan dari
Amerika dengan nama kerjasama PL 480 pada tahun 1969. Latar belakang kerjasama
ini terutama masalah gandum adalah untuk menanggulangi harga beras yang tinggi
pada waktu itu sehingga pemerintah lebih memilih mengimpor gandum dibandingkan
dengan mengimpor beras.
Tepung terigu menjadi sangat istimewa karena dapat diolah menjadi roti
yang empuk mengembang, atau mie yang kenyal dan lembut, atau gorengan yang
renyah dan gurih sehingga sangat digemari oleh masyarakat. Keistimewaan
tersebut disebabkan oleh adanya protein glutenin dan gliadin
yang apabila dicampur dengan air akan membentuk gluten. Gluten
inilah yang akan membentuk kerangka pada produk akhir. (Khan dan Nygard, 2006).
Protein glutenin dan gliadin merupakan protein yang spesifik
pada gandum, sehingga tidak ada jenis biji-bijian lain yang memiliki
keistimewaan ini.
Terigu ketika dilakukan pengulenan dengan air maka glutenin dan gliadin
akan saling berikatan sehingga membentuk gluten yang menjadikan adonan elastis
dan kokoh. Adonan yang bersifat elastis dan kokoh inilah yang dapat
memperangkap CO2 hasil fermentasi gula oleh yeast sehingga adonan
dapat mengembang. Semakin mengembang dengan baik maka roti atau bread
yang dihasilkan akan semakin empuk dan enak.
Prinsip
dasar pembuatan tepung MOCAF adalah dengan prinsip memodifikasi sel ubi kayu
secara fermentasi. Mikroba yang tumbuh akan menghasilkan enzim pektinolitik dan
sellulolitik yang dapat menghancurkan dinding sel ubikayu sedemikian rupa
sehingga terjadi liberasi granula pati. Proses liberalisasi ini akan
menyebabkan perubahan karakteristik dari tepung yang dihasilkan berupa naiknya
viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan kemudahan melarut.
Selanjutnya granula pati tersebut akan mengalami hidrolisis yang menghasilkan
monosakarida sebagai bahan baku untuk menghasilkan asam-asam organik. Senyawa
asam ini akan terimbibisi dalam bahan, dan ketika bahan tersebut diolah akan
dapat menghasilkan aroma dan cita rasa khas yang dapat menutupi aroma dan
citarasa ubi kayu yang cenderung tidak menyenangkan konsumen.
Untuk food ingredient misalnya, seperti substitusi terigu sebesar 5% pada
mie instant yang menghasilkan produk dengan mutu rendah, atau pada kue kering.
Namun aplikasi tepung MOCAF dengan karakteristik yang dijelaskan diatas,
ternyata mampu menghasilkan produk makanan yang sangat menggembirakan. Hasilnya
ujicoba menunjukkan MOCAF dapat digunakan sebagai food ingredient dengan
penggunaan yang sangat luas. MOCAF ternyata tidak hanya bisa dipakai sebagai
bahan pelengkap, namun dapat langsung digunakan sebagai bahan baku dari
berbagai jenis makanan, mulai dari mie, bakery, cookies hingga makanan semi
basah. Dengan sedikit perubahan dalam formula, atau prosesnya, karena produk
ini tidak-lah sama persis karakteristiknya dengan tepung terigu, beras atau
yang lainnya, dapat dihasilkan produk yang bermutu optimal.
Hanya saja, MOCAF memerlukan mentega atau margarin sedikit lebih banyak
dibandingkan tepung terigu untuk mendapatkan tekstur yang baik. Untuk cita
rasanya, hasil uji organoleptik dengan resep standar menunjukkan bahwa panelis
tidak mengetahui bahwa kue-kue tersebut dibuat dari MOCAF yang berasal dari ubi
kayu. Untuk kue basah, telah diujicoba aplikasi MOCAF pada
kue lapis tradisional yang umumnya berbahan baku tepung beras, atau tepung
terigu dengan ditambah tapioka. Hasilnya menunjukkan bahwa MOCAF dapat
menggantikan tepung beras maupun tepung terigu 100%. Kue lapis yang dihasilkan
bertekstur lembut dan tidak keras. Hasil ini menunjukkan bahwa MOCAF dapat pula
menggantikan tepung beras yang saat ini kian mahal. Disamping itu, telah juga
dilakukan uji coba substitusi tepung terigu dengan MOCAF dengan skala pabrik.
Hasilnya menunjukkan bahwa hingga 15% MOCAF dapat mensubstitusi terigu pada mie
dengan mutu baik, dan hingga 25% untuk mie berkelas rendah, baik dari mutu
fisik maupun organoleptik. Secara teknispun, proses pembuatan mie tidak
mengalami kendala yang berarti jika MOCAF digunakan untuk mensubstitusi terigu.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa yang dimaksud tepung mocaf ?
2.
Kandunganyang terdapat dalam tepung
mocaf ?
3.
Bagaimana proses pembuatan tepung mocaf
?
BAB II
PEMBAHASAN
A. SINGKONG
Singkong
dengan nama latin Manihot esculenta merupakan umbi atau akar pohon yang
panjang fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung
dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau
kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan disimpan meskipun di tempatkan di
lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap
akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia.
Umbi
singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein.
Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun karena mengandung asam
amino metionin.
Tanaman
singkong sangat mudah tumbuh. Tanaman singkong ini banyak ditanam di
pekarangan, tanggul, ataupun sawah. Perbanyakan tanaman singkong ini dapat
dilakukan dengan stek dari batang singkong tua.
a) Sejarah singkong dan penyebarannya
Manihot esculenta pertama kali dikenal di Amerika Selatan kemudian dikembangkan pada
masa prasejarah di Brasil dan Paraguay, sejak kurang lebih 10 ribu tahun
yang lalu. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat
ditemukan bertumbuh liar di Brasil selatan. Meskipun spesies Manihot
yang liar ada banyak, semua kultivar M. esculenta dapat dibudidayakan.
Walaupun demikian, bukti-bukti arkeologis budidaya singkong justru banyak
ditemukan di kebudayaan Indian Maya, tepatnya di Meksiko dan El Salvador.
Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 192 juta ton pada tahun 2004.
Nigeria menempati urutan pertama dgn 52,4
juta ton, disusul Brasil dgn 25,4 juta ton. Indonesia menempati posisi ketiga dgn 24,1
juta ton, diikuti Thailand dgn 21,9 juta
ton (FAO, 2004[1]) Sebagian besar produksi
dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.Singkong ditanam secara
komersial di wilayah Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada sekitar tahun 1810[2], setelah sebelumnya diperkenalkan
orang Portugis pada abad ke-16 dari Brasil. Menurut Haryono Rinardi dalam
Politik Singkong Zaman Kolonial, singkong masuk ke Indonesia dibawa oleh
Portugis ke Maluku sekitar abad ke-16. Tanaman ini
dapat dipanen sesuai kebutuhan. “Sifat itulah yang menyebabkan tanaman ubi kayu
seringkali disebut sebagai gudang persediaan di bawah tanah,” tulis Haryono.
Butuh waktu lama singkong menyebar ke daerah lain, terutama ke Pulau Jawa. Diperkirakan singkong kali
pertama diperkenalkan di suatu kabupaten di Jawa Timur pada 1852.
“Bupatinya sebagai seorang pegawai negeri harus memberikan contoh dan bertindak
sebagai pelopor. Kalau tidak, rakyat tidak akan mempercayainya sama sekali,”
tulis Pieter Creutzberg dan J.T.M. van Laanen dalam Sejarah Statistik Ekonomi
Indonesia.
Namun hingga 1876, sebagaimana dicatat H.J. van Swieten,
kontrolir di Trenggalek, dalam
buku De Zoete Cassave (Jatropha janipha) yang terbit 1875,
singkong kurang dikenal atau tidak ada sama sekali di beberapa bagian Pulau
Jawa, tetapi ditanam besar-besaran di bagian lain. “Bagaimanapun juga, singkong
saat ini mempunyai arti yang lebih besar dalam susunan makanan penduduk
dibandingkan dengan setengah abad yang lalu,” tulisnya, sebagaimana dikutip
Creutzberg dan van Laanen. Sampai sekitar tahun 1875, konsumsi singkong di Jawa
masih rendah. Baru pada permulaan abad ke-20, konsumsinya meningkat pesat.
Pembudidayaannya juga meluas. Terlebih rakyat diminta memperluas tanaman
singkong mereka.Peningkatan penanaman singkong sejalan dengan pertumbuhan
penduduk Pulau Jawa yang pesat. Ditambah lagi produksi padi tertinggal di
belakang pertumbuhan penduduk. “Singkong khususnya menjadi sumber pangan
tambahan yang disukai,” tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto
dalam Sejarah Nasional Indonesia V. Hingga saat ini, singkong telah menjadi
salah satu bahan pangan yang utama, tidak saja di Indonesia tetapi juga di
dunia. Di Indonesia, singkong merupakan makanan pokok ketiga setelah padi-padian dan jagung.Pabrik Tapioka Kedung Kawung Cikalahang milik
firma Goan Goan & Co, Cirebon, Jawa Barat (tahun tidak diketahui)
b) Jenis tumbuhan singkong
Klasifikasi
tumbuhan singkong adalah sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae atau tumbuh-tumbuhan
Divisi
: Spermatophyta atau tumbuhan berbiji
Kelas
: Dicotyledoneae atau biji berkeping dua
Ordo
: Euphorbiales
Famili
:
Euphorbiaceae
Genus
: Manihot
Spesies
: Manihot Esculenta, Manihot utilissima
Pengertian MocafMOCAF adalah produk tepung dari ubi kayu (manihod esculenta crantz) yang di proses
menggunakan prinsip memodifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Microba yang
tumbuh menyebabkan organik, terutama asam laktat yang akan terimbibisi dalam
bahan, dan ketika bahan tersebut di olah akan dapat menghasilkan aroma dan
citra rasa khas yang dapat menutupi aroma dan citra rasa ubi kayu yang cenderung
tidak menyenangkan konsumen. Selama proses fermentasi terjadi pula
penghilangan komponen penimbul warna dan protein yang dapat menyebabkan warna
coklat ketika pengeringan.
C. PROSES PEMBUATAN TEPUNG MOCAF
Sebenarnya ada banyak cara untuk membuat
tepung mocaf atau tepung singkong, dari yang melibatkan enzim sampai cara
sederhana yang menggunakan teknik mekanis. Karena kita hanya membuat untuk
skala kecil saja, kita akan menggunakan cara yang kedua, selain mudah juga
murah.
Berikut cara-cara membuat tepung mocaf dengan mudah.
Berikut cara-cara membuat tepung mocaf dengan mudah.
- Kupas singkong dari kulitnya.
- Bersihkan singkong menggunakan air bersih dan
pastikan lendir yang berada diantara kulit dan daging umbi juga bersih.
Pembersihan bisa dilakukan dengan cara menyikat permukaan umbi singkong.
- Potong-potong singkong setipis mungkin, ini
dimaksudkan untuk mempercepat proses pengeringan nantinya.
- Rendam singkong dalam air bersih selama minimal
2 hari 2 malam, proses ini akan menghasilkan endapan tepung tapioka.
Pisahkan tepung dan keringkan untuk keperluan berikutnya.
- Selama proses perendaman, air harus diganti
maksimal 24 jam sekali atau lebih bagus 12 jam sekali, jika tidak hasil
tepung akan menyisakan bau seperti bau singkong yang busuk terendam.
- Angkat singkong dari rendaman dan jemur hingga
benar-benar kering dengan kadar air kurang lebih 10%, cirinya singkong
mulai lapuk/rapuh.
- Saatnya proses penggilingan, jika tidak ada
alat giling kita juga bisa menumbuknya menggunakan lumpang hanya saja
prosesnya lebih lama.
- Ayak singkong hasil tumbukan dengan ayakan
tepung, alat ini banyak dijual di toko tempat penjualan perkakas rumah
tangga. Sisa ayakan dapat ditumbuk kembali sampai benar-benar halus.
- Satukan tepung hasil ayakan dengan tepung
tapioka yang diperoleh dari hasil perendaman dan jemur kembali sampai
benar-benar kering.
- Tepung MOCAF sudah siap digunakan, jika tidak
digunakan secara langsung simpan pada wadah/plastik yang tertutup rapat.
D.
ANALISIS BERBAGAI
MACAM STARTER PADA FERMENTASI MOCAF
Tepung kasava termodifikasi adalah produk tepung dari
ubikayu yang diproses menggunakan prinsip memodifikasi sel ubikayu secara
fermentasi. Mikrobia yang tumbuh menyebabkan perubahan karakteristik dari
tepung yang dihasilkan berupa naiknya viskositas, kemampuan gelatinisasi, daya
rehidrasi dan kemudahan melarut. Mikroba juga menghasilkan asam-asam organik,
terutama asam laktat yang akan terimbibisi dalam bahan, dan ketika bahan
tersebut diolah akan dapat menghasilkan aroma dan cita rasa khas yang dapat
menutupi aroma dan cita rasa ubikayu yang cenderung tidak menyenangkan
konsumen. Selama proses fermentasi terjadi kenghilangan komponen penimbul
warna, dan protein yang dapat menyebabkan warna coklat ketika pengeringan.
Dampaknya adalah warna tepung yang dihasilkan lebih putih jika dibandingkan
dengan warna tepung ubi kayu biasa.

Ø
Pengaruhnya Terhadap Kualitas Mutu
Organoleptik Mocaf yang dihasilkan
Perbaikan kualitas tepung juga dipengaruhi reaksi
biokimia selama perendaman/ fermentasi dengan isolat bakteri asam laktat (BAL).
Dalam hal ini enzim ekstraseluler yang dikeluarkan oleh bakteri asam
laktat selama proses perendaman mampu memperbaiki tekstur tepung. Pati
dalam medium dapat dihidrolisis oleh bakteri asam laktat dengan cara
mengekskresikan enzim ekstraseluler pemecah pati dan menghasilkan gula
sederhana seperti disakarida atau dekstrin yang dapat dimanfaatkan untuk proses
metabolisme (Anonim, 1989). Asam laktat mampunyai aroma khas yang dapat menutup
aroma khas ubikayu dan asam sianida.Teknologi Fermentasi tersebut sangat
membantu dalam industri makanan terutama dipihak petani sebagai
sumber bahan baku yang sangat melimpah dan murah, oleh karena itu untuk
mendongkrak daya saing dan meningkatkan bargaining posisi tawar petani ubi kayu
perlu adanya trasnper teknologi tersebut kepada petani.Yang menjadi
permasalahan ditingkat petani adalah ketersediaan stater BAL masih tergantung
dari beberapa industri tertentu dan keberadaan stater tersebut sudah dipatenkan
oleh orang lain. Untuk itu pengkaji merasa terpanggil untuk mengkaji
stater tersebut dapat dimodifikasi dengan stater lain atau modifikasi
hasil / produk yang dihasilkan (MOCAF), karena pengkaji mempunyai asumsi bahwa
BAL masih hidup didalam produk yang dihasilkan walaupun produk sudah
dikeringkan, karena bakteri asam laktat tersebut dapat hidup pada temperatur 40
derajat celcius.
Disamping itu ditemukannya juga fermentasi dengan
stater yang lain misalnya dengan menggunakan ragi tape. Maka dari itu pengkaji
merasa terpanggil untuk mengkaji sejauh mana efektifitas stater tersebut
terhadap produk yang dihasilkan baik dari segi flavor, warna, rasa, daya
gelatinisasi pada produk makan yang dihasilkan.
Ø
Kerangka Teoritik
1.
Fermentasi Sebagai Cara
Perbaikan Mutu Tepung Kasava
Fermentasi ialah proses baik secara
aerob maupun anaerob yang menghasilkan berbagai produk yang
melibatkan aktifitas mikroba atau ekstraknya dengan aktivitas mikroba
terkontrol (Darwis dan Sukara, 1989). Fermentasi merupakan proses
yang telah lama dikenal manusia. Fermentasi adalah proses untuk
mengubah suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat bagi
manusia, seperti fermentasi susu kambing, unta yang terjadi di
Sumaria dan Babilonia pada jaman Mesopotamia. Hingga saat ini
proses ferementasi telah mengalami perbaikan-perbaikan dari segi
prosesnya sehingga dihasilkan produk fermentasi yang lebih baik (Tamime
dan Robinson, 1999)Pemanfaatan mikroba sebagai agen bioteknologi makin
meningkat, karena beberapa hal antara lain: 1) Perbanyakannya mudah dan dapat
dikendalikan, 2) Substrat pertumbuhan relatif murah, bahkan dapat menggunakan
limbah pertanian, 3) Dapat menghasilkan enzim yang cukup banyak sehingga
potensial dikembangkan untuk skala industri (Bachrudin, et. al. 2000).
Bakteri digolongkan menjadi dua, yaitu bakteri yang menguntungkan dan
bakteri yang merugikan. Bakteri asam laktat (BAL) merupakan bakteri
yang menguntungkan. Pemanfaatan mikroba dalam proses fermentasi telah
dikenal turun temurun dari sejak ribuan tahun yang lalu (Spicher, 1983 dalam
Sardjoko, 1991). Teknologi fermentasi merupakan salah satu cara pengolahan dan
pengawetan makanan, baik secara konvensional maupun modern, dengan memanfaatkan
mikroba baik langsung maupun tidak langsung. Dalam proses fermentasi,
mikroba maupun yang enzim dihasilkan, dapat menstimulir flavor yang spesifik,
meningkatkan nilai cerna bahan pangan, menurunkan kandungan antigizi atau bahan
lain yang tidak dikehendaki, dan dapat menghasilkan produk atau senyawa turunan
yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (Neech, et. al. 1985).
Mikroba tersebar luas di alam, sehingga proses
fermentasi dapat terjadi secara alami. Namun, fermentasi alami mempunyai
beberapa kelemahan antara lain prosesnya tidak terkendali sehingga mutu produk
yang dihasilkan tidak konstan. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan
ragi atau starter yang sesuai dengan bahan dan produk akhir yang diinginkan.
Tempe merupakan salah satu produk fermentasi asli Indonesia yang telah
banyak dikembangkan baik oleh peneliti dalam maupun luar negeri, sehingga
dari proses fermentasi alami telah dikembangkan sampai proses modern untuk
menghasilkan produk generasi lanjutannya, (Fardiaz dan Yasni, 1998).
Sosis dikenal sebagai produk fermentasi dari Eropa, padahal produk
sejenis sosis, yaitu urutan merupakan produk fermentasi daging tradisional asal
Bali. Perbaikan mutu dengan pengendalian proses pengembangan starter
serta modifikasi bahan baku untuk memperluas jangkauan konsumen dan pasar telah
diteliti antara lain oleh Hermanianto, et.al., (1999).
Kondisi optimal pertumbuhan bakteri asam laktat adalah
pada suhu 30 - 37oC, pH 3,0 – 8,0 , sumber gula media pertumbuhan glukosa dan
fruktosa. Bakteri asam laktat memiliki tingkat efisiensi penggunaan substrat
tergantung pada tipe fermentasinya. Bakteri asam laktat homofermentatif
mampu mengubah 95% glukosa substrat menjadi asam laktat, CO2 dan
senyawa volatil. Bakteri asam laktat heterofermentatif dapat menggunakan 90%
gula yang ada dalam substrat (Rahayu, 1992).
2.
Tepung Kasava Termodifikasi Secara
Biologi (BIMO-CF)
Proses pembuatan tepung kasava sangat sederhana,
dan telah dikenal oleh masyarakat luas. Proses pembuatan tepung kasava meliputi
tahapan sebagai berikut : kasava dikupas, dicuci, disawut, dikeringkan,
ditepungkan, diayak dan dikemas. Tepung yang dihasilkan dari proses ini tidak
mengalami perubahan-perubahan yang mendasar, dari aspek warna, aroma kasava
masih sangat kuat, tekstur dan lain-lain. Pembuatan tepung kasava
termodifikasi secara biologi bertujuan memperbaiki sifat
fisikokimia tepung secara biologi atau secara fermentasi. Proses
pembuatan tepung termodifikasi meliputi tahap-tahap sebagai berkut:
kasava dikupas, dicuci, disawut, difermentasi dengan menggunakan starter
atau bibit Starter BIMO-CF, ditiriskan/dipres, dikeringkan, ditepungkan, diayak
dan dikemas. Proses fermentasi dilakukan dengan cara merendam
kasava sawut dalam air perendaman yang telah ditaburi bibit Starter
BIMO-CF. Cara penggunaan Starter BIMO-CF sangat sederhana, Starter BIMO-CF
sebanyak 1 kg langsung ditaburkan dalam 1 m3 air , selanjutnya diaduk agar
terdispersi/terlarut sempurna. Dosis starter BIMO-CF adalah 1kg starter untuk 1
m3 air. Satu kubik air dapat digunakan untuk merendam 1 ton kasava sawut.
Dalam perendaman yang perlu diperhatikan adalah kasava sawut
terendam sempurna. Lama fermentasi adalah 12 jam. Setelah fermentasi
selesai air untuk merendam bisa diatuskan, kasava sawut terfermentasi
ditiris/dipres lalu dikeringkan. Setelah kering kasava sawut
kemudian ditepungkan dan
dikemas.
dikemas.
Tepung kasava termodifikasi telah mengalami
perbaikan mutu selama poses fermentasi. Berbagai parameter nilai mutu
tepung kasava mengalami perbaikan diantaranya warna menjadi semakin
putih, aroma kasava berkurang secara signifikan, tekstur lebih halus,
elastisitas meningkat, lebih mengembang saat digunakan sebagai bahan
untuk pembuatan produk olahan kue, rasa pahit berkurang secara
signifikan dan lain-lain. Sifat sifat diatas juga erat dengan nilai hasil
analisis proksimat dari tepung kasava yang dipaparkan pada Tabel 1 dibawah ini:

Gambar 2. Bagan alir reaksi pembentukan asam laktat (Madigan
et al., 1997)
Proses ferementasi menggunakan Starter BIMO-CF
dilakukan selama 12 jam, proses fermentasi optimal apabila telah
mencapai pH 4. Penurunan nilai pH dari nilai 7 hingga 4 disebabkan oleh
aktifitas dari mikroba dalam starter BIMO-CF dalam aktifitas
fermentasi menghasilkan asam laktat, asam organik lain, enzim-enzim,
senyawa volatile yang terdispersi kedalam air dan akan mempengaruhi struktur
kasava, serta sifat fisiko kimia serta aroma kasava setelah fermentasi.
Proses pembentukan asam laktat dipaparkan pada Gambar 1.Perubahan sifat fisik,
semakin lama direndam akan menurunkan derajat putih tepung Sedangkan sifat
amilografi tepung kasava termodifikasi menghasilkan viskositas puncak/ tingkat
kekentalan (1130 BU) lebih tinggi dibanding tepung kasava non fermentasi
(700 BU) dan tepung terigu (130 BU) yang berarti produk olahan yang dihasilkan
lebih mengembang menggunakan tepung kasava termodifikasi dibanding tepung
kasava non fermentasi. Demikian juga viskositas balik sebaliknya pada
tepung kasava non fermentasi (220 BU) lebih tinggi dibanding pada tepung kasava
termodifikasi (80 BU) dan tepung terigu (90 BU) yang berarti produk
olahan yang dihasilkan lebih lunak dibanding tepung terigu dan tepung kasava
non fermentasi. Rendemen tepung kasava termodifikasi (29,93%) hampir sama
dengan rendemen yang dihasilkan tepung kasava
non fermentasi sebesar 28,01%.
non fermentasi sebesar 28,01%.
Keterangan :
- Kontrol fermentasi menggunakan stater BIMO- CF
- Perlakuan fermentasi menggunakan stater MOCAF
- Perlakuan fermentasi menggunakan Ragi
tape
- Perlakuan fermentasi tanpa menggunakan stater
hanya perendaman saja (fermentasi secara alami selama 12 jam
- Perlakuan fermentasi tanpa menggunakan stater
hanya perendaman saja (fermentasi secara alami selama 24 jam dan setiap 12
jam diganti airnya
Ø
Ruang Lingkup Pengkajian
Ruang lingkup pengkajian dibidang teknik
fermentasi MOCAF dari berbagai macam stater diantaranya : sebagi kontral
menggunakan BIMO-CF, MOCAF, Ragi tape, dan tidak menggunakan stater sama
sekali/ fermentasi secara alami dengan perendaman 12 jam dan 24 jam. Dari
berbagai stater tersebut dapat dihasilkan MOCAF sebagai patokan yaitu kontrol
yang menggunakan stater yang sudah dipatenkan.
Ø
Populasi Sample dan Besaran Sample
Sample yang digunakan menggunakan hasil proses
produksi MOCAF sebanyak dari 4 perlakuan dan 3 ulangan dari masing
– masing perlakuan sehingga jumlah sample yang diamati sebanyak 5x4 = 20
Adapun bahan yang digunakan sebagai bahan produksi
diperoleh dari bahan lokal sekitar balai degan vareitas ubi kayu UJ5 dan Stater
BIMO-CF serta MOCAF yang dipergunakan diperoleh dari Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pasca Panen Bogor.
Ø
Instrumen Kajiwidya
Instumen yang digunakan menggunakan
indikator keberhasilan dengan rincian sebagai berikut :
Catatan : **
- untuk flafor / aroma semakin tidak berbau
casava semakin baik
- Daya Gelatinisasi / daya pengembangan pada
produk makanan: sample yang digunakan hasil dari produk yang dihasilkan
dalam bentuk makanan
(yang digunakan Bronis Mocaf)
Ø
Prosedur Pengumpulan Data
Data diambil dari responden /panelis secara sensoris 6
panelis untuk Flafor/bau,warna . Dan daya gelatinisisasi/mengembang
diamati performen, daya mengembang dan kekompakan produk makanan yang
dihasilkan.
Ø
Hasil Pengkajian
Dari hasil pengkajian dan analisis statistik data
menunjukkan pada dasarnya penggunaan stater selain stater BIMO-CF (Tepung
Mocaf, Ragi tape) bahkan tanpa stater (Fermentasi alami baik 12 jam dan 24 jam)
dapat digunakan, dari segi kwalitas aroma/ flavor, warna dan daya gelatinisasi
tepung mocaf yang dihasilkan. Efektifitas Fermentasi dari berbagai stater
tersebut dapat dirangking sebagai berikut :
- Rangking I fermentasi dengan menggunakan ragi
tape
- Rangking II Fermentasi dengan menggunakan
Stater BIMO-CF
- Rangking III Fermentasi dengan menggunakan
Tepung mocaf
- Rangking IV. Fermentasi Almami tanpa mengunakan
stater selama 24 Jam
- Rangking V Fermentasi Alamai tanpa menggunakan
Stater selama 12 jam
Ø Kadar gizi
Kandungan
gizi singkong per 100 gram meliputi:[3]
- Kalori 121 kal
- Air 62,50 gram
- Fosfor 40,00 gram
- Karbohidrat
34,00 gram
- Kalsium
33,00 miligram
- Vitamin C
30,00 miligram
- Protein
1,20 gram
- Besi 0,70 miligram
- Lemak 0,30 gram
- Vitamin B1
0,01 miligram
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. MOCAF adalah produk
tepung dari ubi kayu (manihod esculenta
crantz) yang di proses menggunakan prinsip memodifikasi sel ubi kayu secara
fermentasi.
2. Tepung Mocaf
mengandung kadar air 6,9%, kadarprotein 1,2%, kadar abu 0,4%, kadar pati 87,3%,
kadar serat 3,4%, dan kadar lemak 0,4%.
3. Proses
pembuatan tepung kasava meliputi tahapan sebagai berikut : kasava
dikupas, dicuci, disawut, dikeringkan, ditepungkan, diayak dan dikemas.
Sedangkan proses pembuatan tepung termodifikasi meliputi
tahap-tahap sebagai berkut: kasava dikupas, dicuci, disawut, difermentasi
dengan menggunakan starter atau bibit Starter BIMO-CF, ditiriskan/dipres,
dikeringkan, ditepungkan, diayak dan dikemas.
DAFTAR
PUSTAKA
Salim,
Emil. 2011. “Mengolah Singkong Menjadi
Tepung Mocaf Bisnis Produk Alternatif Pengganti Tepung”. Yogyakarta: ANDI
Wikipedia, Ketela
Pohon, [online], (https://id.wikipedia.org/wiki/Ketela_pohon, diakses pada tanggal 03 Februari 2017)
BBPP KETINDAN, 2015, Analisis Berbagai Macam
Starter pada Fermentasi MOCAF, [online], (http://bbppketindan.bppsdmp.pertanian.go.id/blog/analisis-berbagai-macam-starter-pada-fermentasi-mocaf, diakses pada tanggal 03 Februari 2017)
Anonim, 2013, Tepung
Mocaf Pengganti Tepung Terigu, [online], (http://brigitamirs.blogspot.co.id/2013/04/tepung-mocaf-pengganti-tepung-terigu.html, diakses pada tanggal 03 Februari 2017)
Anonim, 2015, Cara
Membuat Tepung Mocaf Bahan Baku Untuk Kue, [online], (http://qudapan.blogspot.co.id/2015/05/cara-membuat-tepung-mocaf-bahan-baku-alternatif-untuk-kue.html, diakses pada tanggal 03 Februari 2017)
Anonim, 2011, Makalah
Singkong, [online], (http://junot-unot.blogspot.co.id/2011/08/makalah-singkong.html, diakses pada tanggal 03 Februari 2017)
Anonim, 2012, Latar Belakang Pembuatan Tepung
Mocaf, [online], (https://mocafindopratama.wordpress.com/2012/10/26/latar-belakang-pembuatan-tepung-mocaf/, diaksespada tanggal 03 Februari 2017)
Anonim, 2014, Ketergantungan Indonesia pada
Gandum, [online], (https://singkongday.wordpress.com/2014/06/21/ketergantungan-indonesia-terhadap-impor-gandum/, diakses pada tanggal 03 Februari 2017)

No comments:
Post a Comment