Friday, May 10, 2019
☑️Misteri Kematian Dirumah Yamamoto | Menulis Dapat Menghasilkan Karya
"Akhh,,, mana mungkin sih, lu percaya takhayul aja," ucapku lalu menyenderkan tubuhku ke kursi sambil membaca komik Naruto yang aku beli kemarin. Aku bahkan tidak percaya dengan apa yang diceritakan teman-teman sekelasku. Takhyul. Mitos. Mana mungkin ada hantu yang menewaskan seluruh keluarga dalam satu malam. "Itu bukanlah hantu, kalo dipikir secara logis, itu pasti pembunuhan berencana," lanjutku setelah Edi menyelesaikan ceritanya.
"Kamu, Vin, nggak percayaan amat. Jelas-jelas hantu yang ngelakuinnya. Nggak diketemukan jejak tangan atau hasil cekikan atau luka pada seluruh tubuh korban. Hanya saja semua korban melotot kayak ngeliat hantu, bro. Jadi, kalo manusia 'kan yang ngelakuinnya, nggak mungkin pada melotot korbannya," jelas Edi panjang lebar membela ceritanya mengenai rumah Yamamoto yang katanya menewaskan seluruh isi rumah dan menurut gue itu jelas-jelas nggak masuk akal.
Edi, teman sekelasku yang memang sering menceritakan kisah misteri, mitos dan lain-lain setiap hari di kelas sebelum pelajaran dimulai. Dia bahkan berani membuktikan apa yang dia ceritakan itu benar terjadi. Namun karena semua teman-teman pada percaya, maka niat untuk membuktikan tidak pernah terlaksanakan.
"Lu mau bukti, Vin? Ayo kita kerumah Yamamoto sebentar malam?" Edi mengajakku untuk membuktikan ucapannya setelah mata pelajaran hari ini selesai.
"Ngapaink? Nggak ah,," aku hanya merapikan buku-buku yang berserakan di meja lalu memasukkannya ke dalam tas ranselku.
"Lu takut ya, Vin?" ejek Edi sambil terkekeh kecil.
"Hah, takut? Nggak mungkin,"
"Bilang aja lu takut,," ejek Edi.
"Oke, malam ini ayo kita buktikan. Lu kerumah gue aja, nanti kita kerumah Yamamoto yang lu ceritain tadi," aku masih memasukkan pensil serta pulpen ke dalam saku tas sekolahku.
"Tunggu gue di rumah lu ya,," Edi lalu pergi meninggalkanku sendirian.
***
"Gimana? Lu berani nggak?" Edi menatapku sambil tersenyum manis. Ekspresinya membuatku semakin mantap menjawab "Ya".
"Disini rumahnya, lihat disamping lu," tunjuk Edi kearah rumah tua yang tak berpenghuni disamping kananku. Rumah yang gelap tanpa satu titik cahaya yang meneranginya. Kami keluar dari mobil sambil membawa senter kecil sebagai penerang jalan.
"Gue tanya lagi, lo sanggup dan berani nggak?" ejek Edi. Ejekan Edi mulai memberi semangat untukku dan mengangguk yakin.
Kami berdua berjalam bersama memasuki rumah yang terkenal angker oleh banyak orang-orang. Penjelajahan dimulai. Edi menunjukkan sebercak darah di lantai, "Lihat tuh, darah pembantu Yamamoto,". Aku hanya mengangguk dan memperhatikan darah yang sudah kering itu. "Katanya, makhluk hitam legam bersembunyi di dapur sana, dengan pisau yang mengilap," Edi menyinari dapur yang berantakan jauh di sana. Aku bahkan berani mendekat dan mengecek dapur yang dikatakan Edi padaku. Bau anyir menyeruak tajam hingga aku harus menutup hidungku dengan tanganku.
"Lihat, itu rambut sang istri Yamamoto," senter Edi pada beberapa helai rambut yang ada dilantai.
"Ayo kita ke kamarnya?" ucapku pada Edi yang masih saja menyenter beberapa helai rambut dilantai.
"Kamu berani?" tanya Edi dengan wajah agak serius. "Kata orang-orang sih, hantu anak Yamamoto masih sering menampakkan dirinya dikamarnya. Kamu tahu nggak, dia anak perempuan umur enam tahun yang dikabarkan menghilang dan tak ditemukan. Orang-orang bilang sih disembunyiin setan, ih ngeri deh," ucap Edi dengan wajah agak takut.
"Kamu takut ya Ed'," ejekku. Edi memang terkenal karena tidak takutnya dengan hal-hal gaib seperti ini. Namun yang kulihat berbeda. Raut wajahnya mulai merasa takut. Tapi aku yakin dia menyembunyikan ketakutannya itu dari rasa berani yang dimilikinya.
"Siapa takut!" ucap Edi dengan enteng.
Kami berdua lalu menuju ke kamar anak perempuan Yamamoto. "Kata orang-orang sih, disini. Ya pasti disini, pintunya memiliki manik-manik kan," oceh Edi yang dari tadi menjelaskan apa saja info yang dia dapat dari orang-orang. Kami lalu memasuki kamar itu. Kamar yang sangat berantakan. Banyak buku-buku berserakan dilantai. Ada yang masih utuh, ada pula yang sudah berpisah dan robek bahkan ada yang kotor dan penuh dengan debu. Tampakanya rumah ini sudah lama tak dihuni.
"Hei Vin, sini, lihat tuh," Edi menyenter sesuatu. Aku lalu mendekat dan melihat secara seksama. Dia menyenter sesuatu yang tampak seperti anak kecil yang sedang bersembunyi dari sesuatu. "Boneka itu tampak seperti hidup," ucap Edi pada sosok yang disenternya itu. Ternyata dia menyenter boneka yang duduk pada sofa yang dibelakangnya tampak anak kecil itu sedang bersembunyi. Dengan rasa penasaran dan tak yakin aku melihat anak kecil disana bersembunyi, aku lalu mendekat dan menyenternya.
"Astaga," aku kaget. Edi lalu menghampiriku dan terlihat mukanya yang tampak kaku ketakutan itu. Aku menyenter anak Yamamoto yang lama hilang itu. Edi menatapku dengan rasa ketakutan. Aku rasa dia bukanlah hantu namun manusia yang masih bersembunyi ditempat ini. Aku lalu mendekat dan memberinya senyuman agar dia tidak takut padaku.
"Adek kok ada disini malam-malam?" ucapku. Dia hanya menatapku tanpa berkata apa-apa. Aku bertanya kembali dan tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Vin, kok dia ada disini? Bukannya kata orang-orang dia hilang dan tak diketemmukan. Tapi kok dia disini," ucap Edi padaku.
"Nggak tau juga Ed,"
"Ayo kita pergi dari sini," ucapku pada anak kecil itu. Dia tersenyum lalu mengucapkan kalimat pertama dari mulutnya, "Jangan kak, nanti dia menemukan kita,".
"Dia? Dia siapa dek?" tanyaku kembali padanya. Edi hanya menatapi anak itu.
"Monster," ucapnya. Aku dan Edi berpandangan. Monster? Monster apa? Tanyaku dalam hati. Aku menoleh kembali pada anak itu, dan dia tidak ada disana. Dia menghilang. Kami hanya menemukan sebuah boneka dengan kertas disampingnya. Dikertas itu bergambar sebuah makhluk raksasa hitam legam dengan mata mengarah kepada dua orang pemuda yang memegang kertas. Yap, itu kami. Nyawa kami terancam. Kami berdua berlari turun dan keluar dari rumah. Tidak jauh dari rumah Yamamoto, terlihat satu keluarga tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku.
"Jangan kembali lagi, kalian tidak boleh kemari. Makhluk itu masih disini," teriak sang kepala keluarga yang tak lain adalah Yamamoto sendiri. Mereka menyelamatkan kami berdua. Oh tidak, Edi ada dimana? Aku tak menemukan Edi disekitarku. Baru aku akan kembali ke rumah itu untuk mencari Edi, nada sms berbunyi dibalik saku celanaku. "Maaf, aku nggak bisa kerumah itu, mami melarangku keluar rumah malam ini, nanti besok ya, ok," aku merasa ngeri saat melihat nama pemilik sms itu, Edi.
***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Ads
loading...
No comments:
Post a Comment