Friday, May 10, 2019

✔️Jadi... Mimpi yang semalam itu... | Menulis Dapat Menghasilkan Karya



Jalanku terseok-seok melewati hutan yang gelap nan sunyi itu.. Tetesan darah segar membasahi daun dan tanah kering di hutan tersebut.. Bau amis menyebar kemana-mana mengundang hewan malam datang untuk berpesta.. Aungan sang serigala membuatku takut, hingga seluruh tubuhku bergetar hebat bagaikan gempa bumi yang tiada henti-hentinya..

Sekali-kali, kualihkan pandanganku kebelakang, mengawasi setiap makhluk yang akan datang menyerangku lagi... "Ohh Tuhan,, tolong aku," do'aku..

Terlihat sebuah rumah didepanku, kuhampiri rumah itu.. Hanya cahaya obor yang meneranginya.. "Oohh, aku akan selamat," pikirku.. Kunaiki tangga rumah tua itu, "ahh,, kakiku," kakiku terporosok pada anak tangga tua yang rapuh itu..

Terdengar langkah kaki dari dalam rumah itu.. "Krreeekk," suara pintu rumah tua itu perlahan mulai terbuka,, "Aaaaaaaa, jangan bunuh aku,, tolong, tolong," teriakku kencang saat kulihat makhluk gelap berdiri pas dipintu itu, makhluk gelap dengan pisau yang berlumuran darah segar menatapku tajam seakan ingin mengoyak-ngoyak tubuhku dengan pisau yang berada ditangannya...

Makhluk gelap itu mulai mendekatiku. "Tolong jangan bunuh aku," kututup mataku sambil memohon-mohon padanya..

Kurasakan tangan dingin dengan kuku panjang menyentuh pundakku, mencoba menarikku keatas dan memaksaku masuk ke dalam rumah tua itu.. Kubuka mataku perlahan, silau dengan cahaya lampu didepan mataku.. Kupandangi seorang nenek tua dengan wajah keriputnya dikursi goyang itu..

Aku ngeri, takut, bahkan tubuhku terasa kaku saat kulihat pemandangan yang saat ini ada di depan mataku.. Puluhan mayat terbaring disekitarku.. Bau amis menusuk hidungku, darah berceceran dimana-mana..

Nenek tua itu berdiri, melangkah kearahku. Kucoba untuk berdiri dan berlari, tapi kakiku masih terasa sakit, perih rasanya.. Nenek tua itu berhenti pas didepanku, tapi aku hanya diam, takut, dan menutup mataku dengan keadaan kaku seperti ini.

Terdengar bisikan kecil, "Jangan takut, aku akan membantumu keluar dari hutan ini, percayalah padaku".

Kubuka mataku, kupandangi nenek tua yang sedang berdiri didepanku ini, "Apakah kamu yang berbisik tadi ?" tanyaku.. Nenek tua itu hanya tertawa, "Hahahahaha, bisikan apa maksud kamu, akan kuberitahukan sebuah rahasia, besok, kamu akan seperti mereka yang terbaring disekitarmu, daging kamu memang lezat, pas untuk makan malam besok, hahahahaha", tawa nenek tua itu melengking dan menggema di setiap ruangan rumah tua itu.

Setelah mendengar kata per kata dari mulut nenek tua itu, diriku semakin takut, keringat dingin mulai bercucuran ditubuhku. Dalam hati aku berkata, "Ya Tuhan, apakah aku harus mati dalam keadaan tersiksa begini, tolong aku Tuhan, tolong aku,".
_____

Rasa takutku mulai sedikit berkurang ketika kulihat nenek tua itu berjalan keluar dan menghilang di balik pintu itu. Entah kemana dia pergi, aku tidak ingin tahu itu. Tapi dalam benakku, aku ingin nenek tua itu pergi dan menghilang dan tak akan kembali ke tempat ini lagi..

Kusandarkan tubuhku ke dinding yang penuh dengan tetesan darah yang belum kering itu. Kulihat pakaianku kini bercatkan sebuah darah merah cerah dan segar.

Samar-samar kulihat seorang wanita cantik dengan cahaya terang di tubuhnya datang menghampiriku.
"Siapa kamu ??" tanyaku padanya. "Aku yang telah berbisik kepadamu tadi," balasnya. "Apakah kamu akan menolongku ??" tanyaku kembali. "Ya, aku akan menolongmu. Jadi bersabarlah dan jangan takut, aku selalu ada disampingmu dan akan selalu menjagamu" balasnya lagi. "Tapi kamu siapa ??".. Tiba-tiba cahaya dari tubuh perempuan itu semakin redup, aku semakin tidak bisa melihatnya, hanya ada suara yang terdengar, "Aku adalah temanmu,"..

Aku terbangun dari mimpiku yang aneh.. "Hanya sebuah mimpi, syukurlah itu tidak benar-benar terjadi, hheemmmpp, sudah pagi juga,", tapi aku tersontak kaget, kulihat disekitarku, mayat berserakan dimana-mana, bau amis, darah segar... "aaaaaaaa, tidaaakk!!! Ini hanya mimpiii, ini tidak nyataaa,"..

Terlihat nenek tua itu datang dengan sebungkus nasi dan daging ayam didalamnya. Dia melemparkannya padaku, "Makanlah sebelum kamu kumakan, kenyangkanlah dirimu sebelum aku lapar hari ini.. Hahahahaha."

Kuambil nasi bungkus itu, kubuka dan ternyata itu adalah makanan kesukaanku.. Kusantap makanan itu dengan tergesa-gesa sampai aku tersedak, minumannya adalah jus apel merah yang segar dan manis.. Aku kenyang sekali, hanya ada sedikit yang tersisa di nasi bungkus itu..

Ternyata yang terlihat bukanlah asli melainkan sesuatu yang menjijikkan. Terlihat ulat-ulat gemuk bergulat dengan cacing-cacing panjang yang penuh dengan daging busuk dengan lalat diatasnya.. Darah merah segar berada dalam gelas itu.

Kumuntahkan semua makanan tadi,, kurasakan cacing dan ulat mulai saling beradu kecepatan siapa yang keluar duluan.. Tidak ingin kalah, segumpal darah segar mengalir keluar dari mulutku dan kumuntahkan. Mulutku penuh darah.. Darah itu mulai menetes membasahi celanaku..

Aku bagaikan vampir yang baru saja menghisap darah dari seseorang..

"Apa kamu kenyang?? Hahahaha," kata sang nenek tua itu padaku sambil tertawa terbahak-bahak..
Sebuah bisikan terdengar kembali ditelingaku, "Kamu lihat tombak disampingmu itu, ambil lalu tusukkan pas dijantungnya.". Kulihat sebuah tombak dekat dengan tanganku, perlahan-lahan kuambil agar tidak dicurigai oleh nenek tua yang keriput itu. Dan, "Bless," tombak itu menembus kulit nenek tua itu.. Kulihat dia kesakitan, sangat kesakitan, tubuhnya mulai bergetar hebat, dia terjatuh tersungkur dengan tombak dijantungnya.. "A'.. A'.. A'..," itulah kata-kata terakhir yang dia ucapkan dengan perlahan sebelum ajal menjemputnya.

Kulihat sesuatu bayangan mendatangiku, ah, ternyata itu adalah wanita cantik yang telah menolongku dengan bisikannya.. "Ayo kita pergi??" katanya padaku.. "Kemana??" tanyaku.. "Kamu ikut saja, ayo kemarikan tanganmu," balasnya..

Kurasakan diriku melayang terbang tinggi, sangat tinggi, dan lebih tinggi lagi.. Terlihat sebuah kota kecil dari pemandangan di atas langit biru ini..

Tatapanku terarah pada sebuah rumah.. Rumah yang tidak asing lagi dari pikiranku.. Yaa benar, itu adalah rumahku.. Rumah dengan dinding kayu dan beratapkan genteng tua.. "Bolehkah aku kembali kerumahku itu," sambil menunjuk rumah yang kumaksud itu..

"Untuk saat ini, kamu belum boleh kesana," katanya padaku.. "Kenapa aku tidak boleh kesana??" balasku.. "Nanti kamu akan tahu jika kita sudah sampai."...

Aku hanya diam memandangi rumahku itu yang semakin hilang dan lenyap dari pandanganku...

Kulihat sebuah awan besar diatas sana... Awan yang berwarna putih bersih itu membuat diriku terpana dan kagum dengan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa..

Perlahan kecepatan terbangku berkurang.. Aku berhenti pas di awan putih itu, dalam hati aku berkata, "Ya Tuhan, betapa indahnya ciptaan-Mu ini,"..

Tanganku masih memegang wanita cantik yang mendatangangiku dan menolongku tadi... Ku ikuti langkahnya.. Hingga aku melihat bangunan megah seperti bangunan kerajaan berdiri kokoh diatas awan putih ini..

Kami berdua disambut oleh 4 wanita cantik yang membawakan pakaian putih untukku. 2 wanita cantik membawaku ke sebuah kolam yang airnya berwarna putih seputih tulang... Mereka menyuruhku untuk berendam dan mandi di kolam itu. Dan 2 wanita lainnya mengantar wanita yang membawaku ketempat ini.

Setelah memakai pakaian itu, dan tubuhku kini menjadi bersih, aku diajak kedalam kedalam bangunan megah itu.

Bangunan dengan pondasi yang kokoh itu berisi ratusan bahkan ribuan orang yang semuanya berpakaian putih duduk disetiap kursi putih dan megah. Jalanku ada di tengah-tengah mereka. Kulihat seorang kakek tua berdiri dikursi yang sangat megah yang dilapisi dengan emas mengkilap dengan dua dayang-dayang dibelakangnya. Kulihat juga wanita cantik yang membawaku kesini berdiri disampingnya.

"Kesini nak!" panggilnya. Tanpa kusadari tubuhku bergerak cepat hingga yang kusadari aku telah berdiri disampingnya yang disampingku adalah wanita cantik yang menolongku.

"Perkenalkan, ini adalah cucuku dan dia yang akan menggantikanku sebagai Raja Awan," katanya pada semua orang yang berdiri didepanku. "Hah, aku??" kataku dengan perasaan kaget.. "Ya kamu.. Kamu yang akan menggantikan Raja Awan yang kedua, jadi kamu akan menjadi Raja Awan yang ketiga.." kata sang wanita cantik yang berdiri disampingku. "Kenapa harus aku, aku bukanlah manusia dari negeri ini, aku adalah manusia biasa, tempat tinggalku ada di bawah sana." kataku. "Tapi raja telah memilihmu, tidak lama lagi raja akan pergi, dan dia memberikan kekuasaannya untukmu sebagai penggantinya,". "Tapi??". "Kamu tenang saja, saya akan memberikan kebebasan untukmu tinggal dimana saja. Tapi, kamu tetap harus ke negeri awan ini setiap hari untuk melihat situasi dan kondisi negeri awan ini.". "Baik, jika itu keputusan Raja Awan, aku tidak akan menolaknya".

Saat itu juga, aku menjadi seorang raja di atas awan putih itu.

_________________________

"Hoaaamm, sudah pagi," aku terbangun dari mimpiku yang semalam. "Ah, mimpi itu lagi,", ya mimpi itu sering terjadi di dalam tidur lelapku.. Mimpi tentang nenek tua, kerajaan, awan putih, bidadari, rumah tua, raja awan dan apalah itu. Pagi itu, aku harus cepat-cepat ke sekolah karna hari ini upacara akan dimulai sangat cepat. Ibuku sedang memasak di dapur, sedang ayah sedang menonton film kesukaannya di ruang tamu itu.

Setelah sarapan, aku langsung berangkat ke sekolah. "Ibu, Ayah, aku pergi sekolah dulu,". "Iya hati-hati di jalan.". "Iya bu!"

Kubuka pintu rumahku, dan alangkah kagetnya aku, kulihat seorang wanita cantik dan seorang laki-laki tampan berdiri di depan pintuku. "Maaf Raja, kami datang kesini untuk membantu raja.". "Jadi, mimpi yang semalam itu adalah......."

S E L E S A I

No comments:

Ads

loading...