Cerita
komik itu sangat seru, bahkan latar beserta tokoh-tokohnya membawaku kedalam
alur cerita itu dan merasakan kejadian-kejadiannya. Itu yang membuatku sering
tertarik membaca komik itu. Apalagi aku dan teman-temanku akan menonton film
yang akan tayang nanti malam. Inilah yang menjadi sebuah tantangan bagiku.
Mungkin kalian bertanya-tanya film apa yang mempunyai tantangan? Untuk
menjawabnya, baca semuanya dan Anda akan tahu film apa itu?
Memang,
ini hanyalah sebuah hiburan semata, tapi tidak bagi kami. Ini adalah sebuah
tantangan. Tantangannya yaitu siapa yang kelihatan takut, maka dia akan disuruh
melakukan apa saja yang menyangkut masalah hantu. Ya, mungkin teman-teman sudah
paham. Film ini tentang hantu (HOROR).
Tantangan
ini sering kami lakukan, bahkan semua sahabatku sudah mendapat gilirannya
kecuali aku tentunya. Ya, menurut aku sih, kenapa harus takut, biasanya film
itu dibuat-buat, hantu juga makhluk ALLAH SWT. sama seperti kita manusia jadi
kenapa harus takut!!!.
Namaku
Putri. Aku memang menyukai yang berbau mistis apalagi horor.
Malamnya
sebelum makan malam dirumahku, para sahabatku telah datang kerumah. Mereka
adalah Dion, Siti, dan Alex. Mereka sudah dikenal oleh orangtuaku, jadi mereka
tidak perlu canggung datang kerumah. Memang sudah menjadi kebiasaan kami jika
menonton film horor, pasti dirumahku. Karna khusus dikamarku terdapat sebuah TV
besar yang memang aku suruh pasang oleh ke dua orangtuaku. Dan dikamarku juga
sangat luas dan jauh dari kamar orangtuaku sehingga suara dari kamarku tidak terdengar
dari kamar orangtuaku. Aku memang anak orang kaya, tetapi aku tidak sombong
akan kekayaanku, bahkan teman-temanku ada dari kalangan bawah, tetapi aku masih
tetap berteman dengannya.
"Eh
eh, filmnya mau dimulai?" panggilku. Sahabat-sahabatku mulai meninggalkan
aktivitas yang dilakukannya dan duduk didepan tv. Pandangan kami tertuju pada
sebuah adegan pembantaian hingga darahnya terciprat kemana-mana. Kupandangi
wajah sahabatku, tapi tidak ada yang merasa takut. Begitu pula dengan Dion,
Siti, dan Alex yang memandangi wajah kami. Dan begitu seterusnya.
Satu
jam telah berlalu, tapi tidak ada dari kami yang merasa takut. "Ah, tidak
seru kalau begini," kata Dion setelah film horor itu selesai.
"Bagaimana
kalau kita buat sebuah permainan," Alex angkat bicara.
"Permainan
apa?" tanya Siti.
"Jaelangkung,"
teriakku sambil berdiri.
"Hah,
jelangkung?" bersamaan Dion, Siti, dan Alex.
"Iya,
bagaimana menurut kalian, cocokkan untuk malam yang gelap ini." lanjutku.
"Iya
bagus juga. Tapi, siapa yang takut harus disuruh apa saja yah. Tapi, permainan
ini bisa memakan korban jiwa." balas Alex.
"Ah,
ini kan hanya permainan," kataku.
"Baiklah!
Kalian semua setuju kan. Tapi, jika ada yang terluka ditanggung sendiri yah. Oh
ya, untuk menyelesaikan permainan ini, kalian harus membakar jelangkung
tersebut." kata alex.
"Iya,
kami setuju." balas Dion dan Siti.
Malam
ini ayah dan ibuku sudah tertidur dikamarnya. Lampu, kami matikan semua. Kami
hanya berbekalkan senter kecil untuk menyinari jalan kami. Sebuah boneka kayu
telah ada didepan kami. "Jelangkung Jelangkung Datang Tak Dijemput Pulang
Tak Diantar, Jelangkung Jelangkung Datang Tak Dijemput Pulang Tak Diantar,
Jelangkung Jelangkung Datang Tak Dijemput Pulang Tak Diantar,". Tiba-tiba,
boneka kayu tersebut bergerak-gerak ditangan kami berempat, lalu terbang melayang
pas ditengah-tengah kami.
"Lari,
sembunyi. Dia akan mencarimu?" kata Alex sambil lari. Kami semua ambil
langkah seribu dan mulai bersembunyi di tempat yang dirasa aman dan tidak
ditemukan oleh jelangkung. Aku dan siti bersembunyi didalam lemari pakaianku.
Kulihat
dicelah-celah lemari pakaianku ini, Dion sedang dikejar-kejar oleh jelangkung
itu. Dari belakang dion tertusuk kayu jelangkung dan jatuh tersungkur dengan
darah yang menetes. Jelangkung itupun pergi.
Aku
keluar dari lemari itu, kulihat Dion bersimbah darah. Aku menangis meneteskan
air mata, aku takut kehilangan sahabatku yang selama ini aku sukai. Aku
menangis tersedu-sedu. Aku mulai merasa takut. aku menyesal menyarankan
permainan ini. Siti mulai menenangkanku. Siti pun meneteskan air mata.
"Ayo
kita pergi dari sini," ajak Siti. "Bagaimana dengan Dion,"
kataku. "Biarkan saja, nanti kita ditemukan jelangkung itu?". Kami
pun meninggalkan Dion sendirian dikamarku.
Dalam
perjalanan turun, kulihat alex bersimbah darah. "Alex, maafkan aku.
Seharusnya kita tidak bermain jelangkung. Aku menyesal." kataku sambil
menangis. "Tidak perlu menyesal, yang penting selesaikan permainan ini,
sehingga kalian berdua akan selamat. Cepat, bakar jelangkungnya." kata
Alex sebelum meninggal. "Baik aku janji". Dari belakang Siti ditarik
oleh jelangkung sambil meminta tolong, "Putri, tolong aku". Kupegang
Siti yang telah lunglai dan pingsan dipangkuanku, lalu kukeluarkan sebuah korek
dari sakuku kemudian jelangkung itu kubakar.
Cahaya
api mulai menyinari apa yang ada disekitar rumahku. Seember air telah ada
ditanganku untuk memadamkan api jelangkung itu jika sudah terbakar habis sampai
menjadi debu. 15 menit kemudian, jelangkung itu sudah menjadi abu yang
beterbangan jika tertiup angin. "Ahhh", legah rasanya. "Tapi
bagaimana dengan Alex dan Dion?" pikirku.
Kuberlari
melangkahkan kakiku ketempat Alex, tapi tidak ada apapun disitu, kemudian
kekamarku untuk melihat Dion, tapi tidak ada apa-apa juga disitu. Kulangkahkan
kakiku memasuki kamar kedua orangtuaku. Mereka terkejut dengan keadaanku yang
acak-acakan penuh dengan keringat. Kujelaskan semuanya mulai dari awal kita
ingin menonton tv sampai Alex dan Dion terbunuh oleh permainan jelangkung yang
telah kami mainkan.
"Putri,
sadar nak. Mereka semua itu sudah tidak ada," kata ayah kepadaku.
"Apa
maksud ayah. Mereka disini yah, ada dirumah kita. Kami tadi menonton film horor
bersama, kemudian memainkan permainan jelangkung, tapi Alex dan Dion meninggal
terbunuh oleh jelangkung. Kalau ayah tidak percaya, ayo kita ketempat siti
pingsan." ajakku kepada ayah.
"Tadi
Siti ada disini yah, dia pingsan disini yah, tepat disini." kataku sambil
menunjuk tempat Siti tadi Pingsan. "Sadar nak, sadaar. Dion, Alex, dan
Siti sudah tiada, apa kamu lupa kejadian satu bulan lalu. Kalian mengalami
kecelakaan saat mau menonton film jelangkung itu 'kan. Apa kamu lupa itu."
penjelasan ayah kepadaku.
Aku
mulai meneteskan air mata memikirkan 1 bulan yang lalu, saat kami berempat
menuju bioskop dengan mengendarai mobil dan aku yang mengendarainya, tapi
dijalan kami mengalami kecelakaan terjatuh dijurang dan hanya aku yang selamat
atas kejadian itu.
Aku
mulai menangisi kejadian yang kualami tersebut. Tangisanku memuncak ketika
kulihat di tv wajah teman-temanku, sahabat-sahabatku sedang dievakuasi. Kupeluk
erat tubuh ayahku dan menangisi semua ini. Rasa sakit ini mulai kurasakan
dihatiku ketika kulihat wajah para sahabat-sahabatku.
Dua
bulan aku hanya mengurung diri dikamar dan hanya menangisi kejadian itu.
"Kenapa aku tidak mati saja bersama kalian. Kenapa aku harus selamat?
Mungkin kalian sedang menungguku, sabar kita akan bertemu sebentar lagi!"
tangisku sambil memegang pisau yang bermata tajam.
Kugores tanganku... Darah mengalir cepat
keluar… Kesadaranku pun mulai redup, mataku mulai tertutup. Aku dapat melihat
mereka bertiga memanggilku. Mereka membawaku pergi bersama, berbahagia didunia
yang sama..
Akhir
dari kehidupanku kini berakhir sampai
disini...
SELAMAT
TINGGAL...
No comments:
Post a Comment