Kudapati diriku berdiri di tempat gelap. Tiada suara, sepi, hening, dan terasa damai. Aku mulai berjalan tanpa arah. Namaku Yuki. Aku berumur 21 thn.
Lanjut cerita...
Kulihat di sudut sana ada secercah cahaya yang terlihat tampak kecil. Aku berlari menghampiri cahaya tersebut. Kuberlari,, berlari,, dan berlari.. Tapi, apa daya cahaya tersebut selalu menjauhiku.. Kini aku tergeletak duduk dan menangisi semua ini.. Dalam hatiku berkata, "Apa yang terjadi padaku sekarang, dimana Aku berada?".
Kemudian aku melihat seseorang nenek tua menghampiriku, datang dan mengangkatku.. "Sabar yah sayang! Sabar!" kata orang tersebut. "Siapa kamu..? Dimana aku sekarang ini..??" teriakku kepadanya.. "Kamu sekarang ada di tempat dunia antara kematian!." katanya.. "Hah, apa?? Jadi sekarang ini aku telah meninggal..? Kenapa...!!! Kenapa...!!!", aku pun mengguncang-guncang tubuhnya.. "Tidak sayang, kamu belum meninggal, kamu hanya berada di batas kematian. Saat ini tubuhmu ada dirumah sakit dalam keadaan Koma... Apa kamu tidak mengingat kejadian semalam...??" kata nenek tua itu kepadaku.. "Kejadian yang semalam...!!!" kataku..
Aku mulai memikirkan hal-hal yang semalam yang terjadi.. "Astaga, semalam aku...???".
Semalam, sekitar jam 8.00, aku berjalan menelusuri jalan setapak ke arah rumahku. Sesampai di rumah, aku berjalan kearah dapur untuk meneguk segelas air sekalian menghilangkan rasa hausku. Saat itu ibu dan ayahku sedang keluar kota, katanya besok mereka akan kembali, biasa orang sibuk..! Setelah dari dapur, aku pun melangkah menaiki tangga rumahku untuk menuju ke kamarku..
Dua langkah menaiki tangga, langkahku terasa berat, bahkan sangat berat. Dalam hati aku berkata, "Apa yang terjadi..?? Kenapa kakiku begini..??".. Saat itu mataku tertuju kearah kaki kiriku yang terasa berat, terlihat sesuatu bayangan tangan gelap menyentuh kakiku. Aku berteriak histeris sambil menutup mata dan membaca ayat-ayat suci alQur'an yang aku ketahui.. Hingga akhirnya, bayangan tersebut hilang dan kakiku pun tidak terasa berat lagi.. Selama ini, kejadian seperti ini baru pertama kali aku alami.
Sebelum sampai di kamar, aku samar-samar melihat seseorang berdiri di depan pintu kamarku.. Seorang anak laki-laki yang tampan, tertawa manis kearahku.. Aku tidak percaya hal ini, kugosok mataku beberapa kali dan melihat secara pasti kearah anak tersebut, dan ternyata benar, itu adalah khayalanku saja.. "Mungkin hanya halusinasiku saja..!!". Kumelangkah memasuki kamarku disertai menghidupkan lampu kamarku.. Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk dan memejamkan mataku..
Sesaat itu, kurasakan tubuhku tertiup angin. Kubuka mataku, dan sentak aku terkaget melihat bahwa diriku berdiri diatas atap rumahku. Kuingin menggerakkan tubuhku tapi tidak bisa, kurasakan tubuhku seperti didorong oleh seseorang. Perlahan sedikit demi sedikit kakiku bergerak dengan sendirinya. Hingga mencapai bagian tepi atap.. Aku hanya dapat berteriak-teriak meminta tolong.. Namun tiada satu orang pun yang menolongku...
Terdengar suara sayup-sayup memanggil di belakangku "Rasya...!! Rasya...!!! Jangan nak, Jangan sakiti kakakmu nak." kata orang itu sambil terisak-isak dan menangis.. Dalam hati aku berkata "Hah... Suara itu??".. "Mama, tolong aku maa..." teriakku penuh histeris.. Terdengar bisikan di telingaku, "Dia tidak akan bisa menolongmu... Kita akan selalu bersama, Kakak...??"... "Jangan Rasya, dia itu kakakmu, apa kamu tidak menyayangi kakakmu..??" kata Ibuku yang mengeluarkan air mata...
"Apa ibu menyayangiku..?? Ibu hanya menyayangi kakak.. Tidak dengan diriku.. Dulu, saat aku dan kakak kecil, saat kami hampir jatuh dari tempat ini,, apa ibu menolongku...?? Ibu hanya menolong kakak, dan membiarkan aku terjatuh dari tempat ini...", kata adikku... "Tidak nak, tidak...!!! Ibu menyayangi kalian berdua,, saat itu, ibu memegang tangan kalian berdua, tapi ibu tidak kuat memegang tangan kalian berdua sekaligus,, dan kejadian itupun terjadi nak... Maafkan ibu...??, kata ibuku...
"Asal ibu tahu, aku sendirian disana bu, aku tidak punya siapapun disana bu..?? Sekarang, aku akan membawa kakak bu...?? Maafkan aku bu..? Aku harus mengambil anak kesayangan ibu...!! Kata adik kecilku itu..
Kemudian tubuhku merasakan seperti di dorong... Kurasakan tubuhku melayang dan terhempas jatuh dari atap rumahku.. Kemudian akupun tidak sadarkan diri...!!!
Kutangisi semua kejadian semalam... "Nak sekarang kamu harus kembali ke tubuhmu..??" kata nenek tersebut.. "Baimana caranya nek...!" kataku. "Lihat cahaya terang disana, disana ada sebuah pintu dan masukilah.." kata nenek kepadaku sambil mengusap air mataku dan menunjuk ke arah cahaya tersebut.. "Pergilah...???"..
Akupun berlari menjauh dari nenek tersebut dan mendekati pintu yang bercahaya tersebut, lalu kumasuki...
Perlahan lahan kubuka mataku, samar-samar terlihat wajah wanita cantik yang tersenyum kepadaku sambil meneteskan air mata bahagia.. Ya, dialah ibuku yang menyayangiku dan adikku selama ini... Kasih sayangnya melebihi apapun... Akupun menyayangimu ibu..??? Terima kasih atas perjuanganmu menjagaku, mendidikku dan melindungiku selama ini...
Friday, December 12, 2014
Cerpen : Mistery Hantu Tanpa Kepala | Syamsul Bahri is Blog
Malam ini, Mario menatap langit yang penuh dengan bintang-bintang, cahaya bulan purnama terpantul ke arahnya. Di sampingnya, ada dua orang sahabatnya yang selalu setia menemaninya, mulai dari suka maupun duka... Sahabat-sahabatnya yaitu Riska dan Alvin.. Umur mereka bertiga adalah 13 thn..
Mereka bertiga tinggal di desa terpencil jauh dari daerah perkotaan.. Dulu, kehidupan di desanya sangatlah aman dan tenteram.. Tetapi sekarang amatlah berbeda, didesanya mulai terasa mencekam dan ada kasus bahwa setiap malam jum'at jam 8.00 akan ada hantu yang berjalan tanpa kepala mencari anak-anak yang masih berkeliaran di desa mereka dan menculiknya. Memang kejadian penculikan anak-anak kini sering terjadi di desa mereka dan terjadi pada malam jum'at.. Itulah semua anak-anak dilarang bepergian oleh orangtuanya pada setiap malam karena ditakutkan diculik oleh hantu tanpa kepala tersebut..
Malam ini, mereka bertiga sedang menikmati keindahan bintang-bintang di lapangan.. Ya, mereka bertiga tergolong anak-anak yang tidak takut dengan isu-isu di kampungnya.. Bahkan mereka bertiga sudah di kenal sebagai detektif di kampungnya. Sudah banyak mistery dan masalah di kampungnya yang telah mereka pecahkan dan terselesaikan..
Mario: "Heh, teman-teman. Apa kalian punya sesuatu tidak..?"
Riska: "Maksud kamu Mar..??? Aku jadi bingung..!!"
Alvin: "Mungkin maksud Mario, kita harus memecahkan mistery..?? Betul tidak Mar...??"
Mario: "Yap, betul sekali Vin.. Kamu memang langsung bisa menangkap apa yang aku maksud.. "
Riska: "Terus, mistery apa yang harus kita pecahkan..."
Mario: "Emm,, apa yah...!!"
Alvin: "Begini... Aku dapat ide.. Kalian tau kan isu di desa kita ini bahwa kalau malam jum'at ada hantu tanpa kepala yang menangkap anak-anak yang berkeliaran kalau jam 8..."
Riska: "Iya,, iya.. Aku tau itu..."
Mario: "Jadi, maksud kamu Vin kita harus mengungkap rahasia hantu tanpa kepala ini.."
Alvin: "Ya, betul sekali..."
Riska: "Kan dulu kita pernah mencoba mengungkap rahasia hantu ini, tapi alhasil kita tidak menemukan apapun.."
Alvin: "Apa salahnya mencoba dua kali...?? Kegagalan akan menjadi pengalaman bukan... Kemarin-kemarin itu akan berbeda dengan malam ini.. Kegagalan satu kali tidak akan terulang kedua kalinya apabila kita tetap berusaha kan??"
Riska: "Iya,, iya.. Terus, apa yang harus kita lakukan.."
Mario: "Begini, malam ini kan malam jum'at,, kemungkinan hantu ini akan datang.. Kan menurut isu sih begitu ceritanya.. Terus kita pecahkan misterinya malam ini juga.. Bagaimana menurut kalian...??"
Ivan: "Menurut aku sih bagus juga.. Kalau menurut kamu Iska.."
Riska: "Kalau aku sih, menurut apa kata kalian saja.."
Mario & Ivan: "Oke.."
Malam itu, mereka bertiga pun menyusun rencana..
Mario: "Lebih baik kita sembunyi disini.."
Riska: "Kalau kita ketahuan bagaimana.."
Ivan: "Kalau kita ketahuan, ya kita lari.."
Riska: "Oke.."
Mereka bertigapun menunggu hantu tanpa kepala ini di balik batu besar di lapangan.. Sekitar setengah jam mereka menuggu..
Riska: "Hantunya mana sih, kok tidak muncul-mucul juga.."
Ivan: "Sabar dong, orang sabar di sayang Tuhan..!"
Mario: "Eh, kalian lihat itu, ada seseorang yang berjalan kearah sini.."
Riska: "Mana,, mana...??"
Mario: "Itu...? Lihat, dia berjalan kemari..!"
Ivan: "I.. I... Itu hantu tanpa kepala,,!! perhatikan,, dia berjalan tanpa kepala.." dengan ekspresi kaget..
Riska: "Iya, iya, aku melihatnya.. Eh, eh, tunggu dulu,! Aku rasa dia itu bukan hantu..!"
Mario: "Kok kamu bisa beranggapan begitu..?"
Riska: "Lihat saja, kakinya tetap bersentuh dengan tanah..!! Malahan ada suara gesekan dari kakinya dengan tanah.. Kalian dengar tidak.."
Ivan: "Iya, mungkin benar kata kamu Ika.."
Mario: "Kita lihat dulu gerak-geriknya, baru kita pastikan dia itu manusia atau bukan.."
Ivan & Riska: "Baik.."
Hantu itupun berjalan melewati batu tempat mereka bertiga sembunyi.. Ketika berjalan, tidak sengaja hantu itu menginjak batu kerikik dan berkata, "Auww..."..
Riska: "Kalian dengar itu kan...
Mario: "Iya, aku dengar..."
Ivan: "Iya, aku juga dengar.."
Riska: "Sudah dipastikan, hantu ini adalah manusia.. Ayo kita ungkap, siapa dalang dari hantu ini..."
Mario & Ivan: "Baik..."
Dari belakang, Ivan membawa sebuah balok kayu dan memukul orang yang berpura-pura hantu tersebut.. Orang inipun tergeletak merintih kesakitan..
Riska: "Ayo, kalian ikat hantu bohongan ini..."
Mario: "Oke.."
Ivan: "Setelah ini, mari kita lihat siapa dibalik pakaian hantu tanpa kepala ini.."
Mereka bertiga bersama-sama membuka pakaian hantu itu.. Alangkah kagetnya mereka melihat bahwa yang berpura-pura menjadi hantu adalah tetangga baru mereka sendiri..
Mario: "Pak Somad...???"
Ivan: "Jadi, bapak yang selama ini menjadi sosok hantu yang ditakutkan warga.."
Pak Somad: "Maafkan aku nak, maafkan aku..."
Riska: "Tidak bisa dimaafkan.. Ini harus di usut ke kepolisian.."
Ivan: "Betul... Jadi, anak-anak yang bapak culik dimana sekarang..!!"
Pak Somad: "Mereka ada di gudang..."
Mario: "Jadi selama ini, gudang itu ditutup karena tempat untuk penyembunyian anak-anak yang telah diculik...?!"
Pak Somad: "Iya...."
Riska: "Udah.. Udah... Kita bawa saja pak Somad di rumah Kepala Desa.. Biar urusan ini kita berikan kepadanya..."
Mario: "Oke.."
Mereka bertigapun membawa Pak Somad ke rumah Bapak Kepala Desa yaitu Bapak Ibrahim..
Riska: "Assalamualaikum,, Pak Ibrahim, Pak Ibrahim..!!" mengetuk pintu rumah Pak Ibrahim.
Mario: "Pak, buka pak.."
Ivan: "Iya pak, ini masalah penting pak.."
Warga desa yang terusik dengan suara mereka bertiga keluar menghampiri mereka.. Alangkah kagetnya warga desa itu melihat Pak Somad diikat oleh mereka bertiga.
Bu Isma: "Heh kalian bertiga, apa kalian tau siapa yang kalian ikat itu.. Dia itu Pak Somad,, warga baru kita... Cepat lepaskan,.."
Riska: "Maaf bu, saat ini Pak Somad tidak boleh dilepaskan dulu.."
Ibu Isma: "Kenapa tidak boleh.. Apa kalian lupa, Pak Somadlah yang telah membantu warga-warga disini dalam menghadapi masalah.. Apa kamu juga lupa Riska, orangtuamu telah dibantu oleh Pak Somad, kamu lupa itu..??"
Mario: "Maaf bu,, jika Pak Somad dilepaskan, maka dia akan melarikan diri.. Hukum ini harus berjalan bu..!!"
Pak Agus: "Hukum apa maksud kamu Mario...??"
Mario: "Perlu ibu-ibu dan bapak-bapak ketahui, bahwa selama ini yang menjadi hantu tanpa kepala dan telah menculik anak-anak kalian adalah Pak Somad...!!"
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak: "Haaahh.."
Ivan: "Iya bu', pak, benar kata Mario, Pak Somadlah yang telah menjadi hantu tanpa kepala itu dan dia juga yang telah menculik anak-anak kalian. Sekarang anak-anak ibu dan bapak sekarang ada di gudang yang sudah ditutup satu bulan yang lalu itu..??"
Tidak lama kemudian, datanglah seseorang dari dalam rumah Pak Ibrahim..
Pak Ibrahim: "Ada apa ini..? Kok ribut-ribut disini..!!"
Mario: "Ini pak, pelaku teror di desa kita ini.. Kami telah menangkapnya.."
Pak Ibrahim: "Pak Somad...!!! Jadi selama ini, bapak dalang dari teror hantu tanpa kepala ini..."
Pak Somad: "Maafkan aku pak, maafkan aku... Aku juga disuruh pak...??"
Pak Ibrahim: "Siapa yang menyuruh kamu..?"
Pak Somad: "Pak Malik...!!"
Pak Ibrahim: "Pak Malik, yang dari kota itu..??"
Pak Somad: "Iya pak, saya disuruh berpura-pura menjadi hantu tanpa kepala dan menculik anak-anak yang berkeliaran pada malam jum'at.. Kemudian saya dikasih uang sebagai upahnya,, anak-anak ini akan dijadikan pengamen dan pengemis di kota pak.. Maafkan aku pak.. Maafkan aku" menangis tersedu-sedu meratapi kesalahannya.
Mario: "Pak Ibrahim, ini harus dilaporkan ke polisi pak.."
Pak Ibrahim: "Benar katamu Mario, ini harus polisi yang menuntaskannya.. Makasih ya atas bantuan kalian bertiga.. Karena kalian, teror misteri hantu tanpa kepala ini terungkap.."
Ivan: "Iya pak, ini memang adalah tugas kami bertiga... Benar kan Riska, Mario..."
Riska & Mario: "Yap, betul..."
Riska: "Sekarang, masalah ini Kami berikan kepada bapak.. Oke.."
Pak Ibrahim: "Oke..."
Saat itu, desa mereka bertiga kembali seperti semula, aman dan tenteram. Tidak ada lagi isu-isu tentang hantu tanpa kepala.. Dan mereka semua hidup bahagia..
Mereka bertiga tinggal di desa terpencil jauh dari daerah perkotaan.. Dulu, kehidupan di desanya sangatlah aman dan tenteram.. Tetapi sekarang amatlah berbeda, didesanya mulai terasa mencekam dan ada kasus bahwa setiap malam jum'at jam 8.00 akan ada hantu yang berjalan tanpa kepala mencari anak-anak yang masih berkeliaran di desa mereka dan menculiknya. Memang kejadian penculikan anak-anak kini sering terjadi di desa mereka dan terjadi pada malam jum'at.. Itulah semua anak-anak dilarang bepergian oleh orangtuanya pada setiap malam karena ditakutkan diculik oleh hantu tanpa kepala tersebut..
Malam ini, mereka bertiga sedang menikmati keindahan bintang-bintang di lapangan.. Ya, mereka bertiga tergolong anak-anak yang tidak takut dengan isu-isu di kampungnya.. Bahkan mereka bertiga sudah di kenal sebagai detektif di kampungnya. Sudah banyak mistery dan masalah di kampungnya yang telah mereka pecahkan dan terselesaikan..
Mario: "Heh, teman-teman. Apa kalian punya sesuatu tidak..?"
Riska: "Maksud kamu Mar..??? Aku jadi bingung..!!"
Alvin: "Mungkin maksud Mario, kita harus memecahkan mistery..?? Betul tidak Mar...??"
Mario: "Yap, betul sekali Vin.. Kamu memang langsung bisa menangkap apa yang aku maksud.. "
Riska: "Terus, mistery apa yang harus kita pecahkan..."
Mario: "Emm,, apa yah...!!"
Alvin: "Begini... Aku dapat ide.. Kalian tau kan isu di desa kita ini bahwa kalau malam jum'at ada hantu tanpa kepala yang menangkap anak-anak yang berkeliaran kalau jam 8..."
Riska: "Iya,, iya.. Aku tau itu..."
Mario: "Jadi, maksud kamu Vin kita harus mengungkap rahasia hantu tanpa kepala ini.."
Alvin: "Ya, betul sekali..."
Riska: "Kan dulu kita pernah mencoba mengungkap rahasia hantu ini, tapi alhasil kita tidak menemukan apapun.."
Alvin: "Apa salahnya mencoba dua kali...?? Kegagalan akan menjadi pengalaman bukan... Kemarin-kemarin itu akan berbeda dengan malam ini.. Kegagalan satu kali tidak akan terulang kedua kalinya apabila kita tetap berusaha kan??"
Riska: "Iya,, iya.. Terus, apa yang harus kita lakukan.."
Mario: "Begini, malam ini kan malam jum'at,, kemungkinan hantu ini akan datang.. Kan menurut isu sih begitu ceritanya.. Terus kita pecahkan misterinya malam ini juga.. Bagaimana menurut kalian...??"
Ivan: "Menurut aku sih bagus juga.. Kalau menurut kamu Iska.."
Riska: "Kalau aku sih, menurut apa kata kalian saja.."
Mario & Ivan: "Oke.."
Malam itu, mereka bertiga pun menyusun rencana..
Mario: "Lebih baik kita sembunyi disini.."
Riska: "Kalau kita ketahuan bagaimana.."
Ivan: "Kalau kita ketahuan, ya kita lari.."
Riska: "Oke.."
Mereka bertigapun menunggu hantu tanpa kepala ini di balik batu besar di lapangan.. Sekitar setengah jam mereka menuggu..
Riska: "Hantunya mana sih, kok tidak muncul-mucul juga.."
Ivan: "Sabar dong, orang sabar di sayang Tuhan..!"
Mario: "Eh, kalian lihat itu, ada seseorang yang berjalan kearah sini.."
Riska: "Mana,, mana...??"
Mario: "Itu...? Lihat, dia berjalan kemari..!"
Ivan: "I.. I... Itu hantu tanpa kepala,,!! perhatikan,, dia berjalan tanpa kepala.." dengan ekspresi kaget..
Riska: "Iya, iya, aku melihatnya.. Eh, eh, tunggu dulu,! Aku rasa dia itu bukan hantu..!"
Mario: "Kok kamu bisa beranggapan begitu..?"
Riska: "Lihat saja, kakinya tetap bersentuh dengan tanah..!! Malahan ada suara gesekan dari kakinya dengan tanah.. Kalian dengar tidak.."
Ivan: "Iya, mungkin benar kata kamu Ika.."
Mario: "Kita lihat dulu gerak-geriknya, baru kita pastikan dia itu manusia atau bukan.."
Ivan & Riska: "Baik.."
Hantu itupun berjalan melewati batu tempat mereka bertiga sembunyi.. Ketika berjalan, tidak sengaja hantu itu menginjak batu kerikik dan berkata, "Auww..."..
Riska: "Kalian dengar itu kan...
Mario: "Iya, aku dengar..."
Ivan: "Iya, aku juga dengar.."
Riska: "Sudah dipastikan, hantu ini adalah manusia.. Ayo kita ungkap, siapa dalang dari hantu ini..."
Mario & Ivan: "Baik..."
Dari belakang, Ivan membawa sebuah balok kayu dan memukul orang yang berpura-pura hantu tersebut.. Orang inipun tergeletak merintih kesakitan..
Riska: "Ayo, kalian ikat hantu bohongan ini..."
Mario: "Oke.."
Ivan: "Setelah ini, mari kita lihat siapa dibalik pakaian hantu tanpa kepala ini.."
Mereka bertiga bersama-sama membuka pakaian hantu itu.. Alangkah kagetnya mereka melihat bahwa yang berpura-pura menjadi hantu adalah tetangga baru mereka sendiri..
Mario: "Pak Somad...???"
Ivan: "Jadi, bapak yang selama ini menjadi sosok hantu yang ditakutkan warga.."
Pak Somad: "Maafkan aku nak, maafkan aku..."
Riska: "Tidak bisa dimaafkan.. Ini harus di usut ke kepolisian.."
Ivan: "Betul... Jadi, anak-anak yang bapak culik dimana sekarang..!!"
Pak Somad: "Mereka ada di gudang..."
Mario: "Jadi selama ini, gudang itu ditutup karena tempat untuk penyembunyian anak-anak yang telah diculik...?!"
Pak Somad: "Iya...."
Riska: "Udah.. Udah... Kita bawa saja pak Somad di rumah Kepala Desa.. Biar urusan ini kita berikan kepadanya..."
Mario: "Oke.."
Mereka bertigapun membawa Pak Somad ke rumah Bapak Kepala Desa yaitu Bapak Ibrahim..
Riska: "Assalamualaikum,, Pak Ibrahim, Pak Ibrahim..!!" mengetuk pintu rumah Pak Ibrahim.
Mario: "Pak, buka pak.."
Ivan: "Iya pak, ini masalah penting pak.."
Warga desa yang terusik dengan suara mereka bertiga keluar menghampiri mereka.. Alangkah kagetnya warga desa itu melihat Pak Somad diikat oleh mereka bertiga.
Bu Isma: "Heh kalian bertiga, apa kalian tau siapa yang kalian ikat itu.. Dia itu Pak Somad,, warga baru kita... Cepat lepaskan,.."
Riska: "Maaf bu, saat ini Pak Somad tidak boleh dilepaskan dulu.."
Ibu Isma: "Kenapa tidak boleh.. Apa kalian lupa, Pak Somadlah yang telah membantu warga-warga disini dalam menghadapi masalah.. Apa kamu juga lupa Riska, orangtuamu telah dibantu oleh Pak Somad, kamu lupa itu..??"
Mario: "Maaf bu,, jika Pak Somad dilepaskan, maka dia akan melarikan diri.. Hukum ini harus berjalan bu..!!"
Pak Agus: "Hukum apa maksud kamu Mario...??"
Mario: "Perlu ibu-ibu dan bapak-bapak ketahui, bahwa selama ini yang menjadi hantu tanpa kepala dan telah menculik anak-anak kalian adalah Pak Somad...!!"
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak: "Haaahh.."
Ivan: "Iya bu', pak, benar kata Mario, Pak Somadlah yang telah menjadi hantu tanpa kepala itu dan dia juga yang telah menculik anak-anak kalian. Sekarang anak-anak ibu dan bapak sekarang ada di gudang yang sudah ditutup satu bulan yang lalu itu..??"
Tidak lama kemudian, datanglah seseorang dari dalam rumah Pak Ibrahim..
Pak Ibrahim: "Ada apa ini..? Kok ribut-ribut disini..!!"
Mario: "Ini pak, pelaku teror di desa kita ini.. Kami telah menangkapnya.."
Pak Ibrahim: "Pak Somad...!!! Jadi selama ini, bapak dalang dari teror hantu tanpa kepala ini..."
Pak Somad: "Maafkan aku pak, maafkan aku... Aku juga disuruh pak...??"
Pak Ibrahim: "Siapa yang menyuruh kamu..?"
Pak Somad: "Pak Malik...!!"
Pak Ibrahim: "Pak Malik, yang dari kota itu..??"
Pak Somad: "Iya pak, saya disuruh berpura-pura menjadi hantu tanpa kepala dan menculik anak-anak yang berkeliaran pada malam jum'at.. Kemudian saya dikasih uang sebagai upahnya,, anak-anak ini akan dijadikan pengamen dan pengemis di kota pak.. Maafkan aku pak.. Maafkan aku" menangis tersedu-sedu meratapi kesalahannya.
Mario: "Pak Ibrahim, ini harus dilaporkan ke polisi pak.."
Pak Ibrahim: "Benar katamu Mario, ini harus polisi yang menuntaskannya.. Makasih ya atas bantuan kalian bertiga.. Karena kalian, teror misteri hantu tanpa kepala ini terungkap.."
Ivan: "Iya pak, ini memang adalah tugas kami bertiga... Benar kan Riska, Mario..."
Riska & Mario: "Yap, betul..."
Riska: "Sekarang, masalah ini Kami berikan kepada bapak.. Oke.."
Pak Ibrahim: "Oke..."
Saat itu, desa mereka bertiga kembali seperti semula, aman dan tenteram. Tidak ada lagi isu-isu tentang hantu tanpa kepala.. Dan mereka semua hidup bahagia..
Puisi : Kehidupan | Syamsul Bahri is Blog
Hidup ini bagaikan daun-daun yang tertiup angin
Tidak jelas akan terhempas kemana
Hidup ini bagaikan batu yang keras
Tapi mudah hancur oleh tetesan air
Hidup ini bagaikan pohon yang besar
Tapi akan tumbang oleh terpaan angin
Kehidupan sekarang tidaklah sama dengan kehidupan yang dulunya
Kenangan masa lalu hanya dapat terbayang dipikiran saja
Tapi walaupun begitu, itu tidak akan mengubah apa-apa
Tidak ada kata-kata penyesalan
Yang ada hanya semangat dan tetap semangat
Yang dulunya ceria kini menjadi murung
Yang dulunya kebahagiaan kini menjadi kesedihan
Yang dulunya bersama kini harus terpisah
Memang begitulah hidup
Tidak bisa ditebak bagaimana akhir kejadiannya
by "Syamsul Bahri"
Tidak jelas akan terhempas kemana
Hidup ini bagaikan batu yang keras
Tapi mudah hancur oleh tetesan air
Hidup ini bagaikan pohon yang besar
Tapi akan tumbang oleh terpaan angin
Kehidupan sekarang tidaklah sama dengan kehidupan yang dulunya
Kenangan masa lalu hanya dapat terbayang dipikiran saja
Tapi walaupun begitu, itu tidak akan mengubah apa-apa
Tidak ada kata-kata penyesalan
Yang ada hanya semangat dan tetap semangat
Yang dulunya ceria kini menjadi murung
Yang dulunya kebahagiaan kini menjadi kesedihan
Yang dulunya bersama kini harus terpisah
Memang begitulah hidup
Tidak bisa ditebak bagaimana akhir kejadiannya
by "Syamsul Bahri"
Subscribe to:
Comments (Atom)
Ads
loading...